UOB: ORI030 Laris Rp21,9 T, Investor Pindah ke Obligasi
- ORI030 menjadi incaran investor di semester II-2026. Penjualan sudah mencapai Rp21,9 triliun di tengah proyeksi BI Rate naik hingga 6,5% akhir tahun.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Tren investasi masyarakat Indonesia mulai bergeser pada semester II-2026. Di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) hingga 6,5% pada akhir tahun, instrumen berisiko rendah seperti Obligasi Negara Ritel (ORI030) menjadi salah satu pilihan utama investor.
Antusiasme tersebut terlihat dari penjualan ORI030 yang telah mencapai Rp21,9 triliun hingga 16 Juli 2026 pukul 16.00 WIB atau hampir menyentuh target penerbitan pemerintah sebesar Rp25 triliun.
Data tersebut disampaikan dalam acara UOB Media Literacy: Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Apa Itu ORI030?
ORI030 merupakan Obligasi Negara Ritel (ORI), yaitu Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah dan dijual kepada individu Warga Negara Indonesia melalui mitra distribusi.
Berbeda dengan deposito yang bunganya dapat berubah mengikuti kebijakan bank, ORI030 menawarkan kupon tetap (fixed rate) hingga jatuh tempo. Instrumen ini juga dijamin pemerintah, dikenakan pajak lebih rendah dibanding bunga deposito, serta dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah melewati masa holding period.
Pada penerbitan kali ini pemerintah menawarkan dua pilihan, yakni ORI030T3 bertenor tiga tahun dan ORI030T6 bertenor enam tahun.
Baca juga : Pohon Bisnis Keluarga Thohir, Dari ADRO Sampai GOTO
Consumer Banking Director UOB Indonesia Bea Teh Tan mengatakan kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat investor perlu lebih berhati-hati dalam menyusun portofolio.
Menurutnya, perubahan kebijakan moneter, dinamika geopolitik, hingga volatilitas pasar menjadi faktor yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan investasi. "Investasi yang sukses bukanlah tentang mengejar imbal hasil tertinggi semata." ujar Tan, Kamis, 16 Juli 2026.
Ia menilai keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta horizon investasi masing-masing investor.
BI Rate Diprediksi Naik Hingga 6,5%
ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menilai perekonomian Indonesia memasuki fase yang lebih stabil dibanding beberapa bulan sebelumnya. Harga minyak mulai bergerak stabil, nilai tukar rupiah membaik, sementara konsumsi masyarakat dan investasi kembali meningkat.
"Perang sudah empat bulan, sehingga saat ini sudah mulai memasuki masa new normal." kata Enrico
Menurut Enrico, investor asing juga mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia karena menawarkan imbal hasil yang menarik dibanding negara lain. Ia memperkirakan Bank Indonesia masih memiliki ruang menaikkan BI Rate hingga 6,5% pada akhir 2026.
Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Daging Ayam di Indonesia? Ini Peta Usahanya
"Dengan kenaikan BI Rate ini akan semakin membuat atraktif untuk berinvestasi di instrumen yang lebih aman." tambahnya.
Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan Chandra A.S. Wibowo mengatakan kondisi fiskal Indonesia masih terjaga dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61% serta inflasi Juni sebesar 3,34% (yoy).
Menurutnya, ORI030 menjadi instrumen yang menjawab kebutuhan investor saat ini. "Investor saat ini mencari keamanan, kepastian, dan fleksibilitas." tambah Chandra.
Selain memperoleh kupon tetap, investor juga ikut membantu pembiayaan APBN. Pemerintah pun masih berencana menerbitkan sekitar tiga seri SBN ritel hingga akhir 2026.

Muhammad Imam Hatami
Editor
