Beri Outlook Negatif ke Indonesia, Apa itu Moody’s?
- Moody’s Investors Service merupakan lembaga pemeringkat kredit global asal Amerika Serikat yang berdiri sejak 1909

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Moody’s Investors Service merupakan lembaga pemeringkat kredit global asal Amerika Serikat yang berdiri sejak 1909 dan menjadi salah satu dari tiga besar lembaga pemeringkat dunia bersama Standard & Poor’s (S&P) dan Fitch Ratings.
Moody’s berperan menilai kelayakan kredit suatu entitas, baik pemerintah negara, pemerintah daerah, bank, perusahaan swasta, BUMN, maupun instrumen utang seperti obligasi.
Penilaian ini mengukur kemampuan dan kemauan pihak yang dinilai dalam memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan pokok utang tepat waktu. Hasil penilaian Moody’s dituangkan dalam bentuk peringkat (rating) dengan skala mulai dari Aaa sebagai yang paling aman hingga kategori spekulatif atau non-investment grade.
Indonesia saat ini berada pada level Baa2, yang masih termasuk kategori investment grade atau layak investasi, meski dengan tingkat risiko menengah dibanding negara dengan peringkat lebih tinggi.
Selain rating, Moody’s juga memberikan outlook, yaitu proyeksi arah peringkat dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, yang dapat berupa positive, stable, negative, atau developing.
Baca juga : BRPT Paling Melemah, LQ45 Hari Ini Ditutup di 839,40 Poin
Outlook bukanlah penurunan rating, melainkan sinyal mengenai potensi perubahan di masa depan. Penilaian Moody’s sangat berpengaruh karena menjadi acuan utama investor global dalam mengukur risiko suatu negara atau perusahaan.
Rating yang lebih tinggi umumnya membuat biaya pinjaman lebih rendah, sementara rating atau outlook yang memburuk dapat meningkatkan premi risiko dan biaya utang. Banyak investor institusi besar, seperti dana pensiun dan manajer investasi global, juga mensyaratkan investasi hanya pada negara berstatus investment grade.
Dalam melakukan penilaian, Moody’s mempertimbangkan berbagai faktor seperti kekuatan ekonomi, kondisi fiskal dan rasio utang terhadap PDB, stabilitas politik, kualitas tata kelola, ketahanan terhadap guncangan eksternal, serta kredibilitas kebijakan pemerintah.
Karena itu, setiap perubahan rating maupun outlook dari Moody’s kerap menjadi perhatian serius pemerintah dan pelaku pasar keuangan.
Penilaian Moody’s dituangkan dalam dua komponen utama, yakni credit rating dan outlook. Credit rating mencerminkan tingkat risiko gagal bayar saat ini, sementara outlook menunjukkan arah potensi perubahan peringkat tersebut dalam jangka menengah, umumnya 12 hingga 18 bulan ke depan. Outlook dapat berstatus positif, stabil, atau negatif.
Pada 5 Februari 2026, Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari “stable” menjadi “negative”. Namun, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, yang masih berada dalam kategori investment grade atau layak investasi.
Lewat keputusan ini, berarti Moody’s tidak menilai Indonesia mengalami pelemahan fundamental saat ini, melainkan memberikan peringatan bahwa risiko ke depan meningkat apabila tidak direspons dengan kebijakan yang tepat.
Selama rating berada di level investment grade, Indonesia masih dinilai aman bagi investor institusi global seperti dana pensiun dan manajer aset besar.
Alasan Moody’s Memberi Outlook Negatif
Dalam laporannya, Moody’s mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong perubahan outlook. Salah satu perhatian utama adalah berkurangnya prediktabilitas kebijakan, yang dinilai dapat memengaruhi efektivitas pengambilan keputusan ekonomi dan fiskal.
