Buyback Diperpanjang, Laba BBCA Tumbuh 2,85 Persen
- BCA memperpanjang periode buyback saham BBCA hingga 23 Oktober 2026. Simak kinerja laba, kredit, CASA, dan kualitas aset perseroan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memperpanjang periode pembelian kembali saham atau buyback hingga 23 Oktober 2026. Sebelumnya, program tersebut dijadwalkan berakhir pada 21 Oktober 2026.
Dengan perpanjangan ini, BCA melaksanakan buyback saham pada periode 19–23 Oktober 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari program pembelian kembali saham yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada 12 Maret 2026.
“BCA kembali melaksanakan program pembelian kembali saham perseroan pada tanggal 19-23 Oktober 2026. Durasi buyback tersebut telah diperpanjang dari sebelumnya diumumkan hanya dilaksanakan sampai tanggal 21 Oktober 2026.” ungkap Manajemen BCA dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.
Program buyback saham BCA merupakan bagian dari rencana yang memiliki jangka waktu 12 bulan, terhitung sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027. Periode tersebut dapat berakhir lebih cepat apabila perseroan memutuskan demikian sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Baca juga : Prospek ANTM, INCO hingga NCKL Usai Pembatasan Produksi Tambang 2026
Aksi korporasi ini juga melanjutkan pelaksanaan buyback yang sebelumnya telah dilakukan BCA pada April dan Juni 2026. Melalui program tersebut, BCA menyatakan ingin menunjukkan keyakinan terhadap fundamental bisnis perseroan sekaligus berkontribusi dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.
“Manajemen BCA menyebut buyback juga menjadi wujud keyakinan BCA atas fundamental bisnis perseroan, sekaligus untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia.”
Manajemen BCA menyatakan pelaksanaan buyback tidak memberikan dampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan.
Meski demikian, dampak buyback terhadap investor tetap perlu dicermati dengan memperhatikan harga pembelian saham, jumlah saham yang dibeli kembali, serta perkembangan kinerja keuangan perseroan.
Buyback dapat menjadi salah satu instrumen perusahaan dalam mengelola modal dan merespons kondisi pasar. Namun, aksi tersebut tidak secara otomatis menjamin kenaikan harga saham karena pergerakan harga juga dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi industri perbankan, dan sentimen pasar.
Fundamental BBCA
Dari sisi fundamental, BBCA masih ditopang pertumbuhan bisnis yang solid. Hingga semester I 2026, BCA dan entitas anak membukukan laba bersih Rp29,5 triliun. Pada periode yang sama, penyaluran kredit mencapai Rp1.036 triliun, tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian ini menunjukkan ekspansi kredit tetap berlangsung di tengah dinamika industri perbankan.
Kekuatan BCA juga terlihat dari struktur pendanaannya yang didominasi dana murah atau current account saving account (CASA), yakni dana giro dan tabungan. Per Juni 2026, CASA BCA mencapai Rp1.082 triliun, meningkat 10,2% YoY, dengan porsi sekitar 84,3% dari total dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.284 triliun. Dominasi dana murah menjadi salah satu keunggulan BCA dalam menjaga biaya pendanaan dan mendukung penyaluran kredit.
Dari sisi kualitas aset, BCA mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,9% pada semester I 2026. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) berada di level 4,9%. Kedua indikator tersebut menjadi ukuran penting untuk menilai risiko kredit yang dihadapi perseroan. Meski demikian, investor tetap perlu memantau perkembangan kualitas kredit dan kebutuhan pencadangan seiring pertumbuhan penyaluran pinjaman.
Baca juga : BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun
Meski memiliki basis bisnis yang kuat, pertumbuhan laba BCA tetap menghadapi tantangan. Hingga Agustus 2026, BCA secara individual atau bank only membukukan laba bersih Rp40,17 triliun, tumbuh 2,85% YoY. Pada periode yang sama, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 1,33% YoY menjadi Rp53,82 triliun.
Pertumbuhan laba yang relatif terbatas ini menunjukkan investor perlu mencermati tekanan biaya dana, margin bunga, serta kemampuan perseroan meningkatkan pendapatan operasional.
Secara keseluruhan, fundamental BCA ditopang skala kredit yang besar, dominasi dana murah, dan kualitas aset yang relatif terjaga. Kondisi tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai keputusan perusahaan melaksanakan buyback saham.
Namun, fundamental perusahaan yang solid tidak otomatis membuat saham BBCA menarik pada semua tingkat harga. Investor tetap perlu memperhitungkan valuasi, pertumbuhan laba ke depan, potensi dividen, dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
