Dukung Agenda Pemberdayaan Ekonomi Danantara, KUR BRI Capai Rp103,81 T
- KUR BRI mencapai Rp103,81 triliun hingga Juni 2026 kepada 2 juta debitur. Sebanyak 487 ribu debitur telah graduasi dan naik kelas.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID--PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperluas akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp103,81 triliun kepada sekitar 2 juta debitur di berbagai daerah Indonesia.
Realisasi tersebut setara dengan 54,63% dari kuota KUR BRI sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp190 triliun. Penyaluran dilakukan dengan fokus pada sektor produktif yang memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sektor pertanian menjadi penerima terbesar KUR BRI dengan porsi 42,68% dari total debitur, disusul sektor perdagangan sebesar 32,34%. Besarnya porsi sektor produktif menunjukkan peran KUR tidak hanya sebagai sumber modal bagi pelaku usaha, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput.
Bagi UMKM, tambahan modal dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, membeli bahan baku, memperluas usaha, maupun memenuhi kebutuhan operasional. Jika dikelola secara produktif, pembiayaan tersebut berpotensi meningkatkan skala bisnis sekaligus membuka kesempatan kerja baru.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan penyaluran KUR merupakan bagian dari strategi BRI dalam memperkuat daya saing UMKM sekaligus mendukung agenda pemberdayaan ekonomi dalam ekosistem Danantara Indonesia.
“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif, khususnya pertanian, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat basis ekonomi daerah dan mendukung agenda ketahanan pangan nasional," ujar Akhmad.
Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha diharapkan dapat tumbuh lebih kuat dan menciptakan lapangan kerja. “Serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional,” imbuhnya.
Hampir 500 Ribu Debitur KUR Naik Kelas
Salah satu indikator penting dalam penyaluran KUR bukan hanya jumlah pembiayaan yang terserap, tetapi juga kemampuan penerima untuk berkembang hingga tidak lagi bergantung pada pembiayaan bersubsidi.
Hal tersebut tercermin dari angka graduasi debitur KUR BRI. Graduasi merupakan kondisi ketika pelaku usaha yang sebelumnya memperoleh pembiayaan KUR telah berkembang dan memiliki kapasitas untuk beralih ke pembiayaan komersial.
Hingga Juni 2026, sebanyak 487 ribu debitur KUR BRI telah mengalami graduasi. Angka tersebut setara dengan 50,71% dari target graduasi BRI sepanjang 2026 yang mencapai 962 ribu debitur.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa sebagian penerima KUR telah mampu meningkatkan kapasitas bisnisnya hingga masuk ke tahap usaha yang lebih matang. Dengan demikian, fungsi KUR tidak berhenti pada penyediaan modal awal, tetapi juga dapat menjadi jembatan menuju pembiayaan komersial.
Bagi perbankan, graduasi juga penting karena menciptakan ruang bagi penyaluran KUR kepada pelaku usaha lain yang membutuhkan akses pembiayaan bersubsidi. Sementara bagi pelaku UMKM, keberhasilan naik kelas dapat membuka akses terhadap plafon pembiayaan yang lebih besar sesuai dengan kapasitas usaha.
KUR Perumahan Hampir Capai Target
Selain pembiayaan UMKM, BRI juga memperluas peran pembiayaan program pemerintah melalui Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR Perumahan.
Hingga Juni 2026, realisasi KPP BRI mencapai Rp10,7 triliun atau sekitar 89% dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp12 triliun.
Pembiayaan tersebut mencakup sisi pasokan maupun permintaan dalam ekosistem perumahan. Di sisi pasokan, pembiayaan diarahkan kepada pelaku usaha yang bergerak dalam penyediaan hunian. Sementara dari sisi permintaan, pembiayaan dapat membantu masyarakat memperoleh akses terhadap kepemilikan rumah.
Skema tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan akses masyarakat terhadap hunian, tetapi juga menggerakkan sektor-sektor yang terkait dengan pembangunan rumah, mulai dari konstruksi, material bangunan, perdagangan, hingga jasa.
Efek berganda tersebut menjadi salah satu alasan sektor perumahan memiliki peran penting dalam perekonomian. Ketika pembangunan hunian meningkat, aktivitas ekonomi dapat ikut bergerak di sepanjang rantai pasoknya.
Pembiayaan Harus Dijaga Kualitasnya
Di tengah besarnya penyaluran, BRI menekankan pentingnya menjaga kualitas pembiayaan. KUR pada dasarnya tetap merupakan kredit perbankan yang bersumber dari dana yang dihimpun dari masyarakat.
Karena itu, ekspansi pembiayaan perlu berjalan bersama penerapan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan akuntabilitas.
Akhmad mengatakan BRI terus menjaga proses penyaluran KUR agar tetap memperhatikan kualitas kredit dan kemampuan usaha penerima dalam mengelola pembiayaan.
Pendekatan tersebut penting agar peningkatan akses pembiayaan tidak justru menciptakan beban baru bagi pelaku UMKM. Pembiayaan yang produktif idealnya digunakan untuk kegiatan yang mampu meningkatkan kapasitas usaha dan menghasilkan arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran.
Dengan penyaluran yang diarahkan ke sektor produktif, ditambah pendampingan dan proses graduasi, BRI menempatkan KUR tidak semata sebagai program pembiayaan murah, tetapi sebagai bagian dari proses membangun UMKM yang lebih mandiri.
Bagi agenda pemberdayaan ekonomi nasional, tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak penerima KUR mampu meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya naik kelas menuju usaha yang lebih berkelanjutan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
