Tren Ekbis

Menilik Pergeseran Ekonomi Indonesia: Dari Agraris ke Digital

  • Selama 81 tahun merdeka, ekonomi Indonesia berubah dari pertanian menuju industri, digital, dan hilirisasi. Berikut perjalanan lengkapnya.
Petani menanam jagung di persawahan Kunjang, Kediri, provinsi Jawa Timur, Indonesia, 10 April 2023
Petani menanam jagung di persawahan Kunjang, Kediri, provinsi Jawa Timur, Indonesia, 10 April 2023 (Antara Foto/Muhammad Mada) (Antara Foto/Muhammad Mada)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Delapan puluh satu tahun setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia telah mengalami transformasi ekonomi yang luar biasa. 

Dari negara yang bergantung pada sektor pertanian dengan kondisi ekonomi porak-poranda akibat perang, Indonesia kini menjelma menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia berkembang dengan produk domestik bruto (PDB) melampaui US$1,5 triliun dan menjadi anggota G20.

Perjalanan tersebut bukan sekadar ditandai oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perubahan struktur ekonomi nasional. Dalam delapan dekade terakhir, Indonesia beralih dari ekonomi agraris menuju ekonomi berbasis industri, jasa, serta mulai memasuki era digital dan hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan baru.

Baca juga : Relatif Stabil, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 13 Agustus 2026?

Awal Kemerdekaan: Ekonomi Agraris dengan Tantangan Besar

Saat Indonesia merdeka pada 1945, perekonomian nasional masih sangat bergantung pada sektor pertanian. Struktur tersebut merupakan warisan sistem kolonial Belanda yang berorientasi pada perkebunan dan ekspor komoditas primer.

Di sisi lain, perang kemerdekaan, blokade ekonomi Belanda, serta rusaknya berbagai infrastruktur membuat aktivitas ekonomi berjalan sangat terbatas. 

Akibat gejolak politik selama era demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin kala Presiden Soekarno menjabat, inflasi terus meningkat hingga mencapai sekitar 650% pada 1965, sementara tingkat kemiskinan diperkirakan masih berada di atas 70% populasi.

Memasuki akhir 1960-an, ukuran ekonomi Indonesia juga masih relatif kecil. Pada 1967, nilai PDB nasional diperkirakan hanya sekitar US$7,7 miliar. Pada periode tersebut, sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian dengan kontribusi sekitar 45% terhadap PDB.

Baca juga : Perputaran Uang HUT RI Capai Puluhan Triliun, Siapa Panen Cuan?

Orde Baru Mengubah Arah Pembangunan

Transformasi mulai terlihat setelah pergantian pemerintahan pada 1966. Pemerintah Orde Baru menempatkan stabilisasi ekonomi sebagai prioritas utama sebelum mendorong industrialisasi dan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran.

Berbagai kebijakan berhasil menekan inflasi hingga di bawah 20% pada awal 1970-an. Dalam beberapa dekade berikutnya, Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 7% per tahun.

Perubahan tersebut turut menggeser struktur ekonomi nasional. Jika sebelumnya pertanian mendominasi, maka sektor industri manufaktur berkembang pesat hingga sempat menyumbang sekitar 25–26% terhadap PDB. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian terus menurun seiring berkembangnya industri dan urbanisasi.

Pada periode ini Indonesia juga berhasil mencapai swasembada beras, sebuah pencapaian penting yang memperkuat ketahanan pangan nasional.

Namun, pertumbuhan tinggi tersebut tidak sepenuhnya dibangun di atas fondasi yang kuat. Ketergantungan terhadap utang luar negeri, lemahnya tata kelola sektor keuangan, dan tekanan eksternal membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak saat krisis finansial Asia melanda pada 1997–1998.

Reformasi Membentuk Ekonomi yang Lebih Modern

Krisis 1998 menjadi titik balik bagi perekonomian Indonesia. Reformasi menghadirkan berbagai perubahan mendasar, mulai dari desentralisasi fiskal, reformasi sektor perbankan, hingga lahirnya berbagai lembaga independen untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan.

