Tren Global

Menelusuri Potensi Minyak Venezuela

  • Menurut Energy Institute yang berbasis di London, Venezuela memiliki sekitar 17% cadangan global atau sekitar 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi.
Cadangan minyak Venezuela.
Cadangan minyak Venezuela. (news.sky.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro setelah melancarkan serangan besar-besaran di negara Amerika Selatan tersebut.

Dilansir dari BBC, Trump mengatakan presiden sayap kiri itu bersama istrinya diterbangkan keluar dalam sebuah operasi militer yang dilakukan bersama aparat penegak hukum AS. Mereka telah didakwa dengan pelanggaran narkoba dan senjata di New York.

Hal ini terjadi setelah dilaporkan terjadi ledakan di seluruh ibu kota Caracas pada Sabtu dini hari, termasuk di pangkalan militer.

Pemerintah Venezuela mengerahkan angkatan bersenjatanya dan menyatakan keadaan darurat nasional ketika Wakil Presiden Delcy Rodríguez tampaknya siap untuk mengambil alih kepemimpinan negara tersebut.

Penangkapan Maduro terjadi setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela, termasuk aksi Washington yang menyerang kapal-kapal di kawasan Karibia yang disebut digunakan untuk mengangkut narkoba.

Amerika Serikat menuduh Presiden Venezuela terlibat langsung dalam jaringan penyelundupan narkoba dan menyebutnya sebagai pemimpin yang tidak sah. Sebaliknya, Maduro menuding AS melakukan intimidasi dan berupaya menguasai sumber daya minyak Venezuela.

Dalam konferensi pers pada Sabtu, 3 Januari 2026, Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengelola Venezuela hingga tercapai proses transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Ia juga menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS akan masuk dan beroperasi di negara tersebut.

Minyak yang Diproduksi Venezuela

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun produksi minyak mentahnya masih jauh di bawah kapasitas maksimal. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang buruk, kurangnya investasi, dan penerapan sanksi internasional, sebagaimana ditunjukkan oleh data resmi.

Menurut Energy Institute yang berbasis di London, Venezuela memiliki sekitar 17% cadangan global atau sekitar 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi, pemimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Cadangan minyaknya sebagian besar terdiri dari minyak berat di wilayah Orinoco di Venezuela tengah, sehingga minyak mentahnya mahal untuk diproduksi, tetapi secara teknis relatif sederhana, berdasarkan keterangan dari Departemen Energi Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, Venezuela adalah anggota pendiri OPEC bersama Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi. Negara ini memproduksi minyak sebanyak 3,5 juta barel per hari pada tahun 1970-an, yang pada saat itu mewakili lebih dari 7% dari produksi minyak global. Produksi turun di bawah 2 juta barel per hari selama tahun 2010-an dan rata-rata sekitar 1,1 juta barel per hari tahun lalu atau hanya 1% dari produksi global.

Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada tahun 1970-an dengan mendirikan perusahaan minyak negara, Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA). Selama tahun 1990-an, Venezuela mengambil langkah-langkah untuk membuka sektor tersebut bagi investasi asing. Setelah terpilihnya Hugo Chavez pada tahun 1999, Venezuela mewajibkan kepemilikan mayoritas PDVSA atas semua proyek minyak.

PDVSA membentuk berbagai usaha patungan dengan harapan dapat meningkatkan produksi, termasuk dengan Chevron, China National Petroleum Corporation, ENI, Total, dan Rosneft dari Rusia.

Amerika Serikat sebelumnya merupakan pembeli utama minyak Venezuela. Namun, sejak diberlakukannya sanksi, China telah menjadi tujuan utama dalam dekade terakhir. Venezuela berutang sekitar US$10 miliar kepada China setelah China menjadi pemberi pinjaman terbesar di bawah mendiang Presiden Hugo Chavez.

Venezuela melunasi pinjaman dengan minyak mentah yang diangkut oleh tiga kapal tanker minyak mentah super besar yang sebelumnya dimiliki bersama oleh Venezuela dan China.

Apa Peran Chevron dalam Produksi Minyak Negara Itu?

Chevron adalah perusahaan Barat utama yang masih beroperasi di negara itu dan memproduksi sekitar seperempat minyak Venezuela. Pada awal abad ini, ketika banyak perusahaan lain dipaksa angkat kaki, Chevron memilih bertahan dengan keyakinan bahwa situasi suatu saat akan membaik.

Sekitar separuh dari minyak yang diproduksi Chevron dikirim ke Amerika Serikat. Pada hari Sabtu, Chevron menyatakan perusahaan sedang mengambil langkah-langkah untuk menjamin keamanan para karyawan dan kelangsungan operasinya di Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian dibawa pergi dalam operasi militer Amerika Serikat.

Perusahaan minyak raksasa yang berkantor pusat di Houston ini telah beroperasi di Venezuela sejak tahun 1923 dan hingga kini tetap menjalankan lima proyek produksi, baik di wilayah daratan maupun lepas pantai negara tersebut.

“Dengan lebih dari satu abad di Venezuela, kami mendukung transisi damai dan sah yang mendorong stabilitas dan pemulihan ekonomi,” kata Kevin Slagle, juru bicara Chevron.

“Kami siap bekerja secara konstruktif dengan pemerintah AS selama periode ini, memanfaatkan pengalaman dan kehadiran kami untuk memperkuat keamanan energi AS,” sambungnya.

Reaksi Negara Lain

Berita awal tentang serangan tersebut memicu reaksi terkuat dari sekutu lama Venezuela. Rusia menuduh AS melakukan tindakan agresi bersenjata yang sangat mengkhawatirkan dan patut dikecam. Kementerian Luar Negeri China menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka sangat terkejut dan mengutuk keras penggunaan kekerasan terhadap negara berdaulat dan presidennya.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional negara tersebut. Negara-negara tetangga Venezuela, Kolombia dan Brasil, mengkritik langkah-langkah tersebut.

Presiden Kolombia Gustavo Petro menyebut serangan itu sebagai serangan terhadap kedaulatan Amerika Latin, sementara Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menggambarkannya sebagai serangan kriminal.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula Da Silva menulis di X bahwa pemboman dan penangkapan Maduro melampaui batas yang tidak dapat diterima, menambahkan menyerang negara-negara dengan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional adalah langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan, kekacauan, dan ketidakstabilan.

Presiden Chili Gabriel Boric menyatakan keprihatinan dan kecaman atas peristiwa X dan menyerukan solusi damai untuk krisis serius yang melanda negara tersebu. Presiden Kuba Miguel Diaz-Cane menuduh AS melakukan serangan kriminal.

Di panggung internasional, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sangat prihatin dengan serangan tersebut, dan juru bicaranya mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa hal itu menciptakan preseden berbahaya.

Sekretaris Jenderal PBB sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional tidak dihormati dan menyerukan kepada semua pihak di Venezuela untuk terlibat dalam dialog inklusif, dengan menghormati sepenuhnya hak asasi manusia dan supremasi hukum, kata juru bicaranya.