Tren Ekbis

Kenapa BBM Bali Langka Meski Stok Nasional Aman?

  • Stok BBM nasional disebut aman, tetapi SPBU di Bali mengalami kelangkaan akibat kendala distribusi dan lonjakan konsumsi Pertalite. Simak penjelasannya.
images (9).jpg
Antrean BBM di SPBU Bali belum lama ini. (informasi.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali sejak awal Oktober 2026 dipicu oleh dua persoalan utama, yakni keterlambatan bongkar muat kapal tanker pengangkut BBM dan lonjakan konsumsi Pertalite. 

Kombinasi kedua faktor tersebut menghambat distribusi BBM ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), meskipun pemerintah menyatakan persediaan BBM nasional masih dalam kondisi aman.

Gangguan distribusi tersebut menyebabkan antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Bali. Antrean dilaporkan mencapai lebih dari satu kilometer di beberapa wilayah, termasuk Denpasar, Badung, Gianyar, Klungkung, Buleleng, dan Bangli. Sejumlah warga bahkan harus mengantre selama berjam-jam untuk mendapatkan BBM.

Apa Penyebab Kelangkaan BBM di Bali pada Oktober 2026?

Kelangkaan BBM di Bali terjadi akibat kombinasi kendala operasional dalam distribusi dan peningkatan konsumsi BBM bersubsidi. Gangguan pada kapal tanker membuat pasokan yang seharusnya segera didistribusikan mengalami keterlambatan, sementara tingginya permintaan Pertalite menambah tekanan terhadap persediaan di SPBU.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengungkapkan bahwa salah satu kapal tanker pengangkut BBM mengalami kesulitan memasang jangkar atau anchor. Kendala teknis tersebut berdampak pada jadwal bongkar muat kargo BBM di perairan Bali.

"Salah satu penyebab utama adalah salah satu kapal ketika kemarin pada saat untuk discharge kargo. Itu mengalami kesulitan di anchor, jangkarnya," ujar Simon, di Depo Pertamina Sanggaran, Denpasar, Bali, Rabu, 14 Oktober 2026.

Proses bongkar muat yang semula dijadwalkan berlangsung pada pukul 06.30 WITA pada Senin, 12 Oktober 2026, baru dapat terlaksana sekitar pukul 22.00 WITA. Dengan demikian, kegiatan tersebut mengalami keterlambatan sekitar 15 jam 30 menit dari jadwal semula.

Baca juga : Paradoks Gengsi dan Pernyataan Defensif dalam Penanganan Karhutla

Keterlambatan itu menghambat aliran pasokan menuju terminal BBM dan selanjutnya ke SPBU. Dalam sistem distribusi bahan bakar, ketepatan jadwal kedatangan kapal dan bongkar muat menjadi bagian penting karena pasokan yang terlambat dapat memengaruhi ketersediaan BBM untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat.

Gangguan tersebut menjadi semakin terasa ketika permintaan BBM tetap tinggi. Akibatnya, sejumlah SPBU mengalami tekanan pasokan yang memicu antrean panjang kendaraan.

Selain kendala kapal tanker, peningkatan konsumsi Pertalite turut memperberat kondisi pasokan BBM di Bali. Pertamina mengakui adanya kenaikan permintaan BBM bersubsidi tersebut yang berkaitan dengan perbedaan harga antara Pertalite dan BBM nonsubsidi, seperti Pertamax.

Disparitas harga membuat Pertalite menjadi pilihan yang lebih ekonomis bagi sebagian konsumen. Ketika selisih harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi cukup besar, konsumen memiliki insentif untuk memilih bahan bakar dengan harga lebih rendah, selama sesuai dengan ketentuan penggunaannya.

Peningkatan konsumsi tersebut dapat menambah tekanan pada persediaan di SPBU, terutama ketika pasokan baru mengalami keterlambatan. Dalam situasi normal, distribusi BBM harus mampu menyesuaikan volume pasokan dengan kebutuhan konsumen. Namun, gangguan operasional kapal tanker membuat penyesuaian itu menjadi lebih sulit.

