Tren Ekbis

Fenomena Iduladha: Daging Kurban Melimpah, Ayam Ikut Ludes

  • Meski Iduladha identik dengan daging kurban, permintaan ayam justru ikut melonjak. Faktor kultural jadi salah satu penyebab ayam makin laris.
PENJUAL_DAGING_AYAM.jpg
Ilustrasi pedagang ayam potong. (Info Publik)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Menjelang Hari Raya Iduladha, permintaan daging ayam di sejumlah daerah justru ikut melonjak. Fenomena ini menarik lantaran masyarakat diperkirakan akan memperoleh distribusi daging kurban sapi maupun kambing secara gratis.

Fenomena tersebut salah satunya terlihat di Pasar 26 Ilir Palembang. Sejumlah pedagang ayam mengaku kehabisan stok sejak pagi hari karena tingginya pembelian masyarakat sehari sebelum Iduladha.

“Hari ini ramai yang beli, kami nyetok 300 kilogram tadi langsung habis sebelum pukul 08.00 WIB,” kata Aman (51), pedagang ayam di Palembang, Selasa, 26 Mei 2026, dikutip dari Wongkito.co.

Warga bahkan membeli dalam jumlah cukup besar, mulai dari 5 kilogram per transaksi. Harga ayam potong sendiri tercatat berada di level Rp38 ribu per kilogram. Sekilas kondisi ini tampak paradoks. 

Saat pasokan daging sapi dan kambing meningkat karena kurban, permintaan ayam seharusnya bisa turun. Namun, dalam praktiknya, pola konsumsi masyarakat Indonesia saat Iduladha justru menunjukkan hal berbeda.

Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menjelaskan konsumsi pangan masyarakat saat hari besar keagamaan biasanya meningkat secara bersamaan, bukan saling menggantikan.

Faktor Kumpul Keluarga

Menurut dia, masyarakat tetap membeli ayam karena konsumsi rumah tangga saat momen libur dan kumpul keluarga cenderung melonjak. Daging kurban juga tidak selalu langsung dikonsumsi pada hari yang sama.

“Perilaku konsumsi masyarakat saat hari raya itu bukan substitusi sempurna. Ketika daya beli untuk konsumsi meningkat, semua protein hewani biasanya ikut terdorong,” jelas Eliza dalam sejumlah kajian inflasi pangan CORE Indonesia.

Selain itu, distribusi daging kurban juga tidak merata. Tidak semua rumah tangga memperoleh bagian daging sapi atau kambing dalam jumlah cukup. Akibatnya, ayam tetap menjadi pilihan utama untuk kebutuhan memasak sehari-hari maupun stok selama libur panjang.

Ilustrasi daging ayam potong. (Chickin)

Di sisi lain, ayam dinilai lebih fleksibel untuk berbagai kebutuhan konsumsi keluarga. Banyak masyarakat tetap membeli ayam untuk menu praktis, katering, hajatan keluarga, hingga usaha kuliner yang tetap beroperasi selama Iduladha.

Fenomena serupa sebenarnya kerap muncul dalam data inflasi pangan Badan Pusat Statistik (BPS). Pada periode hari besar keagamaan nasional, kenaikan permintaan biasanya tidak hanya terjadi pada satu komoditas utama, tetapi juga merembet ke bahan pangan pendukung lain.

Di Palembang, lonjakan permintaan juga terjadi pada daging sapi yang dijual sekitar Rp170 ribu per kilogram. Tak hanya protein hewani, harga sayuran dan bumbu dapur ikut terkerek naik.

Harga buncis tercatat mencapai Rp35 ribu per kilogram, bawang merah Rp50 ribu per kilogram, bawang putih Rp32 ribu per kilogram, dan cabai merah keriting sekitar Rp64 ribu per kilogram.

Kondisi tersebut menunjukkan Iduladha bukan hanya momentum kenaikan konsumsi daging kurban, tetapi juga mendorong aktivitas belanja pangan rumah tangga secara keseluruhan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah menilai pola ini berkaitan erat dengan budaya konsumsi masyarakat Indonesia yang meningkat saat momen hari besar keagamaan.

“Ketika ada perayaan besar, rumah tangga cenderung meningkatkan belanja konsumsi, termasuk membeli lebih banyak lauk, sayur, dan bumbu dapur. Jadi bukan hanya daging kurban yang naik permintaannya,” ujar Rusli dalam kajian inflasi pangan INDEF.

Baca Juga: Cara Aman Bersihkan Daging Kurban Sebelum Dimasak

Selain faktor konsumsi, sisi pasokan juga ikut memengaruhi kenaikan harga ayam dan bahan pangan lain. Distribusi logistik menjelang libur panjang biasanya menjadi lebih terbatas karena aktivitas pengiriman berkurang dan pedagang memilih menambah stok lebih awal.

Di tingkat nasional, Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya juga mengingatkan adanya potensi kenaikan permintaan pangan menjelang Iduladha, terutama untuk komoditas protein hewani dan hortikultura.

Fenomena ayam yang tetap laris saat Iduladha menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia tidak selalu mengikuti logika ekonomi sederhana. Ketika momentum hari raya tiba, masyarakat cenderung meningkatkan belanja pangan secara bersamaan, bukan mengganti satu jenis protein dengan protein lainnya.