Industri

Ekonomi RI Anjlok, Tren Sektor Properti Justru Melejit

  • Saat ini, perumahan dengan harga di bawah Rp300 juta dianggap masih menjadi segmen yang diminati oleh konsumen.

<p>Virmala Hills di Puncak, Bogor. / Dok. PT Agung Podomoro Land Tbk</p>

Virmala Hills di Puncak, Bogor. / Dok. PT Agung Podomoro Land Tbk

(Istimewa)

JAKARTA – Direktur Eksekutif Indonesian Property Watch Ali Tranghanda mengungkapkan, industri properti mengalami tren kenaikan saat perekonomian Indonesia terkontraksi 5,32% pada kuartal II-2020.

Pada periode ini, industri properti tumbuh di level 88%, naik dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal I-2020 sebesar 50,1%. Menurutnya, konsumen beralih ke sektor properti karena investasi tersebut dianggap lebih aman dan dapat melindungi keluarga saat imbaun social distancing digalakkan.

“Kalau kita tinggal di rumah, secara fisik kita dilindungi. Itu yang tidak ada di instrumen investasi lain,” kata Ali dalam diskusi daring, Rabu, 12 Agustus 2020.

Peningkatan tren permintaan properti, ujarnya, mulai terjadi pada akhir Mei, ketika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan.

Faktor lain didukung pula oleh diskon harga 5%-10% di pasar primer, sedangkan di pasar sekunder juga mengalami diskon 20%-30%.

Menurut Ali, sebenarnya daya beli masyarakat dapat dimaksimalkan dilihat dari total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp5.999 triliun di Bank Indonesia (BI) per akhir 2019.

Strategi Pengembang

Kendati demikian, lanjutnya, konsumen dinilai masih bingung dalam melihat peluang dan membelanjakan dana tersebut. Ali menyarankan, para pengembang harus membuat strategi dengan cara menyediakan kebutuhan konsumen, utamanya di segmen yang dibutuhkan.

Saat ini, perumahan dengan harga di bawah Rp300 juta dianggap masih menjadi segmen yang diminati oleh konsumen. “Para pengembang harus bisa men-supply segmen tersebut,” ujarnya.

Selain itu, beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh pengembang dalam masa new normal, yakni mengubah kebiasaan bekerja dengan cara digital. “Kebiasaan bekerja mulai berubah dengan cara digital karena hal itu bisa memangkas cost lebih efisien,” terangnya.

Digitalisasi tersebut juga mencakup proses transaksi, mulai dari pendaftaran, booking, hingga payment yang dilakukan secara online.

Inovasi Desain Ramah Lingkungan

Selanjutnya, mindset inovasi desain juga mulai diubah. Tidak hanya tentang keamanan secara fisik, para pengembang juga harus menawarkan keamanan dari segi psikis sehingga dapat menciptakan kenyamanan bagi konsumen.

“Keamanan yang dimaksud, misalnya tentang kebersihan. Konsumen pun akan merasa lebih secure untuk membeli properti tersebut,” ungkap Ali.

Untuk menjawab hal itu, Agung Podomoro Group menghadirkan kota mandiri dan satelit baru bernama “Kota Podomoro Tenjo”. Proyek properti ini bakal mengadopsi konsep rumah tumbuh yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Residential Department Head Agung Podomoro Group Zaldy Wihardja menyampaikan proyek perumahan dengan total lahan sekitar 700 hektare ini mengusung konsep rumah tumbuh yang diyakini menjadi magnet bagi masyarakat produktif.

“Karena selain dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga, juga dapat menghemat anggaran. Pembangunannya didukung eco green house concept atau konsep rumah hijau sehingga dari sisi aspek kesehatan juga terpenuhi,” kata Zaldy dalam konferensi pers virtual.

Zaldy juga menjelaskan Kota Podomoro Tenjo di awal pembangunan akan menghadirkan rumah tapak dan didukung smart city infrastructure. “Rumah tapak ini hadir dengan konsep rumah tumbuh dengan kisaran harga Rp200 jutaan dengan kualitas middle up,” ungkap Zaldy. (SKO)