Tren Ekbis

Asing Lepas SBN Rp7,7 T, Suku Bunga Kredit Terancam?

  • Aliran modal asing keluar sebesar Rp7,71 triliun dipicu pelepasan SBN. Kenaikan imbal hasil obligasi mulai membayangi biaya kredit di sektor riil.
<p>Karyawan berktivitas dengan latar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di atas 5.000 dan parkir di zona hijau dengan menguat 0,85 persen ke level 5.176,099 pada akhir sesi. Sebanyak 213 saham menguat, 217 terkoreksi, dan 161 stagnan, IHSG mengalami penguatan seiring dengan sentimen Omnibus Law dan langkah Bank Indonesia untuk pemulihan ekonomi. Selain itu, rencana merger bank BUMN syariah turut mendorong saham-saham perbankan lainnya, dan mengisi jajaran top gainers hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawan berktivitas dengan latar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di atas 5.000 dan parkir di zona hijau dengan menguat 0,85 persen ke level 5.176,099 pada akhir sesi. Sebanyak 213 saham menguat, 217 terkoreksi, dan 161 stagnan, IHSG mengalami penguatan seiring dengan sentimen Omnibus Law dan langkah Bank Indonesia untuk pemulihan ekonomi. Selain itu, rencana merger bank BUMN syariah turut mendorong saham-saham perbankan lainnya, dan mengisi jajaran top gainers hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Bank Indonesia (BI) mencatatkan aliran modal asing keluar dari pasar keuangan domestik sebesar Rp7,71 triliun pada periode 12 hingga 14 Januari 2026. Tekanan jual investor nonresiden ini didominasi oleh pelepasan aset pada instrumen surat utang negara.

Meskipun pasar saham masih mencatatkan aksi beli bersih, besarnya tekanan jual di pasar Surat Berharga Negara (SBN) menyeret total aliran modal ke zona negatif. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati investor asing di tengah dinamika imbal hasil obligasi global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, merinci bahwa pelepasan aset di pasar SBN mencapai Rp8,15 triliun. Angka ini jauh melampaui aliran dana masuk ke pasar saham yang tercatat hanya sebesar Rp3,08 triliun dalam periode yang sama.

1. SBN dan SRBI Ditinggal Asing

Berdasarkan data transaksi terbaru, investor nonresiden melakukan jual neto yang cukup signifikan pada instrumen berpendapatan tetap selama hari kerja pekan ini. Selain pasar SBN yang tertekan hebat, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga mencatatkan jual neto sebesar Rp2,64 triliun.

Pelepasan aset pada instrumen utang ini diduga dipicu oleh fluktuasi yield obligasi di pasar internasional yang membuat investor mencari penyesuaian portofolio. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pasar saham yang justru masih menjadi primadona bagi investor asing untuk mengoleksi aset.

Denny Prakoso memerinci rincian transaksi tersebut dalam keterangan resminya kepada media massa nasional di Jakarta. Denny menjelaskan, "Nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp7,71 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di SRBI," jelasnya dalam keterangannya pada Jumat, 16 Januari 2026. 

2. Akumulasi Tahun Berjalan Masih Positif

Meskipun terjadi aliran keluar yang besar dalam sepekan terakhir, posisi modal asing secara tahun berjalan masih berada di zona hijau. Sepanjang 1 hingga 14 Januari 2026, total aliran modal yang masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp1,58 triliun.

Pasar saham menjadi penopang utama ketahanan eksternal dengan akumulasi beli neto mencapai Rp6,61 triliun sejak awal tahun ini. Sementara itu, instrumen SRBI juga masih menyumbang aliran dana masuk sebesar Rp5,33 triliun, meskipun pasar SBN secara agregat masih mencatatkan jual neto.

Ketahanan arus modal di pasar saham menunjukkan kepercayaan investor terhadap fundamental korporasi Indonesia yang masih sangat solid. Denny menegaskan data akumulasi tersebut, "Selama tahun berjalan atau 1 Januari—14 Januari 2026, masih lebih banyak aliran modal investor asing yang masuk."

3. Kenaikan Premi Risiko CDS

Sejalan dengan derasnya modal asing yang keluar dalam jangka pendek, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun mengalami kenaikan. Per 14 Januari 2026, premi risiko ini berada di level 71,43 bps, naik dibandingkan posisi sebelumnya.

Kenaikan ini mengindikasikan adanya peningkatan persepsi risiko di mata investor global terhadap stabilitas pasar keuangan domestik untuk sementara waktu. Hal ini selaras dengan kenaikan imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun yang merangkak naik ke level 6,23%.

Bank Indonesia terus memantau pergerakan premi risiko ini sebagai salah satu indikator stabilitas makroekonomi nasional yang sangat penting. Denny mencatat perbandingan angka tersebut dalam keterangannya, "Premi CDS Indonesia 5 tahun tercatat naik ke 71,43 bps dibandingkan 69,31 bps pada pekan sebelumnya."

4. Bauran Kebijakan dan Nilai Tukar

Di tengah tekanan aliran modal, nilai tukar Rupiah sebenarnya menunjukkan ketahanan dengan dibuka menguat ke posisi Rp16.840 per dolar AS. Penguatan tipis ini terjadi di tengah selisih imbal hasil SBN dengan US Treasury yang masih cukup menarik bagi investor.

BI berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari ketidakpastian pasar global. Strategi bauran kebijakan terus dioptimalkan agar arus modal dapat kembali masuk ke pasar keuangan Tanah Air pada pekan-pekan mendatang.

Optimalisasi strategi ini diharapkan mampu meredam volatilitas dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tetap kompetitif secara regional. Denny menutup pernyataannya dengan komitmen koordinasi, "Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung ketahanan eksternal."

5. Dampak ke Sektor Riil

Fenomena keluarnya modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan bukan sekadar angka di atas kertas, namun memiliki dampak nyata ke sektor riil. Ketika investor asing melepas SBN, harga surat utang turun dan yield atau imbal hasil akan naik secara otomatis.

Kenaikan yield SBN ini sering kali menjadi acuan perbankan dalam menentukan suku bunga kredit di masyarakat luas. Jika yield terus merangkak naik, beban bunga pinjaman untuk ekspansi usaha maupun Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berisiko meningkat, sehingga daya beli masyarakat berpotensi melambat.

Selain itu, tekanan pada aliran modal dapat memicu volatilitas nilai tukar yang meningkatkan biaya impor bahan baku industri manufaktur. Hal ini pada akhirnya bisa mengerek harga barang di tingkat konsumen dan menekan margin keuntungan pelaku usaha kecil hingga menengah.