BMRI Rajai Green Banking, Kucurkan Rp316 T untuk ESG
- Bank Mandiri salurkan kredit berkelanjutan Rp316 triliun dan kuasai 35% pasar pembiayaan hijau. Raih skor ESG 9,5 serta dukung target NZE 2030.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI kembali menegaskan posisinya sebagai pemimpin pasar pembiayaan berkelanjutan di Indonesia sepanjang tahun 2025. Perseroan tercatat telah menyalurkan total kredit berkelanjutan mencapai Rp316 triliun hingga akhir Desember atau tumbuh tujuh persen secara tahunan.
Dari total nilai tersebut, porsi pembiayaan hijau atau green financing mendominasi dengan nilai penyaluran sebesar Rp166 triliun ke berbagai sektor. Sementara itu, pembiayaan berbasis sosial tercatat sebesar Rp150 triliun, menjadikan pangsa pasar Mandiri sebagai yang terbesar di industri perbankan nasional.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menjelaskan bahwa pencapaian ini didorong oleh implementasi strategi Environmental, Social, and Governance yang sangat ketat. Tiga pilar utama yakni Sustainable Banking, Operation, dan Beyond Banking menjadi fondasi strategi bisnis operasional perusahaan saat ini.
1. Kutipan Pangsa Pasar
Dalam taklimat media virtual di Jakarta, Riduan menyampaikan dominasi Bank Mandiri dalam penyaluran kredit hijau dibandingkan kompetitornya. Ia mengatakan, "Pangsa pasar pembiayaan hijau Bank Mandiri mencapai lebih dari 35% di antara tiga bank besar nasional," jelasnya dalam keterangannya pada Kamis, 6 Februari 2026.
Pembiayaan hijau sebesar Rp166 triliun tersebut dialokasikan secara strategis untuk sektor-sektor yang mendukung pengurangan emisi karbon dan pelestarian lingkungan hidup. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hijau yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Sementara itu, pembiayaan sosial sebesar Rp150 triliun difokuskan untuk pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan ekonomi golongan menengah ke bawah. Keseimbangan portofolio antara aspek lingkungan dan sosial ini menjadi kunci keberhasilan Bank Mandiri dalam mempertahankan kinerja positif tahunan.
2. Target NZE 2030
Dalam pilar Sustainable Operation, Bank Mandiri menetapkan target ambisius untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada operasional perusahaan tahun 2030. Upaya ini dilakukan melalui serangkaian inisiatif nyata seperti pemantauan jejak karbon digital secara berkala di seluruh unit kerja.
Strategi optimalisasi konsep green building juga diterapkan pada gedung-gedung kantor cabang maupun kantor pusat untuk menghemat penggunaan energi listrik. Selain itu, perseroan mulai beralih menggunakan kendaraan listrik dan hybrid sebagai armada operasional guna menekan polusi udara perkotaan.
Langkah konkret lainnya adalah pemasangan panel surya sebagai sumber energi terbarukan di sejumlah aset properti milik bank pelat merah tersebut. Transformasi operasional ini membuktikan bahwa Bank Mandiri tidak hanya membiayai proyek hijau tetapi juga mempraktikkannya dalam keseharian.
3. Inklusi Keuangan Digital
Pada pilar Sustainability Beyond Banking, fokus utama diarahkan pada perluasan akses keuangan atau inklusi finansial bagi masyarakat yang belum terlayani. Bank Mandiri mencatat data impresif melalui platform digital Livin’ Merchant yang kini menjadi andalan para pelaku usaha kecil.
Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 62,7 persen pengguna Livin’ Merchant merupakan pelaku UMKM yang berdomisili di wilayah non-urban atau pedesaan. Angka ini setara dengan sekitar 1,9 juta pengguna yang kini telah terhubung dengan ekosistem perbankan digital secara formal.
Perluasan jangkauan ke wilayah pelosok ini bertujuan untuk menciptakan dampak sosial yang terukur dan meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal. Dengan digitalisasi, pelaku usaha mikro dapat mengelola keuangan lebih baik dan mendapatkan akses modal usaha dengan lebih mudah.
4. Dukungan Asta Cita
Komitmen keberlanjutan Bank Mandiri juga dirancang selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Fokus utamanya mencakup penguatan sektor pendidikan, kesehatan, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL perseroan secara khusus menyasar kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan akses layanan. Inisiatif ini sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals(SDGs) untuk mengurangi ketimpangan sosial di berbagai daerah.
Hal ini dipertegas Riduan yang menyebutkan bahwa program keberlanjutan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian integral dari dukungan terhadap program pemerintah. Sinergi antara korporasi dan visi negara diharapkan mampu mengakselerasi pemerataan ekonomi hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
5. Fondasi Bisnis
Menutup paparannya, Riduan menegaskan filosofi dasar yang dipegang perusahaan dalam menjalankan bisnis perbankan modern yang bertanggung jawab. Ia menuturkan, "Keberlanjutan kami posisikan sebagai fondasi strategi bisnis agar setiap pertumbuhan yang kami dorong mampu menciptakan dampak nyata."
Ia menambahkan bahwa nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan harus berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional jangka panjang. "Serta nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional," tegasnya dalam pernyataan penutup.
Konsistensi ini berbuah manis dengan pengakuan dari lembaga pemeringkat global independen Sustainalytics pada tahun 2025 yang menaikkan skor ESG Mandiri. Perseroan berhasil masuk dalam kategori negligible risk dengan skor 9,5 poin yang menandakan risiko ESG sangat rendah.

Alvin Bagaskara
Editor
