Tren Ekbis

Dulu Raja Gula Dunia, Kini Impor: RI Bidik Swasembada Lagi

  • Indonesia pernah jadi eksportir gula dunia, kini impor 5–6 juta ton per tahun. Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi pada 2026 dan penuh ditahun 2028.
gula_pasir_lokal_gula_pasir_1_kg_full01_cecc1894.jpg
Gula Pasir (Blibli.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Selama bertahun-tahun, gula menjadi salah satu paradoks terbesar dalam kebijakan pangan Indonesia. Negara dengan sejarah kejayaan sebagai eksportir gula dunia justru kini bergantung pada impor dalam jumlah besar.

Namun, perubahan mulai terlihat, pemerintah menargetkan 2026 sebagai tonggak swasembada gula konsumsi, sekaligus membuka jalan menuju kemandirian penuh pada 2028.

Dalam periode 2020-2024, impor gula Indonesia tercatat mencapai 5-6 juta ton per tahun. Angka ini jauh melampaui produksi domestik yang hanya berada di kisaran 2,3-2,6 juta ton.

Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu importir gula terbesar di dunia. Ketimpangan antara produksi dan konsumsi menjadi masalah struktural yang berlangsung lama.

Namun, tren mulai berubah dalam dua tahun terakhir. Produksi meningkat, stok membaik, dan kebijakan pemerintah mulai lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Sinyal Kuat dari Pemerintah

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kedaulatan pangan menjadi prioritas nasional. Salah satu target utamanya adalah menghentikan ketergantungan impor, termasuk untuk komoditas strategis seperti gula.

Pada 2025, produksi gula nasional mencapai sekitar 2,67 juta ton. Sementara itu, kebutuhan gula konsumsi berada di kisaran 2,8 juta ton per tahun.

Yang membuat 2026 menjadi momentum penting adalah adanya stok awal (carry over) lebih dari 1,3 juta ton. Kombinasi produksi dan stok ini memungkinkan pemerintah mengambil langkah berani: tidak mengimpor gula konsumsi sepanjang 2026.

Keseimbangan antara produksi dan konsumsi mulai tercapai. Secara operasional, kondisi ini sudah dapat dikategorikan sebagai swasembada gula konsumsi.

Baca juga : Server Cloud Dorong Digitalisasi Sekolah, Ini Solusi IDCloudHost

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan optimisme bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat, bahkan berpotensi mencapai target lebih cepat dari rencana awal. Peningkatan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi terstruktur yang menyasar sektor hulu hingga hilir.

Salah satu kebijakan kunci adalah program bongkar ratoon, yaitu peremajaan tanaman tebu tua dengan varietas unggul. Selama ini, banyak lahan tebu menggunakan ratoon lama dengan produktivitas rendah. Akibatnya, hasil stagnan bahkan menurun.

Pada 2025, sekitar 100 ribu hektare lahan diremajakan, dan pada 2026 program ini diperluas hampir 100 ribu hektare tambahan. Hasilnya mulai terlihat,

  • Produktivitas meningkat dari 60 ton/ha menjadi 70–90 ton/ha
  • Rendemen gula juga menunjukkan perbaikan signifikan

Selain intensifikasi, pemerintah juga mendorong perluasan lahan tebu di luar Pulau Jawa. Langkah ini penting untuk mengatasi keterbatasan lahan sekaligus memperluas basis produksi nasional.

Lebih jauh, pemerintah tidak lagi melihat tebu hanya sebagai bahan baku gula konsumsi. Komoditas ini kini menjadi bagian dari ekosistem industri yang lebih luas, termasuk:

  • Bioetanol
  • Energi terbarukan

Hilirisasi ini meningkatkan nilai tambah sekaligus menciptakan permintaan domestik yang lebih stabil.

Sejarah Kejayaan Industri Gula Indonesia

Budidaya tebu di Nusantara sebenarnya sudah ada jauh sebelum kolonialisme. Petani lokal telah mengolah tebu secara tradisional untuk kebutuhan sendiri. 

Namun, perubahan besar terjadi saat VOC masuk pada abad ke-17 dan melihat potensi tebu sebagai komoditas ekspor bernilai tinggi. Pulau Jawa kemudian dipilih sebagai pusat produksi karena kombinasi tanah subur dan tenaga kerja melimpah. 

Pada 1830-an, pabrik gula modern pertama mulai dibangun dengan teknologi Eropa, menandai awal industrialisasi gula di Indonesia.

  • Tebu sudah dibudidayakan sebelum kolonialisme
  • VOC melihat potensi ekspor besar
  • Jawa jadi pusat produksi utama
  • Pabrik gula modern mulai 1830-an

Cultuurstelsel (1830): Mesin Eksploitasi Dimulai

Transformasi industri gula semakin masif saat Johannes van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) pada 1830. Kebijakan ini memaksa desa-desa di Jawa menyisihkan 20% lahannya untuk komoditas ekspor seperti tebu, kopi, dan teh. 

