Tren Ekbis

IHSG Anjlok 26 Persen YTD, Bursa Paling Buruk di Dunia

  • Koreksi tajam IHSG membawa Indonesia menjadi pasar saham terburuk dunia tahun ini. Level 5.880–5.900 kini menjadi support penting yang diawasi investor.
IHSG Ditutup Menguat-4.jpg
Karyawan beraktivitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat sejarah kelam pada 2026, jatuh ke posisi paling bawah dari 92 indeks saham utama dunia. Pada perdagangan Jumat 22, Mei, 2926 pagi, indeks sempat menyentuh 5.966. 

Kondisi Demikian bukan sekadar koreksi teknikal biasa. Tapi bisa jadi cerminan kekhawatiran struktural yang menumpuk dalam waktu sangat singkat.

Data hari ini:

  • IHSG sempat sentuh intraday low: 5.966
  • Koreksi YTD 2026: −26,3% (dari level 8.626 awal Januari)
  • Net sell asing YTD: Rp51 triliun (akumulasi Januari–Mei 2026)

Perbandingan kinerja bursa global YTD 2026:

Asia Pasifik, dari terbaik ke terburuk:

  • KOSPI Korea Selatan: +53,7%
  • TSE Taiwan: +34,4%
  • Nikkei 225 Jepang: +18,6%
  • SSE Composite China: +2,8%
  • Hang Seng Hong Kong: +1,36%
  • All Ordinaries Australia: −0,14%
  • Sensex India: −10,04%
  • IHSG Indonesia: −26,3% ← juru kunci Asia Pasifik (peringkat 13 dari 13)

Eropa & lainnya:

  • DAX Jerman: −2,78%
  • SA40 Afrika Selatan: −1,89%
  • SEMDEX Mauritius: −4,07%
  • NZX50 Selandia Baru: −5,8%
  • ISEQ Irlandia: −6,45%
  • PFTS Ukraina: −6,96%

Amerika:

  • S&P 500 AS: +12%
  • Dow Jones AS: sekitar +10%

Posisi IHSG saat ini jadi sorotan global. Dari 92 indeks saham yang dipantau Bloomberg, IHSG berada di posisi paling buncit dan menjadi satu-satunya indeks yang terkoreksi lebih dari 20% secara year to date (YTD). 

Sebagai perbandingan, indeks dengan pelemahan terbesar kedua yakni Nifty 50 hanya turun sekitar 9,6%, atau kurang dari separuh koreksi IHSG.

Di kawasan regional, performa IHSG juga tertinggal paling bawah. Di ASEAN, IHSG menempati posisi 6 dari 6 indeks utama, sementara di Asia Pasifik berada di peringkat 13 dari 13. 

Secara global, Bursa Efek Indonesia bahkan tercatat di posisi 35 dari 36 bursa versi World Federation of Exchanges (WFE), atau terakhir dari 92 indeks versi Bloomberg.

Baca juga : MDKA dan AADI Naik di Tengah Indeks LQ45 yang Masih Lemas

Akar masalah: tiga gelombang tekanan

Gelombang pertama, Pukulan MSCI (Januari–Februari 2026):

  • MSCI pada 27 Januari 2026 membekukan sementara rebalancing pasar Indonesia
  • Alasan: isu transparansi free float dan struktur kepemilikan saham konglomerat
  • Dana asing langsung keluar, IHSG ambruk hampir 8% dalam sepekan
  • Kapitalisasi pasar menguap lebih dari Rp706 triliun

Gelombang kedua, Penurunan outlook Moody's:

  • Moody's memangkas outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif
  • Sinyal risiko kredit negara meningkat
  • Dua pukulan dalam waktu berdekatan memperparah kepanikan investor asing

Gelombang ketiga, Tekanan domestik berlapis (Mei 2026):

  • Rencana pembentukan badan pengatur ekspor SDA satu pintu lewat Danantara
  • Kenaikan suku bunga Bank Indonesia di atas konsensus
  • Rupiah melemah ke Rp17.655 per dolar AS
  • Defisit APBN yang menguras kepercayaan pasar

Saham-saham yang paling terpukul:

  • BREN (Barito Renewables): anjlok 18,45% dalam satu pekan
  • AMMN (Amman Mineral): turun 19,18% dalam satu pekan
  • DSSA (Dian Swastatika): melemah 11,24% dalam satu pekan
  • BBRI: terkoreksi lebih dari 10% sejak awal tahun
  • BMRI: terkoreksi lebih dari 10% sejak awal tahun
  • ICBP: merosot 27,91% YTD
  • ADRO: merosot 25,51% YTD

Agenda kritis: 29 Mei 2026

MSCI mengumumkan hasil May 2026 Index Review pada 12 Mei 2026. Perubahan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.

Yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index:

  • AMMN (Amman Mineral Internasional)
  • BREN (Barito Renewables Energy)
  • TPIA (Chandra Asri Pacific)
  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa)
  • CUAN (Petrindo Jaya Kreasi)
  • AMRT (Sumber Alfaria Trijaya), dipindah ke Small Cap

Perombakan indeks MSCI kembali memberi tekanan bagi pasar saham domestik. Sebanyak 19 saham Indonesia tercatat keluar dari indeks MSCI, termasuk 13 emiten yang dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index. Dalam review kali ini, tidak ada satu pun saham Indonesia yang masuk sebagai konstituen baru.

Dampaknya diperkirakan cukup besar terhadap arus dana asing. Potensi passive outflow diproyeksikan mencapai sekitar US$1,8 miliar atau setara Rp31,5 triliun, dengan eksekusi diperkirakan terjadi dalam satu sesi perdagangan pada 29 Mei. Meski begitu, sebagian tekanan diyakini sudah lebih dulu diantisipasi pasar sebelum tanggal efektif implementasi.

Baca juga : Masih Merah, IHSG Hari Ini Dibuka Turun 0,5 Persen

Apa yang bisa terjadi setelah 29 Mei?

Setelah tanggal efektif rebalancing pada 29 Mei, tekanan jual pasif dari dana indeks global diperkirakan mulai mereda. Pasar dinilai sudah lebih dahulu melakukan penyesuaian posisi sehingga potensi tekanan lanjutan diperkirakan tidak sebesar menjelang implementasi.

Pelaku pasar kini mulai mengalihkan perhatian ke faktor fundamental domestik, mulai dari pergerakan nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, kinerja laba emiten, hingga kepastian regulasi ekspor yang dinilai akan lebih menentukan arah pasar ke depan.

Otoritas Jasa Keuangan juga meminta investor tidak bereaksi berlebihan terhadap keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI. OJK menilai rebalancing indeks merupakan proses yang wajar dalam dinamika pasar dan bagian dari mekanisme penyesuaian global.

Sementara itu, analis Syailendra Capital menilai dampak terbesar biasanya justru muncul menjelang tanggal efektif, bukan setelahnya. Dari sisi teknikal, area 5.880–5.900 menjadi support penting bagi IHSG. Jika level tersebut ditembus, tekanan pasar berpotensi semakin dalam.