Dalam dua dekade berikutnya, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi relatif stabil di kisaran 5–6% per tahun dan resmi bergabung sebagai anggota G20, kelompok negara dengan ekonomi terbesar dunia.

Transformasi tersebut membuat struktur ekonomi Indonesia semakin beragam dan tidak lagi bergantung pada satu sektor.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan kini menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional.

Pada 2025 hingga triwulan I 2026, industri pengolahan menyumbang sekitar 19,07% terhadap PDB Indonesia. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan dengan kontribusi sekitar 13,28%, disusul pertanian, kehutanan, dan perikanan sekitar 12,67%.

Sektor konstruksi berkontribusi sekitar 9,81%, sementara pertambangan memberikan sumbangan sekitar 8,69% terhadap PDB.

Perubahan komposisi tersebut menunjukkan bagaimana perekonomian Indonesia telah bertransformasi dari dominasi sektor primer menuju ekonomi yang lebih berbasis industri dan jasa.

Dengan struktur ekonomi tersebut, nilai PDB nominal Indonesia telah melampaui US$1,44 triliun pada 2025. Ekonomi nasional juga tetap tumbuh 5,11% sepanjang 2025, sebelum meningkat menjadi 5,61% pada kuartal I 2026, menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca juga : Apa Itu Desil? Desil 9-10 Bakal Kena Pembatasan Pertalite

Ekonomi Digital Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Selain industri manufaktur, ekonomi digital kini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Didukung sekitar 235 juta pengguna internet, Indonesia berkembang menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara. 

Nilai transaksi ekonomi digital (gross merchandise value/GMV) diperkirakan mencapai sekitar Rp1.645 triliun atau setara US$99 miliar pada 2025.

Kontribusi ekonomi digital terhadap PDB nasional kini diperkirakan telah berada di kisaran 6,8–7,2%, dengan laju pertumbuhan sekitar 14% per tahun.

Berbagai proyeksi memperkirakan kontribusi tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 12–13% terhadap PDB pada 2029, bahkan berpotensi mencapai hampir seperlima ekonomi nasional menjelang Indonesia Emas 2045 apabila transformasi digital berjalan sesuai target.

Hilirisasi Mengubah Pola Ekspor Indonesia

Transformasi ekonomi Indonesia juga ditandai dengan kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang semakin agresif dalam beberapa tahun terakhir.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berupaya mengurangi ekspor bahan mentah dan mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Pada 2025, investasi di sektor hilirisasi tumbuh 43,3% menjadi sekitar Rp584,1 triliun. Sementara pada kuartal I 2026, investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp147,5 triliun atau sekitar 30% dari total realisasi investasi nasional.

Program hilirisasi juga diperkuat melalui pengembangan berbagai proyek strategis, termasuk investasi di sektor mineral, kendaraan listrik (electric vehicle/EV), baterai, hingga industri pengolahan logam.

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memperdalam rantai nilai industri. Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB yang masih berada di kisaran 19% menunjukkan proses industrialisasi belum sepenuhnya menghasilkan produk manufaktur berteknologi tinggi atau bernilai tambah maksimal.

Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045

Perjalanan ekonomi Indonesia selama 81 tahun menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Dari negara agraris dengan PDB sekitar US$7,7 miliar pada akhir 1960-an, Indonesia kini menjadi kekuatan ekonomi dengan PDB lebih dari US$1,5 triliun.

Namun, tantangan ke depan tidak lagi sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi. Indonesia perlu meningkatkan produktivitas industri, memperkuat hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir bernilai tinggi, mempercepat transformasi digital, serta memastikan pertumbuhan ekonomi lebih inklusif dan berkelanjutan.

Memasuki usia ke-81 kemerdekaan, transformasi tersebut menjadi fondasi penting bagi ambisi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia.