Tren Pasar

Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 2 Oktober 2026?

  • Rupiah menguat 19 poin ke Rp17.947 per dolar AS pada 2 Oktober 2026. Penguatan dolar dan yield Treasury masih membayangi rupiah meski neraca dagang surplus.
Uang rupiah dan dolar AS
Uang rupiah dan dolar AS (Freepik.com/8photo)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Jumat 2 Oktober 2026. Mengacu data Bloomberg pukul 09.06 WIB, rupiah naik 19 poin atau 0,11% ke level Rp17.947 per dolar AS.

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah relatif tertekan sepanjang sepekan terakhir. Pada perdagangan Kamis 1 Oktober 2026, rupiah ditutup melemah meski data neraca perdagangan Indonesia menunjukkan surplus pada Agustus 2026.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia Tenggara cenderung beragam. Selain rupiah, peso Filipina menguat 0,22%. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah 0,04%, baht Thailand turun 0,01%, dan dolar Singapura terkoreksi 0,04%.

Di kawasan Asia Pasifik, yen Jepang dan yuan China sama-sama melemah 0,02%. Sementara itu, won Korea Selatan menguat 0,17%.

Dolar AS dan Yield Treasury Tekan Rupiah

Tekanan terhadap rupiah dalam beberapa hari terakhir terutama berkaitan dengan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Kenaikan imbal hasil Treasury dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar bagi investor. Kondisi tersebut berpotensi mendorong permintaan terhadap dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi domestik, tetapi juga oleh perubahan ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter dan perkembangan pasar keuangan global.

Surplus Perdagangan Belum Menjadi Penopang Kuat

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026. Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan berita, surplus mencapai US$26,61 miliar, meningkat 6,72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Surplus perdagangan dapat menjadi penopang fundamental rupiah karena menunjukkan nilai ekspor lebih besar daripada impor. Namun, pengaruhnya terhadap kurs tidak selalu langsung terlihat dalam pergerakan harian.

Nilai tukar juga dipengaruhi arus modal, kebutuhan dolar untuk pembayaran impor dan kewajiban luar negeri, serta pergerakan imbal hasil aset keuangan global.

Karena itu, surplus perdagangan belum tentu cukup untuk mengimbangi tekanan ketika dolar AS menguat dan investor meningkatkan minat terhadap aset berdenominasi dolar.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya barang dan bahan baku impor apabila berlangsung secara berkelanjutan. Dampaknya terhadap harga konsumen bergantung pada biaya produksi, persediaan, kontrak pembelian, dan kebijakan harga pelaku usaha.

Sebaliknya, penguatan rupiah dapat mengurangi tekanan biaya impor jika berlangsung konsisten. Namun, penguatan pada pembukaan perdagangan saja belum cukup untuk memastikan biaya impor atau harga barang akan segera turun.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor perlu mencermati pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury, terutama perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Dari dalam negeri, perkembangan surplus perdagangan, arus modal asing, kebutuhan valuta asing, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah pada awal kuartal IV 2026.