Tren Leisure

Jangan Jadi Atlet Dadakan, Olahraga Ekstrem Bisa Picu Penyakit

  • Tren lari dan Hyrox meningkat, dokter mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan tubuh berolahraga ekstrem tanpa mengecek kondisi kesehatan.
Ilustrasi pasangan anak muda melakukan olahraga lari.
Ilustrasi pasangan anak muda melakukan olahraga lari. (freepik.com/jcomp)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Tren olahraga intensitas tinggi seperti lari jarak jauh hingga Hyrox semakin diminati masyarakat, termasuk kelompok usia produktif. Namun, keinginan mengikuti tren olahraga tersebut tanpa memahami kondisi tubuh justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk henti jantung.

Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2026 dr. Rizky Aulia Fanani mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan olahraga sebagai ajang memaksakan kemampuan fisik. Menurutnya, aktivitas olahraga seharusnya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu.

Rizky menyebut fenomena “mendadak atlet” menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Seseorang yang sebelumnya tidak terbiasa berolahraga dapat tiba-tiba mengikuti aktivitas dengan intensitas tinggi hanya karena sedang mengikuti tren.

“Banyak yang begitu memakai jersey, langsung merasa menjadi atlet mendadak dan tidak bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Olahraga itu yang penting niatnya untuk bergerak, bukan harus selalu berkompetisi,” kata Rizky, dikutip Antara, Jumat, 25 September 2026.

Menurut dia, olahraga dengan intensitas tinggi sebenarnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan apabila dilakukan secara tepat. Persoalannya muncul ketika seseorang memaksakan diri berolahraga melebihi kemampuan tubuh tanpa mengetahui kondisi kesehatan yang dimiliki.

Baca juga : APBN 2027 Tembus Rp4.106 Triliun, Bagaimana Negara Mengelolanya?

Kondisi tersebut menjadi semakin berisiko apabila seseorang memiliki faktor risiko kardiovaskular yang belum terdeteksi. Hipertensi, gangguan irama jantung, kolesterol tinggi, hingga kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko masalah jantung ketika tubuh mendapat beban fisik yang berat.

Dalam kondisi tertentu, aktivitas fisik yang terlalu berat dan dilakukan tanpa persiapan dapat memicu out-of-hospital cardiac arrest (OHCA) atau henti jantung yang terjadi di luar fasilitas kesehatan.

Semua Ikut Lari dan Hyrox, tetapi Lupa Cek Tensi

Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Iwet Ramadhan juga menyoroti kecenderungan masyarakat mengikuti olahraga high-impact tanpa terlebih dahulu memperhatikan kondisi kesehatan.

Menurut Iwet, antusiasme masyarakat terhadap olahraga seperti lari dan Hyrox perlu diimbangi dengan kesadaran untuk memeriksa tekanan darah dan kondisi jantung.

“Banyak yang berolahraga high-impact, semua lari, semua ikut Hyrox, tapi tidak memperhatikan tensinya dan tidak memperhatikan kesehatan jantungnya, sehingga akhirnya terjadi cardiac arrest,” ujar Iwet.

Karena itu, masyarakat yang ingin meningkatkan intensitas latihan disarankan mengetahui kemampuan tubuh terlebih dahulu. Pemeriksaan tekanan darah dan skrining kardiovaskular dapat menjadi bagian dari langkah pencegahan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena penyakit kardiovaskular tidak hanya menjadi persoalan kelompok usia lanjut. Kelompok usia 20–45 tahun juga disebut mulai menghadapi risiko, dengan laki-laki menjadi kelompok yang banyak ditemukan mengalami faktor risiko seperti hipertensi yang tidak terkontrol, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok.

Artinya, usia produktif bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari risiko gangguan jantung ketika melakukan olahraga berat.

Baca juga : UOB Pamerkan 48 Karya Finalis Painting of the Year di ASHTA District 8

Olahraga Tidak Harus Ekstrem

Peringatan tersebut tidak berarti masyarakat harus menghindari olahraga intensitas tinggi. Justru, olahraga tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Namun, peningkatan intensitas latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan mempertimbangkan kemampuan fisik.

Olahraga juga tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk kompetisi. Aktivitas fisik dengan intensitas yang sesuai kemampuan tubuh tetap dapat memberikan manfaat tanpa harus mengejar jarak, kecepatan, atau beban latihan tertentu.

Pesan itu juga menjadi salah satu bagian dari rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia 2026. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama YJI akan menggelar World Heart Day Run 2026 dengan jarak 5 kilometer.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada 27 September 2026. Lari tersebut dirancang sebagai kegiatan non-kompetitif untuk mengedukasi masyarakat bahwa aktivitas fisik tidak harus dilakukan secara ekstrem ataupun selalu berorientasi pada kompetisi.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat olahraga sebagai aktivitas untuk menjaga kesehatan, bukan sekadar mengejar pencapaian fisik.