Sistem ini mengubah lanskap pertanian rakyat menjadi perkebunan besar yang menopang ekonomi kolonial. Pada pertengahan abad ke-19, industri gula di Jawa menjadi tulang punggung pendapatan Belanda, bahkan melibatkan jutaan tenaga kerja lokal.

Catatan Penting :

  • 20% lahan wajib untuk tanaman ekspor
  • Sistem tanam paksa mengubah struktur pertanian
  • Jawa jadi produsen gula dunia
  • Sumbang 1/3 pendapatan Belanda & 4% PDB
  • Sekitar 1/4 populasi Jawa terlibat

Baca juga : Bukan Sekedar Tren, Side Hustle Kini Jadi Strategi Bertahan Hidup

UU Agraria 1870: Pintu Modal Swasta Dibuka

Setelah tanam paksa dihapus, pemerintah kolonial menerapkan sistem ekonomi liberal melalui UU Agraria 1870. Kebijakan ini membuka pintu bagi investor swasta, terutama dari Eropa, untuk masuk ke sektor perkebunan. 

Hasilnya, industri gula justru berkembang lebih cepat karena didukung modal besar dan teknologi. Pabrik-pabrik gula swasta bermunculan di seluruh Jawa, diiringi pembangunan infrastruktur pendukung yang memperkuat rantai produksi dan distribusi.

Catatan Penting :

  • Tanam paksa diganti sistem liberal
  • Modal asing masuk besar-besaran
  • Produksi gula meningkat drastis
  • Pabrik gula menyebar di Jawa
  • Infrastruktur: rel, jalan, irigasi dibangun

Puncak Kejayaan: Era 1920–1931

Masa kejayaan industri gula Indonesia terjadi pada awal abad ke-20, dengan puncaknya pada 1931. Saat itu, produksi gula mencapai sekitar 3 juta ton per tahun, dengan sebagian besar diekspor ke pasar global. 

Pulau Jawa bahkan menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Produktivitas tinggi dan rendemen yang besar membuat Indonesia mendapat julukan “Oriental Cuba” atau Kuba Timur, mencerminkan dominasi di pasar gula dunia.

Catatan Penting :

  • Produksi 3 juta ton (1931)
  • 2,4 juta ton diekspor
  • 179 pabrik gula beroperasi
  • Produktivitas tinggi (130 ton tebu/ha)
  • Rendemen 11–13,8%
  • Julukan: “Oriental Cuba”

Infrastruktur Warisan Industri Gula

Kesuksesan industri gula tidak lepas dari pembangunan infrastruktur besar-besaran oleh pemerintah kolonial. Jaringan rel kereta api dibangun untuk menghubungkan pabrik gula dengan pelabuhan ekspor, mempercepat distribusi yang sebelumnya bergantung pada transportasi darat. 

Menariknya, dampak pembangunan ini masih terasa hingga kini. Studi akademik menunjukkan wilayah bekas industri gula cenderung lebih maju secara ekonomi, dengan infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang lebih berkembang.

Catatan Penting :

  • Rel kereta hubungkan pabrik ke pelabuhan
  • Distribusi gula jadi lebih efisien
  • Dampak ekonomi jangka panjang masih terasa
  • Wilayah bekas gula lebih berkembang

Contoh pabrik gula bersejarah:

  • PG Rendeng (Kudus, 1840)
  • PG Jatiroto (Lumajang, 1901)
  • PG Sragi (Pekalongan)
  • PG Kalibagor
  • PG Jatibarang (Brebes)

Dari Eksportir ke Importir

Pasca kemerdekaan, industri gula Indonesia menghadapi berbagai tantangan, diantaranya sebagai berikut,

  • Pabrik tua dan tidak efisien
  • Keterbatasan investasi
  • Kebijakan yang belum konsisten

Akibatnya, Indonesia beralih dari eksportir besar menjadi importir. Sebagai perbandingan:

  • Impor gula hanya 4.400 ton pada 1994
  • Melonjak menjadi 1,34 juta ton pada 2004

Tren ini terus berlanjut hingga dua dekade berikutnya. Meski swasembada gula konsumsi di 2026 mulai terlihat, tantangan lebih besar masih menanti, swasembada gula nasional, termasuk kebutuhan industri, pada 2028.

Untuk mencapainya, produksi harus meningkat hingga di atas 3 juta ton per tahun. Namun, peningkatan produksi saja tidak cukup. Pembenahan tata kelola menjadi faktor krusial, meliputi:

  • Pengendalian impor secara konsisten
  • Pengawasan distribusi gula rafinasi
  • Revitalisasi pabrik gula
  • Perluasan akses pembiayaan petani (KUR)

Dari “Oriental Cuba” hingga era modern, perjalanan industri gula Indonesia penuh dinamika. Kini, peluang untuk kembali berdiri di atas kekuatan sendiri terbuka lebar dengan syarat konsistensi kebijakan tetap terjaga.