Tren Ekbis

Siklus Ganti HP Makin Panjang, Pasar Ponsel Bekas Jadi Peluang

  • Siklus ganti HP semakin panjang akibat kenaikan harga komponen. Pasar smartphone tertekan, sementara ponsel bekas dan jasa servis berpeluang tumbuh.
Ilustrasi HP Samsung Galaxy S24 FE.
Ilustrasi HP Samsung Galaxy S24 FE. (nextpit)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kebiasaan masyarakat mengganti telepon pintar atau smartphone semakin jarang menjadi tantangan bagi industri ponsel. Kenaikan harga perangkat akibat mahalnya komponen memori membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membeli HP baru, sekaligus membuka peluang bagi pasar ponsel bekas dan jasa perbaikan.

Tekanan tersebut terlihat dari kinerja pasar smartphone Indonesia. Dilansir dari laporan Counterpoint Research yang dirilis pada 20 Mei 2026, pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2026. Kenaikan harga perangkat akibat krisis pasokan memori mendorong konsumen menunda pembelian ponsel baru.

Tekanan paling besar terjadi pada segmen ponsel murah. Pengiriman perangkat dengan harga di bawah US$150 turun 19% secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini. Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas US$600 tumbuh 30% dan menyumbang 8,3% dari total pengiriman smartphone di Indonesia.

Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga dan perubahan perilaku konsumen tidak hanya memengaruhi jumlah perangkat yang terjual, tetapi juga komposisi produk yang dibeli masyarakat.

Baca juga : Rumah Makin Sulit Terbeli, Pekerja Muda Diuji Sejak DP

Konsumen Menunda Ganti HP karena Harga Semakin Mahal

Salah satu perubahan penting dalam industri smartphone adalah kecenderungan konsumen mempertahankan perangkat lebih lama sebelum membeli model baru.

Konsumen semakin mempertimbangkan daya tahan dan nilai guna perangkat. Ponsel yang mampu digunakan selama tiga hingga empat tahun dengan performa memadai menjadi pertimbangan penting ketika harga perangkat meningkat.

Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya biaya produksi smartphone, terutama akibat kenaikan harga RAM dan komponen penyimpanan. Produsen menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga jual, menekan margin keuntungan, atau menyesuaikan spesifikasi dan portofolio produk.

Dampaknya paling terasa bagi konsumen yang mengandalkan ponsel kelas bawah dan menengah. Ketika harga perangkat baru semakin mahal, sebagian konsumen memilih mempertahankan HP lama selama masih berfungsi, sementara lainnya mempertimbangkan perangkat bekas sebagai alternatif.

Pelemahan permintaan menjadi tantangan bagi produsen dan distributor smartphone. Pada kuartal I 2026, pengiriman smartphone Indonesia turun 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut juga tercermin dalam penjualan smartphone pada segmen harga di bawah Rp2 juta. Kenaikan harga perangkat dan tekanan daya beli membuat konsumen semakin selektif dalam menentukan waktu pembelian.

Kenaikan harga menjadi salah satu faktor yang menekan daya beli konsumen. Harga smartphone di Indonesia dilaporkan meningkat sekitar 10%–20% dibandingkan akhir 2025, menurut Asosiasi Pengusaha Smartphone Indonesia (APSI).

Di tengah tekanan tersebut, produsen perlu menyesuaikan strategi penjualan. Mengandalkan peluncuran model baru saja tidak cukup apabila konsumen menilai peningkatan spesifikasi belum sebanding dengan kenaikan harga.

Baca juga : 52 Perusahaan Malaysia-Singapura Diduga Terkait Karhutla, Siapa Pemiliknya?

Ponsel Bekas Menjadi Alternatif bagi Konsumen

Ketika harga smartphone baru meningkat, pasar ponsel bekas berpotensi memperoleh keuntungan dari perubahan perilaku konsumen. Perangkat bekas memungkinkan pembeli mendapatkan spesifikasi lebih tinggi dengan harga lebih rendah dibandingkan membeli model baru yang setara.

Perkembangan pasar ponsel bekas juga terlihat secara global. Pasar sekunder smartphone terorganisasi tumbuh 4% secara tahunan pada kuartal I 2026. Pertumbuhan pasar tersebut diperkirakan berlanjut sepanjang tahun seiring konsumen mencari alternatif perangkat yang lebih terjangkau.

Di Indonesia, peluang pasar bekas dapat berasal dari dua kelompok konsumen. Kelompok pertama mencari smartphone dengan harga terjangkau untuk memenuhi kebutuhan komunikasi sehari-hari. Kelompok kedua memburu perangkat kelas atas generasi sebelumnya demi mendapatkan fitur premium dengan biaya lebih rendah.

Meski demikian, transaksi ponsel bekas tetap memiliki risiko, mulai dari kondisi baterai, riwayat perbaikan, keaslian komponen, hingga status garansi. Karena itu, transparansi kondisi perangkat dan layanan pemeriksaan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen.

Industri Smartphone Bergeser dari Penjualan Unit ke Nilai Guna

Memanjangnya siklus ganti HP bukan sekadar perubahan kebiasaan belanja, melainkan tantangan bagi keseluruhan ekosistem smartphone. Produsen menghadapi tekanan pengiriman, pedagang perlu menyesuaikan strategi persediaan, sementara konsumen semakin mempertimbangkan harga dan masa pakai perangkat.

Pada saat yang sama, pasar ponsel bekas dan jasa perbaikan berpotensi berkembang karena keduanya menawarkan cara yang lebih ekonomis untuk memenuhi kebutuhan teknologi.

Ke depan, daya saing industri smartphone tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meluncurkan model baru, tetapi juga oleh daya tahan produk, harga yang sesuai dengan kemampuan konsumen, ketersediaan suku cadang, serta kualitas layanan setelah pembelian.

Bagi konsumen, mempertahankan HP lama dapat menjadi pilihan ekonomis selama perangkat masih aman, mendapat pembaruan yang diperlukan, dan mampu menjalankan aplikasi sehari-hari. Bagi industri, perubahan tersebut menuntut strategi bisnis yang lebih adaptif terhadap konsumen yang semakin selektif dalam membelanjakan uangnya.