Tren Ekbis

Ekonomi Digital Singapura Tumbuh, AI Jadi Penggerak Utama

  • Adopsi kecerdasan buatan mendorong ekonomi digital Singapura menyumbang 18,6% PDB. Pemanfaatan AI memperluas produktivitas dan investasi teknologi.
ilustrasi-ai-2-l-min.jpg
AI (AI Hub)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Ekonomi digital Singapura pada 2024 berhasil menyumbang 18,6% dari total Produk Domestik Bruto (GDP) negara. Menurut laporan Singapore Digital Economy Report 2025 dari Infocomm Media Development Authority (IMDA), total nilai ekonomi digital tercatat mencapai sekitar S$128,1 miliar atau sekitar Rp1,3 kuadriliun.

Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh percepatan digitalisasi dan peningkatan adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku usaha di berbagai sektor. Laporan IMDA menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga kontribusi ekonomi digital datang dari sektor di luar industri informasi dan komunikasi (I&C), termasuk sektor keuangan dan asuransi, perdagangan grosir, dan manufaktur.

Hal ini menjadi sinyal bahwa digitalisasi telah merembet ke berbagai lini usaha di luar sektor teknologi murni. Melansir dari laman imda.gov.sg, Kamis, 1 Januari 2026, adopsi teknologi AI juga meningkat signifikan di antara usaha kecil dan menengah (UKM), di mana 14,5% UKM sudah mengimplementasikan AI pada 2024, naik dari 4,2% pada 2023. Sementara itu, di kalangan perusahaan non-UKM, tingkat adopsi AI mencapai 62,5%.

Apa Saja Peluangnya?

Peningkatan adopsi kecerdasan buatan (AI) di Singapura memperluas kontribusi sektor ekonomi digital terhadap produk domestik bruto (PDB). Data pemerintah Singapura menunjukkan ekonomi digital menyumbang sekitar 18,6% terhadap PDB pada 2024 tersebut, didorong oleh pemanfaatan AI pada sektor jasa keuangan, perdagangan, manufaktur, dan logistik. Angka tersebut mencerminkan pergeseran struktur ekonomi ke aktivitas berbasis teknologi dan data.

Selain itu, AI juga berdampak pada produktivitas perusahaan, khususnya melalui otomatisasi proses bisnis dan analisis data berskala besar. Dampak ini tercermin dari peningkatan nilai tambah sektor digital yang tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor non-digital.

Survei IMDA menunjukkan bahwa pemanfaatan AI turut merambah aktivitas pekerja, dengan tiga per empat tenaga kerja melaporkan penggunaan alat AI dalam pekerjaan mereka. Penerapan AI dalam fungsi seperti layanan pelanggan, keuangan, dan analisis data menjadi bagian dari strategi transformasi bisnis yang lebih luas.

Jumlah pekerja di sektor teknologi Singapura juga terus tumbuh secara pesat. Pada 2024, tenaga kerja terkait teknologi meningkat menjadi sekitar 214.000 orang, naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terutama dalam bidang AI, data, dan cybersecurity

Data tersebut menunjukkan bahwa tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga usaha kecil dan menengah semakin aktif mengintegrasikan teknologi digital, termasuk AI, ke dalam operasi harian mereka. Tingginya adopsi teknologi ini menjadi poin penting dalam memperluas kontribusi ekonomi digital secara keseluruhan di Singapura.

Pola ini menjadi gambaran bahwa integrasi AI tidak hanya berdampak pada output ekonomi, tetapi juga pada struktur pasar tenaga kerja dan investasi jangka menengah. Pendekatan berbasis pemanfaatan AI yang terukur dan terintegrasi dalam kebijakan ekonomi tersebut, dapat dijadikan sebagai contoh pengembangan ekonomi digital yang dapat dijadikan referensi bagi Indonesia dalam memperkuat kontribusi sektor teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.