Geopolitik Memanas, Harga Emas Berpotensi Naik 40 Persen
- Ketidakpastian geopolitik, perang dagang, hingga utang global menjadi penopang kuat reli emas, yang juga tercermin pada lonjakan harga emas di Indonesia.

Ananda Astri Dianka
Author


Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
(Foto : Panji Asmoro/TrenAsia)JAKARTA, TRENASIA.ID – Target harga emas di level US$5.000 per ons kini tidak lagi terdengar sebagai sekadar spekulasi. Hingga perdagangan Selasa 20 Januari 2026, harga emas spot global telah menembus US$4.715 per ons, melampaui level psikologis US$4.700 yang selama ini menjadi batas penting pergerakan harga.
Dengan posisi tersebut, emas kini hanya terpaut sekitar US$285 dari level “goceng” dalam denominasi dolar AS. Tren penguatannya pun terbilang konsisten. Dalam sepekan terakhir, harga emas naik 2,8%, dalam sebulan melonjak 8,7%, dan secara tahunan telah melesat sekitar 74%.
Kinerja ini mencerminkan kuatnya minat investor global terhadap emas, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Kenaikan harga emas global turut tercermin di pasar domestik.
Di Indonesia, harga emas fisik digital telah menembus kisaran Rp2,6 jutaan per gram, dengan kinerja setahun terakhir melonjak lebih dari 80%. Lonjakan ini menunjukkan bahwa emas kembali menjadi pilihan utama masyarakat untuk menjaga nilai aset di tengah volatilitas pasar keuangan.
- Baca Juga: Harga Emas di Pucuk, Masih Aman untu Masuk?
Mengutip Kitco News (19/1), Kepala Strategi Emas State Street Investment Management, Aakash Doshi, menilai peluang emas menembus US$5.000 per ons pada 2026 kini berada di atas 30%, bahkan mendekati 40% dalam 6–9 bulan ke depan.
Menurutnya, potensi koreksi jangka pendek atau fase pergerakan harga yang datar tidak mengubah arah tren emas secara keseluruhan yang masih cenderung menguat. Doshi menegaskan, penguatan emas saat ini tidak semata dipengaruhi oleh faktor suku bunga.
Risiko global yang semakin kompleks justru menjadi pendorong utama. Eskalasi perang dagang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk ancaman tarif 10% hingga 25% terhadap sejumlah negara Eropa, serta ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland, meningkatkan kekhawatiran pasar. Situasi tersebut mendorong investor kembali memburu emas sebagai aset aman atau safe haven.
Selain faktor geopolitik, tekanan struktural juga menjadi penopang harga emas. Defisit fiskal dan utang global, baik pemerintah maupun korporasi, tercatat mencapai rekor pada 2025.
Di saat yang sama, pembelian emas oleh bank sentral dunia tetap agresif dan relatif tidak sensitif terhadap harga. Arus dana ke ETF emas juga mencetak rekor hingga akhir 2025, memperkuat fondasi kenaikan harga.
State Street menilai emas kini berada pada kisaran yang relatif “nyaman” di rentang US$4.000–US$5.000 per ons, dengan ruang kenaikan yang masih terbuka. Menariknya, emas dan saham Amerika Serikat sama-sama berada di level rekor, memperkuat peran emas bukan hanya sebagai pelindung nilai, tetapi juga sebagai penyeimbang risiko portofolio.
Bagi investor Indonesia, lonjakan harga emas tidak semata soal mahal atau murah, melainkan soal fungsi perlindungan nilai. Di tengah pasar saham, obligasi, dan nilai tukar yang semakin berfluktuasi, emas kembali diposisikan sebagai jangkar stabil portofolio. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, emas mulai dipandang sebagai aset inti untuk investasi jangka panjang, bukan sekadar instrumen lindung nilai.
Dengan dinamika global yang kian sarat ketidakpastian dan risiko struktural yang belum mereda, peluang emas menembus US$5.000 per ons kini semakin nyata, bukan lagi sekadar wacana di atas kertas.

Ananda Astri Dianka
Editor