Selain itu, Moody’s menyoroti risiko tata kelola pemerintahan, terutama terkait konsistensi kebijakan dan koordinasi antar lembaga. Tekanan fiskal juga menjadi perhatian, mencakup kebijakan belanja besar serta potensi pelebaran defisit anggaran apabila penerimaan negara tidak tumbuh sesuai target.
Faktor lain yang dicermati adalah ketidakpastian mengenai struktur, peran, dan tata kelola lembaga investasi baru seperti Danantara Indonesia. Moody’s menilai kejelasan mandat dan mekanisme pengelolaan lembaga tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas fiskal jangka menengah.
Meski memberikan outlook negatif, Moody’s tetap menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, struktur utang pemerintah yang masih terkendali, serta dukungan demografis dari populasi usia produktif menjadi faktor utama yang menopang peringkat Baa2 tetap dipertahankan.
Moody’s juga menilai Indonesia memiliki kapasitas kebijakan yang memadai untuk merespons tekanan eksternal maupun domestik, selama disiplin fiskal dan reformasi struktural terus dijaga.
Baca juga : IHSG Hari ini Ditutup Melemah ke 8.265,35 Poin
Dampak ke Investor
Perubahan outlook dari lembaga pemeringkat global seperti Moody’s memang sering menjadi sentimen awal di pasar keuangan. Meski tidak langsung mengubah fundamental ekonomi, sinyal “negative outlook” dapat memicu respons psikologis investor, terutama pelaku pasar jangka pendek dan dana asing yang sensitif terhadap risiko (risk-off sentiment).
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung melakukan aksi profit taking atau mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang. Dampaknya bisa terlihat pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat tekanan jual, terutama pada saham sektor perbankan dan BUMN yang sensitif terhadap isu fiskal dan sovereign risk.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi naik karena harga obligasi terkoreksi, mencerminkan premi risiko yang sedikit meningkat.
Tekanan juga dapat terasa pada nilai tukar rupiah. Ketika investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS atau obligasi pemerintah negara maju, permintaan terhadap valuta asing meningkat sehingga rupiah bisa mengalami depresiasi jangka pendek.
Namun, pergerakan ini umumnya bersifat reaktif dan sangat dipengaruhi oleh faktor global seperti arah suku bunga The Fed dan kondisi likuiditas global. Meski demikian, karena peringkat kredit Indonesia tetap berada pada level investment grade (Baa2), ruang dampak jangka panjang dinilai relatif terbatas.
Banyak investor institusi global seperti dana pensiun, sovereign wealth fund, dan manajer investasi besar memiliki mandat internal yang mensyaratkan penempatan dana hanya pada negara dengan status investment grade. Selama rating tersebut tidak turun, Indonesia tetap masuk dalam radar alokasi portofolio global.
Selain itu, fundamental domestik seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang masih moderat dibandingkan banyak negara emerging markets, serta pasar domestik yang besar menjadi penopang daya tarik investasi.
Jika pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal dan memberikan kepastian kebijakan, persepsi risiko dapat kembali membaik sehingga volatilitas pasar mereda.
Dengan kata lain, outlook negatif lebih berfungsi sebagai peringatan dini (early signal) bagi pemerintah dan pelaku pasar. Dampaknya bisa terasa dalam jangka pendek melalui volatilitas pasar, tetapi arah jangka menengah dan panjang akan sangat bergantung pada respons kebijakan, konsistensi reformasi, serta stabilitas makroekonomi yang dijaga secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, perubahan outlook Moody’s lebih bersifat early warning dibandingkan sinyal krisis. Arah kebijakan pemerintah ke depan, terutama dalam menjaga stabilitas fiskal, memperkuat tata kelola, serta memberikan kepastian kebijakan, akan menjadi faktor penentu apakah outlook negatif ini dapat kembali menjadi stabil atau justru berujung pada penurunan peringkat.
Dengan demikian, respons kebijakan yang kredibel dan komunikasi yang jelas kepada pasar menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Muhammad Imam Hatami
Editor
