Tren Ekbis

Konsistensi Produksi Beras jadi Kunci Swasembada Pangan RI

  • Indonesia resmi capai swasembada pangan setelah produksi beras 2025 meningkat dan stok nasional dinilai aman tanpa impor tambahan.
Panen Padi Perdana Sukadiri - Panji 3.jpg
Namapak petani di Desa Sukadiri Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang melakukan panen padi perdana tahun ini, Senin 14 Februari 2022. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemerintah menyatakan Indonesia kembali mencapai swasembada pangan. Capaian ini terjadi seiring menguatnya tren produksi beras domestik dan penurunan ketergantungan impor. Pengumuman tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan panen raya di Karawang, Jawa Barat.

"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, hari Rabu 7 Januari tahun 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia," ucap Prabowo pada Rabu, 7 Januari 2026.

Prabowo juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun, ia menyayangkan masih adanya kebocoran pengelolaan kekayaan nasional sehingga manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas.

Menurutnya, ketergantungan terhadap impor pangan tidak sejalan dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Prabowo menilai kondisi tersebut tidak logis dan harus dihentikan, karena bangsa ini seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri tanpa bergantung pada negara lain.

"Saya tidak dapat menerima di akal sehat saya dan di hati saya, bagaimana negara yang begini makmur yang berjuang ratusan tahun untuk merdeka, tetapi kekayaannya kurang dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia," ujar Prabowo.

Secara tren, capaian swasembada pangan mencerminkan perbaikan konsisten pada sisi produksi, terutama beras, sepanjang 2025. Produksi dalam negeri dinilai mampu memenuhi kebutuhan nasional tanpa tambahan impor, sejalan dengan peningkatan hasil panen di sejumlah sentra pertanian utama.

Melansir dari laman Kementerian Pertanian, Rabu, 7 Januari 2026, BPS mencatat produksi beras nasional 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, naik sekitar 13,54% dibanding 2024. 

Data periode Januari–November 2025 menunjukkan produksi beras mencapai sekitar 60,34 juta ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat sebesar 13,55% dibandingkan Januari-Desember 2024.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim stok beras di awal tahun 2026 mencapai 12,529 juta ton. Perolehan angka ini sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton. 

Berdasarkan data tersebut, pemerintah menyatakan pasokan beras nasional berada pada level aman hingga akhir tahun. Kondisi ini menandai pergeseran dari pola sebelumnya yang masih bergantung pada impor untuk menjaga stabilitas stok.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren kebijakan pangan diarahkan pada penguatan produksi domestik melalui optimalisasi lahan, distribusi pupuk, serta penguatan peran petani dan penyuluh. Hasil panen raya di Karawang menjadi salah satu indikator nyata dari peningkatan kapasitas produksi tersebut.

Dari sisi perdagangan, swasembada pangan berimplikasi pada penekanan volume impor beras sepanjang 2025. Dengan produksi yang mencukupi, kebijakan impor tidak lagi menjadi instrumen utama dalam menjaga pasokan pangan nasional.

Tren ini juga mencerminkan stabilisasi rantai pasok pangan, di mana ketersediaan produksi dalam negeri menjadi penopang utama ketahanan pangan. Selain itu, pemerintah menegaskan bahwa swasembada pangan sebagai capaian berbasis data produksi dan stok, bukan sekadar target kebijakan semata.