Industri

Ternyata Tahu dan Tempe Berpotensi Dominasi Pasar Australia

  • JAKARTA – Makanan khas Indonesia, tempe, diperkirakan memiliki potensi yang besar di pasar Australia. Produk khas Indonesia ini memiliki peminat yang cukup besar di negeri kanguru tersebut. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Dody Edward saat menghadiri forum bisnis Indonesia-Australia di Sydney pada 12 Februari lalu, mengatakan industri tahu dan tempe memiliki […]

Ternyata Tahu dan Tempe Berpotensi Dominasi Pasar Australia

JAKARTA – Makanan khas Indonesia, tempe, diperkirakan memiliki potensi yang besar di pasar Australia. Produk khas Indonesia ini memiliki peminat yang cukup besar di negeri kanguru tersebut.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Dody Edward saat menghadiri forum bisnis Indonesia-Australia di Sydney pada 12 Februari lalu, mengatakan industri tahu dan tempe memiliki potensi besar di sana.

Pasalnya, kesadaran akan gaya hidup sehat sudah sangat besar, sebagian besar masyarakat Autralia sudah mengurangi konsumsi daging.

Nutrisoy, industri tahu dan tempe yang dikembangkan oleh diaspora Indonesia di Sydney, memiliki pangsa pasar yang luas. Sebesar 90% produk yang dipasarkan di Australia, sementara sisanya 10% ditujukan untuk ekspor ke berbagai negara. Diantaranya, Selandia Baru, Kaledonia Baru, Singapura serta Uni Emirat Arab.

“Nutrisoy memproduksi makanan khas Indonesia yang sangat digemari masyarakat Australia,” ujar Dody melalui keterangan tertulisnya, Senin (17/02).

Pemerintah berharap Nutrisoy dapat melakukan promosi untuk memperkenalkan produk Indonesia lebih luas khususnya di restoran dan supermarket sehingga masyarakat Australia mengetahui produk Indonesia.

Sementara, di Indonesia sendiri industri tahu dan tempe ini tersebar di berbagai kota. Jumlah produksi tempe di tahun lalu mencapai 5,7 juta ton, sedangkan tahun 2018 sebanyak 5,5 juta ton.

Salah satu produsen, Primer Koperasi Pengrajin Tahu Tempe (Primkopti) Jakarta Selatan pada 2017, meraih keuntungan hingga mencapai Rp 1,518 miliar. Angka ini berhasil didapati dengan penjualan serta penyaluran bahan baku kedelai kepada pengrajin tahu dan tempe sebanyak 1.058 orang.