Tren Pasar

Rupiah Melemah, Pasar Cermati Rencana Fiskal 2027

  • Rupiah melemah 49 poin ke Rp17.847 per dolar AS. Simak pengaruh The Fed dan rencana APBN 2027 terhadap arah rupiah serta ekonomi Indonesia.
Kurs-Rupiah-Ditutup-Stagnan-3.webp
Dollar US (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2021/03/Kurs-Rupiah-Ditutup-Stagnan-3.jpg)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 49 poin atau 0,28% ke level Rp17.847 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah sebelumnya mendapat sentimen positif dari meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Selain itu, pasar juga mulai mencermati rencana fiskal pemerintah untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR dan Rapat Paripurna DPR pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Pemerintah menargetkan nilai APBN 2027 sekitar Rp4.097,2 triliun dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Pada saat yang sama, pemerintah menargetkan inflasi tetap terjaga di level 2,5%.

Target pertumbuhan tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor karena menunjukkan ambisi pemerintah untuk mendorong ekspansi ekonomi pada tahun depan. 

Namun, pasar juga akan mencermati bagaimana target tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan belanja, penerimaan negara, defisit anggaran, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah.

Dolar AS Kembali Menguat di Asia

Tekanan terhadap rupiah pada pembukaan Selasa juga terjadi seiring penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia Tenggara.

Dolar AS tercatat menguat terhadap baht Thailand dan peso Filipina. Sementara itu, ringgit Malaysia justru menguat sekitar 0,29% pada awal perdagangan.

Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari faktor domestik. Arah dolar AS secara global dan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed masih menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan mata uang kawasan.

Sebelumnya, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed memberikan ruang bagi rupiah dan mata uang negara berkembang untuk menguat. Ketika peluang kenaikan suku bunga AS menurun, daya tarik aset berbasis dolar cenderung berkurang sehingga arus modal dapat lebih leluasa mengalir ke pasar negara berkembang.

Namun, perubahan ekspektasi tersebut masih sangat bergantung pada data ekonomi Amerika Serikat berikutnya. Jika inflasi atau aktivitas ekonomi AS kembali menunjukkan kekuatan, pasar dapat kembali memperkirakan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.

Apa yang Berubah Hari Ini?

Pelemahan rupiah ke Rp17.847 menunjukkan pasar mulai melakukan koreksi setelah periode penguatan sebelumnya. Meski demikian, posisi rupiah masih berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Di dalam negeri, perhatian pasar mulai bergeser ke implementasi rencana APBN 2027. Target pertumbuhan ekonomi 6% dan inflasi 2,5% menjadi dua indikator penting untuk menilai apakah kebijakan fiskal pemerintah mampu mendorong pertumbuhan tanpa menciptakan tekanan baru terhadap harga dan stabilitas rupiah.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Rupiah yang masih berada di bawah Rp18.000 per dolar AS membuat tekanan terhadap biaya impor relatif lebih terkendali dibandingkan ketika kurs berada di atas level tersebut.

Bagi masyarakat, pergerakan rupiah dapat memengaruhi harga produk impor, elektronik, biaya perjalanan ke luar negeri, hingga barang yang menggunakan bahan baku dari luar negeri. Namun, pelemahan 0,28% dalam satu hari belum cukup untuk langsung diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen.

Dampak yang lebih besar akan terlihat jika rupiah mengalami pelemahan secara konsisten dan dalam periode yang lebih panjang.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor akan mencermati perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed, data ekonomi AS, serta implementasi kebijakan fiskal pemerintah dalam APBN 2027.

Di dalam negeri, target pertumbuhan ekonomi 6% akan menjadi perhatian karena keberhasilannya dapat memperkuat daya tarik aset Indonesia. Namun, investor juga akan melihat bagaimana pemerintah menjaga inflasi, defisit fiskal, dan kebutuhan pembiayaan agar target pertumbuhan tersebut tidak menimbulkan tekanan baru terhadap rupiah.