Dunia

China Minta Barat Tak Terlalu Ikut Campur Pada Perang Rusia-Ukraina

  • Menurut Duta Besar China untuk Uni Eropa, Fu Cong, Blok Barat terlalu berambisi membantu Ukraina untuk mendapat kemenangan telak atas Rusia dalam perang ini
<p>Presiden China Xi Jinping</p>

Presiden China Xi Jinping

(Istimewa)

BEIJING- Pemerintah China tampak menghindari keterlibatan pada konflik antara Rusia dan Ukraina. Meski begitu, duta besar Beijing untuk Eropa menyatakan keprihatinannya atas aksi ikut campur blok barat pada Ukraina.

Menurut Duta Besar China untuk Uni Eropa, Fu Cong, Blok Barat terlalu berambisi membantu Ukraina untuk mendapat kemenangan telak atas Rusia dalam perang ini.

Fu Cong mengatakan, pemerintah tidak setuju dengan keputusan negara barat yang menyediakan senjata untuk Ukraina akan benar-benar menyelesaikan masalah.

Pernyataan tersebut mengacu pada bantuan militer negara-negara Barat terus memberikan Ukraina selama perang.

"Terus terang, kami sangat prihatin dengan kemungkinan eskalasi konflik ini," kata Fu Cong, utusan tinggi China untuk Uni Eropa sebagaimana dikutip TrenAsia.com dari Insider Jumat, 10 Februari 2023.

Selain itu, Ia juga menolak gagasan bahwa konflik itu ada hubungannya dengan Taiwan, titik sulit bagi China.

"Kami sangat prihatin dengan orang-orang yang berbicara tentang memenangkan kemenangan penuh di medan perang. Kami percaya bahwa tempat yang tepat adalah di meja perundingan," lanjut Fu.

Menanggapi hal tersebut, analis sekaligus ahli terkemuka mengatakan bahwa keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin yang secara ilegal mencaplok empat wilayah Ukraina membuat pembicaraan damai atau negosiasi sangat tidak mungkin terjadi di masa mendatang. Yang bisa dilakukan hanyalah pertempuran.

Sebagaimana diketahui, China yang cenderung memihak Moskow dalam masalah geopolitik, telah mengambil langkah hati-hati sejak Rusia meluncurkan invasi tanpa alasan ke Ukraina Februari lalu.

China tidak mengutuk perang tersebut, tetapi juga tidak menawarkan dukungan yang jelas atau penuh untuk Rusia. Barat telah memperingatkan China agar tidak memberikan dukungan material kepada Rusia saat pertempuran di Ukraina berkecamuk.

Disamakan dengan Kedudukan China atas Taiwan

Meski diplomat China itu memperingatkan agar tidak mendukung kemenangan atas Rusia di medan perang, para pemimpin dan pejabat Barat telah berulang kali memperingatkan bahwa keberhasilan Rusia menginvasi Ukraina sama seperti kedudukan China atas Taiwan.

Sebagaimana diketahui, Taiwan merupakan pulau demokrasi dengan pemerintahan sendiri yang dilihat China sebagai provinsi yang memisahkan diri.

Menanggapi peraingatan dari Barat, Fu lantas menepis kesamaan antara invasi Rusia dengan status Taiwan bagi China.

"Ukraina adalah negara merdeka, dan Taiwan adalah bagian dari China. Jadi tidak ada perbandingan antara kedua masalah tersebut," ujarnya.

Perlu diketahui, selama kunjungan mendadak ke Inggris pada hari Rabu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membuat seruan lain untuk senjata yang lebih canggih, termasuk jet tempur.

Dalam pidato parlemen, Zelenskyy menyerahkan helm angkatan udara kepada pembicara House of Commons untuk dukungannya pada Ukraina.

"Kami memiliki kebebasan. Beri kami sayap untuk melindunginya," tulis pesan tersebut.  

Zelenskyy, yang juga mengunjungi Prancis pada hari Rabu, berterima kasih kepada anggota parlemen Inggris atas bantuan pesawat tempurnya.

Seruan Zelenskyy untuk pesawat tempur datang setelah keputusan baru-baru ini oleh AS, Inggris, dan Jerman untuk mengirim tank tempur ke Ukraina karena bersiap untuk serangan besar Rusia.

Saat ini, Inggris sedang mencari jet tempur mana yang mungkin dapat dikirim ke Ukraina,. Nmun, keputusan tersebut belum final.

Tak sampai di situ, Perdana menteri Inggris, Rishi Sunak juga mengatakan bahwa negaranya   akan mulai melatih pilot Ukraina untuk menggunakan jet tempur NATO yang lebih canggih.