InJourney Airports Dorong UMKM Labuan Bajo Naik Kelas di Era Digital
- InJourney Airports membekali 30 UMKM Labuan Bajo dengan literasi keuangan, digitalisasi, branding, pemasaran digital, dan AI melalui program ICH 2026.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo membuka peluang ekonomi yang semakin besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi, dan memasarkan produk secara digital.
Hal itu menjadi perhatian InJourney Airports melalui program InJourney Airports Creativity House (ICH) 2026. Program pemberdayaan tersebut digelar pada 5-6 Agustus 2026 dan diikuti 30 pelaku UMKM di Labuan Bajo.
Kegiatan tersebut menjadi tahap awal dari rangkaian pembekalan dan pendampingan selama satu bulan. InJourney Airports menggandeng Penakita sebagai mitra pelaksana program serta MitMe.id sebagai penyedia solusi digital sekaligus trainer bagi peserta.
Program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan pelaku usaha, tetapi juga mendorong perubahan dalam cara UMKM mengelola bisnis.
Pengelolaan keuangan yang lebih tertib dan pemanfaatan teknologi digital menjadi dua kemampuan yang dinilai penting untuk memperkuat daya saing UMKM di tengah berkembangnya Labuan Bajo sebagai destinasi wisata.
CSR & General Service Group Head InJourney Airports Meiske Margaretha Sigarlak mengatakan, pemberdayaan UMKM perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pelaku usaha tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu menerapkannya dalam kegiatan bisnis sehari-hari.
“Melalui InJourney Airports Creativity House, kami tidak sekadar memberikan teori. Kami ingin membangun ekosistem di mana pelaku UMKM memiliki pondasi keuangan yang kokoh dan kemahiran digital yang aplikatif. Fokus kami adalah keberlanjutan, memastikan mereka siap menangkap peluang ekonomi di destinasi wisata premium seperti Labuan Bajo,” ujar Meiske.
Pengelolaan Keuangan
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan keuangan usaha. Salah satu praktik yang dilakukan adalah pencatatan transaksi menggunakan aplikasi MitMe Kasir.
Materi tersebut diarahkan agar pelaku UMKM mulai membangun kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Dengan pencatatan yang lebih tertib, pelaku usaha dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi keuangan dan perkembangan bisnisnya.
Sementara pada hari kedua, pembekalan berfokus pada branding dan pemasaran digital. Peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung aktivitas pemasaran.
Teknologi AI diperkenalkan melalui praktik yang sederhana, mulai dari mencari ide promosi, membuat materi visual hingga menyusun caption untuk kebutuhan pemasaran. Pendekatan tersebut memungkinkan pelaku UMKM memanfaatkan teknologi tanpa harus memiliki kemampuan teknis yang kompleks.
Founder MitMe.id Adhitya Noviardi mengatakan digitalisasi seharusnya membuat aktivitas usaha menjadi lebih sederhana, bukan justru menambah beban bagi pelaku UMKM.
“Teknologi seharusnya menjadi alat yang memudahkan pelaku usaha. Mulai dari pencatatan keuangan hingga pembuatan konten promosi, seluruhnya kini dapat dilakukan dengan lebih cepat melalui pemanfaatan aplikasi digital dan AI yang mudah diakses,” jelas Adhitya.
Selain pelatihan bersama, peserta juga memperoleh kesempatan mengikuti Business Clinic. Melalui sesi konsultasi secara individual, pelaku usaha dapat membahas persoalan yang mereka hadapi langsung dengan trainer UMKM MitMe.id.
Model pendampingan tersebut membuat materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing bisnis. Persoalan seperti pencatatan keuangan, pemasaran, branding hingga pemanfaatan teknologi dapat dibahas berdasarkan kebutuhan peserta.
Pendampingan dan Konsultasi Lanjutan
Setelah pelatihan selama dua hari, proses pembinaan berlanjut selama satu bulan melalui pendampingan yang dikelola Penakita. Peserta akan mendapatkan monitoring pencatatan keuangan harian, webinar pengembangan usaha, konsultasi lanjutan serta evaluasi perkembangan bisnis.
Perkembangan peserta juga dipantau melalui Dashboard MitMe Naik Kelas. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan asesmen awal dan akhir, konsistensi pencatatan keuangan, penerapan hasil pendampingan, serta kesiapan digitalisasi masing-masing UMKM.
Pada akhir program, InJourney Airports akan memilih UMKM yang menunjukkan perkembangan paling signifikan untuk memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan lanjutan dari perusahaan.
Bagi Labuan Bajo, penguatan kapasitas UMKM menjadi semakin relevan seiring perkembangan kawasan tersebut sebagai salah satu destinasi pariwisata utama Indonesia. Pertumbuhan jumlah wisatawan dan aktivitas ekonomi menciptakan pasar baru bagi produk kuliner, kerajinan, fesyen, jasa, hingga berbagai produk ekonomi kreatif lokal.
Namun, kemampuan UMKM dalam menangkap peluang tersebut tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk. Pengelolaan keuangan, kemampuan membaca pasar, pemasaran digital, serta kesiapan mengadopsi teknologi turut menentukan apakah pelaku usaha dapat bertahan dan berkembang ketika persaingan semakin ketat.
Melalui ICH 2026, InJourney Airports berupaya membangun kemampuan tersebut sejak dari sisi fundamental. Program tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan dan pengukuran perkembangan usaha.
Kolaborasi dengan Penakita dan MitMe.id juga memperluas pendekatan program, dengan menggabungkan penguatan kapasitas bisnis, literasi keuangan, digitalisasi, serta evaluasi perkembangan UMKM.
InJourney Airports berharap rangkaian pembinaan tersebut dapat melahirkan pelaku UMKM yang lebih adaptif terhadap teknologi, memiliki tata kelola usaha yang lebih baik, dan mampu memanfaatkan pertumbuhan ekonomi pariwisata Labuan Bajo untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
