Tren Ekbis

Capai Swasembada Pangan, CIPS Dorong Modernisasi Pertanian

  • Pemerintah mengumumkan swasembada pangan 2025. CIPS menilai capaian ini perlu diikuti modernisasi pertanian agar berkelanjutan.
H1o3pEOHKp9vSUY220260107180315.jpg
swasembada pangan (itjen.pertanian.go.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Presiden Prabowo Subianto telah mengumumkan bahwa Indonesia mencapai swasembada pangan. Capaian tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya produksi beras nasional dan menurunnya ketergantungan impor. 

"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, hari Rabu 7 Januari tahun 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia," ucap Prabowo pada acara Panen Raya di Karawang, Jawa Barat. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional 2025 mencapai sekitar 34,77 juta ton, meningkat sekitar 13,54% dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah juga menyebut stok beras nasional berada pada level aman hingga awal 2026, didukung Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog.

Capaian swasembada pangan yang diumumkan pemerintah dinilai perlu diikuti dengan pembenahan struktural sektor pertanian. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menekankan bahwa keberlanjutan swasembada tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi, modernisasi, dan tata kelola kebijakan pangan.

Melansir dari laman resmi CIPS, Kamis, 8 Januari 2026, CIPS menyoroti bahwa ketahanan pangan jangka panjang membutuhkan transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern dan adaptif terhadap perubahan iklim serta dinamika pasar.

Namun, di balik capaian tersebut, sejumlah tantangan struktural masih membayangi upaya menjaga swasembada pangan secara berkelanjutan. Menurut CIPS, tantangan terbesar bagi pemerintah diakibatkan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh efisiensi sistem pangan secara keseluruhan.

Tantangan utama yang dibahas mencakup produktivitas lahan yang stagnan, keterbatasan adopsi teknologi pertanian, hingga ketergantungan petani pada input produksi yang mahal. Selain itu, persoalan alih fungsi lahan pertanian menjadi perhatian serius. Tekanan pembangunan dan urbanisasi dinilai berpotensi menggerus luas lahan sawah produktif, terutama di Pulau Jawa yang selama ini menjadi tulang punggung produksi beras nasional.

Rekomendasi Untuk Pemerintah

Oleh karena itu, CIPS memberikan rekomendasi terhadap swasembada pangan yang saat ini sudah berhasil dicapai oleh pemerintah Indonesia. Salah satu rekomendasi utama CIPS adalah percepatan adopsi pertanian modern berbasis teknologi, mulai dari mekanisasi, penggunaan data cuaca dan tanah, hingga digitalisasi rantai pasok.

Modernisasi ini dinilai mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, sekaligus menjaga pendapatan petani tetap stabil. Selain itu, CIPS juga menyoroti pentingnya perbaikan tata niaga pangan. Menurut CIPS, swasembada akan lebih berkelanjutan jika petani mendapatkan harga yang kompetitif dan akses pasar yang lebih luas, bukan sekadar bergantung pada intervensi pemerintah saat panen raya.

Atas rekomendasi ini, CIPS berharap pemerintah dapat meninjau ulang regulasi yang berpotensi menghambat efisiensi sektor pertanian, termasuk distribusi input dan perdagangan pangan. Hal tersebut juga perlu didukung oleh kebijakan yang fleksibel, agar produksi dalam negeri tetap kompetitif tanpa mengorbankan stabilitas harga bagi konsumen.

CIPS menegaskan bahwa swasembada pangan seharusnya dipahami sebagai proses berkelanjutan, bukan sekadar capaian tahunan. Tanpa modernisasi pertanian dan reformasi kebijakan, swasembada berisiko sulit dipertahankan dalam jangka panjang, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan global.

Dengan demikian, swasembada pangan 2025 dipandang sebagai capaian penting, namun sekaligus menjadi titik awal evaluasi kebijakan. Keberlanjutan swasembada akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan struktural yang masih ada, agar ketahanan pangan tidak hanya tercapai secara statistik, tetapi juga kokoh dalam jangka panjang.