Bitcoin Gagal Jadi Safe Haven, Emas Tak Terkalahkan
- Bitcoin lebih pantas disebut “fool’s gold” atau emas palsu, terutama jika dibandingkan dengan kinerja emas di tengah ketidakpastian global.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Ekonom senior Johns Hopkins University, Steve Hanke, kembali melontarkan kritik keras terhadap Bitcoin dengan menegaskan aset kripto terbesar di dunia tersebut gagal menjalankan fungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Hopkins juga menegaskan Bitcoin lebih pantas disebut “fool’s gold” atau emas palsu, terutama jika dibandingkan dengan kinerja emas di tengah ketidakpastian global.
Kritik tersebut disampaikan Hanke melalui akun X resminya, bertepatan dengan melonjaknya harga emas ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Hanke menyoroti kontras tajam antara pergerakan harga emas dan Bitcoin dalam periode yang sama, di mana harga emas dunia menembus level di atas US$5.000 per ons, mencerminkan permintaan yang kuat terhadap aset lindung nilai klasik.
Diwaktu yang sama Bitcoin justru diperdagangkan di kisaran US$80.000, turun signifikan dari periode puncaknya pada pertengahan tahun 2025.
Berdasarkan data yang dibagikan Hanke, emas mencatat kenaikan sekitar 48%, sedangkan Bitcoin justru terkoreksi sekitar 21,6% pada periode yang sama.
Baca juga : Airlangga Hartarto: SRC Serap 1 Juta Tenaga Kerja dan UMKM
Emas Tetap Tak Tegoyahkan
Menurut Hanke, reli emas saat ini menegaskan kembali peran tradisional logam mulia tersebut sebagai penyimpan nilai (store of value) di tengah meningkatnya risiko global.
Lonjakan harga emas, kata dia, didorong oleh kombinasi ketegangan geopolitik global yang belum mereda, kekhawatiran inflasi yang persisten di berbagai negara, serta pembelian emas secara agresif oleh bank sentral, khususnya dari negara berkembang, yang mendorong investor global kembali mengalihkan dana ke aset defensif dengan rekam jejak panjang.
Sebaliknya, Bitcoin dinilai masih menunjukkan volatilitas tinggi dan cenderung diperdagangkan seperti aset berisiko (risk asset), meskipun sudah tersedia spot ETF Bitcoin di pasar keuangan global.
Dalam kondisi pasar tertekan, Bitcoin disebut gagal bergerak sejalan dengan emas dan masih berada di bawah tren jangka panjangnya.
Hanke juga mengulang kritik fundamental terhadap Bitcoin dengan menyatakan bahwa aset kripto tersebut tidak memiliki nilai ekonomi intrinsik, tidak menghasilkan pendapatan atau arus kas, tidak mewakili klaim atas aset produktif, serta tidak digunakan secara luas sebagai satuan hitung ekonomi.
Baca juga : Omzet SRC Tembus Rp236 T, Toko Kelontong Kian Berdaya
Atas dasar itu, ia menolak narasi yang menyebut Bitcoin sebagai “emas digital”, dengan menegaskan “kelangkaan saja tidak cukup” untuk menciptakan nilai jangka panjang tanpa stabilitas harga, penggunaan moneter yang luas, serta dukungan ekonomi nyata.
Lebih jauh, Hanke memperingatkan penggunaan Bitcoin sebagai aset cadangan oleh pemerintah atau korporasi justru berpotensi meningkatkan volatilitas neraca keuangan, menyebabkan alokasi modal yang tidak efisien, serta menambah risiko sistemik dalam pengelolaan keuangan.
Dalam kesimpulannya, ia menegaskan harga Bitcoin saat ini lebih mencerminkan spekulasi dan momentum pasar, sementara emas tetap mempertahankan reputasinya sebagai aset aman yang telah teruji selama berabad-abad dalam menghadapi krisis ekonomi dan geopolitik.

Amirudin Zuhri
Editor
