Tren Leisure

Indonesia Juara 4 Kopi Dunia, Ini Data dan Tantangannya

  • Indonesia produsen kopi keempat dunia dengan produksi 11,3 juta karung. Robusta dominan, Arabika spesialti bernilai tinggi di pasar global.
Anak muda membeli kopi untuk diet.
Anak muda membeli kopi untuk diet. (freepik.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar dan paling beragam di dunia. Dengan kondisi geografis tropis dan bentang alam pegunungan yang luas, Indonesia memiliki keunggulan alami untuk menghasilkan kopi dengan karakter rasa yang unik dan bernilai tinggi di pasar global.

Dikutip data Kementerian Pertanian, Selasa, 3 Februari 2026, secara global, Indonesia menempati posisi produsen kopi terbesar keempat dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Pada musim tanam 2025/2026, produksi kopi nasional diproyeksikan mencapai 11,3 juta karung atau sekitar 678 ribu ton. 

Dari jumlah tersebut, total ekspor kopi menyentuh 6,5 juta karung atau setara 390 ribu ton, menjadikan kopi sebagai salah satu penyumbang devisa utama sektor perkebunan nasional.

Struktur produksi kopi Indonesia masih didominasi oleh kopi Robusta, yang menyumbang sekitar 80-90 persen dari total produksi nasional. Robusta menjadi tulang punggung ekspor massal Indonesia karena produktivitasnya tinggi dan permintaannya stabil, terutama untuk industri kopi instan dan blend global.

Sementara itu, kopi Arabika, meski volumenya lebih kecil, memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Arabika Indonesia dikenal di pasar internasional sebagai kopi spesialti dengan origin yang kuat, karakter rasa kompleks, serta metode pengolahan khas yang membedakannya dari negara produsen lain.

Baca juga : Gen Z Tinggalkan Alkohol dan Lebih Memilih Minum Kopi

Daerah Penyumbang Kopi

Pulau Sumatera menyumbang sekitar 70 persen produksi kopi nasional, menjadikannya pusat utama industri kopi Indonesia. Di Aceh, kopi Arabika Gayo telah lama dikenal dunia dengan aroma kompleks seperti gula merah, cokelat, dan citrus, yang tumbuh di dataran tinggi Pegunungan Gayo.

Di Sumatera Utara, kopi Mandheling menjadi legenda global berkat proses wet-hulling yang menghasilkan cita rasa earthy, spicy, dengan body tebal.

Sementara itu, Sumatera Selatan dan Lampung menjadi lumbung kopi Robusta, dengan kontribusi produksi terbesar secara nasional dan menjadi tulang punggung ekspor volume besar.

Provinsi lain seperti Bengkulu, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur turut menyumbang produksi signifikan dengan karakter kopi khas masing-masing wilayah.

Berdasarkan estimasi tahunan, Sumatera Selatan menjadi produsen kopi terbesar dengan produksi sekitar 250-300 ribu ton per tahun, disusul Lampung sebesar 200-230 ribu ton. 

Aceh dan Sumatera Utara menonjol sebagai sentra Arabika premium, sementara Sulawesi Selatan dikenal lewat kopi Toraja, dan Bali melalui Arabika Kintamani yang bercita rasa citrus segar.

Keanekaragaman wilayah produksi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan portofolio kopi terlengkap di dunia, baik dari sisi volume maupun kualitas.

Pada periode Januari-September 2024, ekspor kopi Indonesia tercatat mencapai 342 ribu ton dengan nilai sekitar US$ 1,49 miliar. Amerika Serikat dan Uni Eropa, khususnya Belgia dan Jerman masih menjadi tujuan utama, diikuti Mesir, Malaysia, dan Jepang.

Namun, sebagian besar ekspor kopi Indonesia masih berbentuk biji kopi hijau (green bean), yang berarti nilai tambah terbesar masih dinikmati negara pengolah. 

Meski demikian, tren ekspor kopi olahan dan kopi spesialti terus meningkat seiring berkembangnya industri hilir dan branding kopi asal Indonesia.

Meski menjadi produsen besar, Indonesia tetap melakukan impor kopi dalam jumlah terbatas. Impor ini umumnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri tertentu yang memerlukan spesifikasi khusus, seperti Robusta dari Vietnam atau Arabika dari Brasil.

Pada musim 2025/2026, volume impor diproyeksikan menurun menjadi sekitar 400 ribu karung atau 24 ribu ton, seiring membaiknya pasokan dalam negeri dan peningkatan produktivitas kebun rakyat.

Baca juga : Gen Z Tinggalkan Alkohol dan Lebih Memilih Minum Kopi

Tantangan Kopi Nasional

Di balik kekuatan besar tersebut, industri kopi nasional masih menghadapi tantangan serius. Mayoritas kebun kopi dikelola oleh petani kecil dengan luas lahan terbatas, pohon tua, dan teknik budidaya tradisional, sehingga produktivitas per hektare masih tertinggal dibanding negara pesaing seperti Vietnam.

Selain itu, perubahan iklim, serangan hama, serta fluktuasi harga global menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan pendapatan petani. Tantangan lain datang dari regulasi internasional seperti EU Deforestation Regulation (EUDR) yang menuntut ketertelusuran dan praktik produksi berkelanjutan.

Di sisi lain, peluang industri kopi Indonesia terbuka lebar. Permintaan global terhadap kopi spesialti dengan identitas asal yang kuat terus meningkat. Kopi Gayo, Toraja, Kintamani, hingga Flores Bajawa memiliki posisi strategis di pasar ini.

Pasar domestik juga tumbuh pesat seiring menjamurnya kedai kopi, produk ready-to-drink (RTD), dan meningkatnya konsumsi kopi di kalangan generasi muda. Upaya peningkatan nilai tambah melalui sertifikasi, pengolahan pascapanen, dan penguatan merek lokal menjadi kunci masa depan sektor ini.

Dengan kekayaan rasa, keberagaman wilayah, dan posisi strategis di pasar dunia, kopi Indonesia memiliki fondasi kuat untuk terus tumbuh. 

Tantangan produktivitas dan keberlanjutan menjadi pekerjaan rumah utama, namun jika diiringi peremajaan kebun, penguatan petani kecil, dan hilirisasi yang konsisten, kopi Indonesia berpeluang naik kelas bukan sekadar produsen besar, tetapi juga pemain utama bernilai tinggi di industri kopi global.