Kasus Aa Juju Jadi Ujian, Akankah Mobil Listrik Bisa Gantikan Mobil Bensin?
- Mobil listrik di bawah Rp200 juta semakin banyak di Indonesia. Namun, EV masih menghadapi tantangan charging, resale value, baterai, dan layanan purna jual.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) Indonesia memasuki fase baru. Harga mobil listrik yang sebelumnya identik dengan kendaraan premium kini semakin mendekati mobil konvensional, bahkan sejumlah model sudah ditawarkan di bawah Rp200 juta.
Tren tersebut menunjukkan bahwa mobil listrik mulai bergerak dari pasar niche menuju pasar massal. Di tengah pertumbuhan penjualan yang pesat, industri EV juga menghadapi tantangan besar, mulai dari infrastruktur pengisian daya, layanan purna jual, nilai jual kembali, hingga kepercayaan konsumen.
Di tengah penetrasi EV yang semakin cepat, persoalan layanan purna jual menjadi perhatian setelah kasus yang melibatkan selebgram Aa Juju atau Makanlurr dengan Hyundai Ioniq 5 viral di media sosial.
Aa Juju mengungkap sejumlah persoalan setelah membeli Hyundai Ioniq 5 secara tunai. Di antaranya kendaraan tidak dapat menggunakan fast charging, baterai 12V mengalami drop saat mobil diparkir, hingga kendaraan tidak dapat menyala dan membutuhkan penggantian aki.
Baca juga : Kasus Unsoed dan Ujian Tata Kelola PTN-BH
Persoalan kemudian melebar ketika terdapat perbedaan informasi antara sales dan teknisi mengenai penggunaan mobil, termasuk soal parkir paralel. Keluhan Aa Juju di dealer kemudian berujung pada perselisihan dengan kepala sales yang videonya viral.
Hyundai Motor Indonesia kemudian menyampaikan permintaan maaf. Aa Juju juga bertemu dengan jajaran manajemen Hyundai dan menyatakan tetap menjadi pelanggan Hyundai setelah kedua pihak mencapai penyelesaian.
Kasus tersebut menunjukkan jika tantangan EV tidak hanya berkaitan dengan teknologi kendaraan. Kualitas sumber daya manusia, layanan purna jual, komunikasi sales, dan edukasi konsumen menjadi bagian penting dari ekosistem kendaraan listrik.
EV Belum Bisa Sepenuhnya Menggantikan Mobil Bensin
Harga yang semakin murah dan biaya operasional yang relatif rendah membuat EV memiliki peluang besar menggantikan sebagian penggunaan mobil berbahan bakar bensin. Biaya operasional harian EV bahkan disebut dapat 70–75% lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, penggantian secara total masih menghadapi sejumlah hambatan.
- Pertama, infrastruktur pengisian daya belum merata. Konsumen yang tidak memiliki fasilitas charging di rumah masih menghadapi tantangan ketika harus mengisi baterai secara rutin.
- Kedua, nilai jual kembali EV masih menjadi kekhawatiran. Data OLXmobbi menunjukkan depresiasi sejumlah EV dapat mencapai sekitar 50% dalam tiga hingga empat tahun. Angka tersebut menjadi pertimbangan penting bagi konsumen Indonesia yang masih memperhatikan resale value.
- Ketiga, terdapat kekhawatiran mengenai biaya baterai dalam jangka panjang. Baterai merupakan komponen paling mahal dalam kendaraan listrik sehingga umur pakai dan biaya penggantiannya menjadi faktor penting dalam menghitung total cost of ownership.
- Keempat, arah kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penentu. Perubahan insentif kendaraan listrik dapat memengaruhi harga dan keputusan konsumen dalam membeli EV.
Persaingan harga menjadi salah satu perubahan paling mencolok di pasar EV Indonesia pada 2026. Sejumlah produsen mulai menawarkan mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Baca juga : Di Balik Kasus Aa Juju vs Hyundai, EV Lebih Rumit Dari Mobil Bensin?
Beberapa pilihan EV yang berada di kisaran bawah Rp200 juta antara lain,
- Wuling Air EV Standard sekitar Rp155 juta dengan jarak tempuh 205 km berdasarkan CLTC.
- VinFast VF 3 sekitar Rp156 juta dengan jarak tempuh 215 km NEDC, menggunakan skema sewa baterai.
- Wuling Air EV Long Range sekitar Rp175 juta dengan jarak tempuh 301 km CLTC.
- Seres E1 B-Type sekitar Rp189 juta dengan jarak tempuh 180 km.
- BYD Atto 1 Standard sekitar Rp199 juta dengan jarak tempuh 300 km NEDC.
Chang'an Lumin juga sempat hadir dengan harga sekitar Rp183 juta. Sementara Geely EX2 CKD masuk dengan harga mulai Rp230 juta dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 46,5%.
Pertumbuhan penjualan memperkuat perubahan tersebut. Pada kuartal I 2026, penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia mencapai 33.150 unit, melonjak 95,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada semester I 2026, penjualan EV dan hybrid mencapai sekitar 117.000 unit atau 26,8% dari total penjualan mobil penumpang.
EV Akan Tumbuh, tetapi Transisinya Bertahap
Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, EV kemungkinan belum sepenuhnya menggantikan mobil bensin. Mobil listrik lebih realistis menjadi pilihan untuk penggunaan harian di perkotaan, terutama bagi konsumen yang memiliki fasilitas charging di rumah.
Sementara itu, mobil bensin masih memiliki keunggulan untuk perjalanan jauh, wilayah dengan infrastruktur charging terbatas, serta konsumen yang sangat mempertimbangkan nilai jual kembali.
Baca juga : Mengapa Sumatera dan Kalimantan Amat Rentan Karhutla?
Dalam jangka lima hingga 10 tahun, peluang EV untuk mengambil pangsa pasar lebih besar semakin terbuka seiring pembangunan infrastruktur, peningkatan produksi lokal, perkembangan industri baterai, dan semakin matangnya layanan purna jual.
Dengan demikian, masa depan otomotif Indonesia bukan soal EV langsung menggantikan mobil bensin, melainkan proses transisi bertahap menuju elektrifikasi.

Muhammad Imam Hatami
Editor
