Tren Ekbis

Harga Pangan Naik Jelang Ramadan, Minyak dan Gula Disorot

  • Menjelang Ramadan 2026, harga minyak goreng, beras, gula, hingga bawang tercatat naik di banyak wilayah. BPS dan Kemendag perketat pemantauan pasar.
Harga Pangan Naik Jelang Ramadan, Minyak dan Gula Disorot

JAKARTA, TRENASIA.ID - Menjelang Ramadan 2026, harga sejumlah bahan pokok strategis di Indonesia menunjukkan tren kenaikan. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa harga minyak goreng, baik curah maupun kemasan, masih berada pada level tinggi yang stabil di banyak wilayah Indonesia dan cenderung melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa dalam data mingguan, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga minyak goreng meningkat dibandingkan sebelumnya.

“Untuk minyak goreng, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harganya meningkat di minggu ketiga Januari 2026, yang sebelumnya ada 100 kabupaten/kota, di minggu ini ada 107 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH minyak goreng,” kata Pudji dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026, Senin, 19 Januari 2026.

Ia juga menjelaskan, meskipun perubahan indeks perkembangan harga (IPH) minyak goreng tergolong rendah, level harga komoditas tersebut masih berada pada level yang cukup tinggi. 

Source: ichef.bbci.co.uk

BPS mencatat, harga minyak goreng pada pekan ketiga Januari 2026 naik 0,18% menjadi Rp19.616 per liter. Harga tersebut meningkat jika dibandingkan dengan bulan Desember 2025 yang berada di level Rp19.580 per liter. Oleh karena itu, harga tersebut juga turut mengalami kenaikan IPH di 29,72% wilayah di Indonesia.

Selaras dengan dinamika minyak goreng, harga beras dan gula konsumsi juga menunjukkan kecenderungan melonjak menjelang Ramadan 2026. Pemantauan pasar nasional menunjukkan harga beras kualitas tertentu dan gula pasir mengalami tekanan naik dalam beberapa minggu terakhir.

Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra menegaskan bahwa pemantauan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan harga acuan penjualan (HAP) maupun harga eceran tertinggi (HET) yang masih tinggi. 

“Memang ada beberapa komoditas yang masih tercatat mengalami kenaikan di atas harga acuan maupun harga eceran tertinggi,” kata Nawandaru dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026.

Per 15 Januari 2026, gula pasir juga mengalami kenaikan sejak sejak pasca tahun baru hingga saat ini menjadi Rp18.300. Selain beras dan gula, beberapa komoditas protein hewani juga masih mencatatkan harga tinggi, seperti daging sapi, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Harga bawang merah dan bawang putih juga masih tinggi. Sejak november 2025, HAP mencapai Rp38.300 per kilogram dan pada pekan ketiga Januari 2026 harganya naik 1,88% menjadi Rp39.763 per kilogram. Sementara itu, harga bawang merah juga melampaui HAP Rp36.500–Rp41.600 per kilogram dan kini mencapai Rp45.930 per kilogram pada pekan ketiga Januari 2026.

Nawandaru mengungkap, kenaikan harga bawang putih terjadi secara bertahap, baik untuk grade A Kating maupun grade B Honan. “Untuk grade B juga untuk komoditas bawang putih jenis Honan ini juga mengalami kenaikan meskipun sebenarnya kenaikan secara rata-rata nasional ini dipengaruhi salah satunya adalah kenaikan yang sangat signifikan di kawasan Maluku dan Papua,” tegasnya.

Pengaruh Inflasi ke Indeks Harga Konsumen

Dalam data BPS, tercatat inflasi tahunan masih terjaga, tetapi beberapa komoditas seperti cabai rawit ikut memberikan andil dalam kenaikan indeks harga konsumen di sejumlah wilayah, khususnya kota Kediri, Jawa Timur. Menurut BPS kota Kediri, inflasi m-to-m terjadi akibat kenaikan IHK pada beberapa kelompok pengeluaran. 

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi tertinggi adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang memberikan andil inflasi sebesar 0,49% dengan kenaikan sebesar 1,72%. Komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi pada kelompok ini adalah Cabai Rawit.

Pada Desember 2025, komoditas cabai rawit di Kediri mengalami kenaikan harga cukup signifikan selama Desember 2025. Terbatasnya pasokan tersebut akibat dari pengaruh cuaca, kendala distribusi, dan kenaikan permintaan pada momen perayaan Natal serta libur akhir tahun.

Kini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan satuan tugas pengendalian pasar terus memantau kondisi ini, termasuk kesiapan pasokan di pasar dan pelaksanaan operasi pasar guna menstabilkan harga di tingkat konsumen. Pengawasan ketat perlu dilakukan agar tekanan harga tidak berdampak lebih luas selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.

Bagi konsumen, kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi masyarakat dan pelaku pasar untuk lebih waspada terhadap perkembangan harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan 2026. Pemantauan dan langkah koordinatif pemerintah diharapkan mampu menahan tekanan harga agar tidak membebani daya beli masyarakat di awal tahun.