Kombinasi kenaikan permintaan dan keterlambatan pasokan menyebabkan stok di sejumlah SPBU lebih cepat terserap. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa kelangkaan dapat terjadi di tingkat daerah meskipun persediaan BBM secara nasional masih tersedia.

Baca juga : Asthara Skyfront City Hadirkan Show Unit Terbaru

Wilayah yang Terdampak Kelangkaan BBM di Bali

Dampak kelangkaan BBM dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Bali, meliputi Denpasar, Badung, Gianyar, Klungkung, Buleleng, dan Bangli. Antrean kendaraan di beberapa SPBU bahkan dilaporkan mencapai lebih dari satu kilometer.

Warga harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar. Antrean panjang juga meningkatkan risiko keterlambatan aktivitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan kendaraan bermotor untuk bekerja, menjalankan usaha, maupun memenuhi kebutuhan transportasi.

Dampak kelangkaan tidak hanya dirasakan oleh konsumen yang membeli BBM langsung di SPBU. Sejumlah pengecer, termasuk Pertamini dan Pertashop, juga dilaporkan mengalami kekosongan stok.

Kondisi tersebut memperluas dampak gangguan distribusi karena masyarakat memiliki lebih sedikit pilihan untuk memperoleh BBM. Bagi daerah yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk mobilitas dan kegiatan ekonomi, keterbatasan pasokan bahan bakar dapat mengganggu kelancaran aktivitas masyarakat.

Meski demikian, tingkat dampak di setiap wilayah dapat berbeda, bergantung pada ketersediaan stok setempat, jadwal pengiriman, serta besarnya permintaan konsumen.

Apa Langkah Pertamina?

Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas gangguan pasokan BBM di Bali dan menyiapkan sejumlah langkah untuk mempercepat pemulihan distribusi. Upaya tersebut mencakup penambahan pasokan, percepatan penyaluran dari depo ke SPBU, serta pengoperasian SPBU strategis selama 24 jam.

Pertamina juga mengoptimalkan armada kapal yang tersedia untuk mendukung penambahan pasokan. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat pemulihan persediaan setelah keterlambatan bongkar muat kapal tanker mengganggu jadwal distribusi.

Di sisi hilir, distribusi dari depo menuju SPBU dipercepat agar BBM yang tersedia dapat segera menjangkau konsumen. Pertamina juga mengoperasikan SPBU strategis selama 24 jam di Denpasar dan Badung, dengan rencana perluasan ke Tabanan dan Gianyar.

Pengoperasian SPBU selama 24 jam diharapkan memberikan waktu pelayanan yang lebih panjang kepada masyarakat. Namun, efektivitas langkah tersebut tetap bergantung pada ketersediaan stok dan kelancaran pengiriman BBM ke setiap SPBU.

Baca juga : Siklus Ganti HP Makin Panjang, Pasar Ponsel Bekas Jadi Peluang

Untuk memulihkan ketersediaan BBM, Pertamina menjadwalkan kedatangan pasokan tambahan Pertalite melalui dua terminal BBM di Bali.

Pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar 3.000 kiloliter Pertalite dijadwalkan tiba di Terminal BBM Sanggaran, Denpasar. Selanjutnya, pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sekitar 22.000 hingga 26.000 kiloliter Pertalite dijadwalkan tiba di Terminal BBM Manggis, Karangasem.

Kedatangan pasokan tambahan tersebut diharapkan memperkuat persediaan Pertalite dan mendukung pemulihan distribusi ke SPBU yang terdampak. Meski begitu, jadwal kedatangan pasokan tidak otomatis berarti seluruh SPBU langsung kembali normal karena BBM masih harus melalui proses penyaluran ke berbagai wilayah.

Kecepatan pemulihan akan bergantung pada kelancaran bongkar muat, kapasitas penyaluran dari terminal, distribusi menggunakan armada pengangkut, serta besarnya permintaan di masing-masing daerah.