BBM Nonsubsidi Naik Tajam, Kelas Menengah Paling Terpukul
- BBM nonsubsidi naik tajam tanpa sorotan. Di balik klaim dampak kecil, kelas menengah dan sektor riil justru menghadapi beban baru.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kenaikan harga BBM nonsubsidi oleh PT Pertamina (Persero) terjadi tanpa banyak sorotan publik. Namun di balik itu, dampaknya tidak sesederhana yang terlihat.
Narasi banyak tokoh menyebut dampaknya terbatas, tapi realitas di lapangan menunjukkan tekanan yang mungkin lebih dalam terutama bagi kelas menengah.
“Pengaruhnya terhadap masyarakat menurut saya tidak signifikan. Karena konsumen BBM non-subsidi jumlahnya tidak sebesar pengguna pertalite dan solar. Selain itu, BBM non-subsidi juga tidak digunakan untuk angkutan kebutuhan pokok,” jelas Pakar ekonomi bidang energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, dikutip Antara, Senin, 20 April 2026.
Kenaikan harga yang berlaku sejak 18 April 2026 dini hari tergolong agresif karena dilakukan sekaligus dalam satu waktu. Ini membuat efeknya terasa langsung bagi pengguna, tanpa fase penyesuaian bertahap.
Detail kenaikan:
- Pertamax Turbo: Rp13.100 → Rp19.400 (+48%)
- Dexlite: Rp14.200 → Rp23.600 (+66%)
- Pertamina Dex: Rp14.500 → Rp23.900 (+65%)
Yang tidak berubah:
- Pertalite tetap Rp10.000/liter
- Solar subsidi tetap Rp6.800/liter
Kenaikan tajam BBM non subsidi menunjukkan jika beban penyesuaian harga sepenuhnya dialihkan ke BBM nonsubsidi, sementara BBM subsidi tetap dijaga stabil.
Pemerintah dan sejumlah ekonom menilai dampak kebijakan ini relatif kecil terhadap inflasi. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa pengguna BBM nonsubsidi tidak sebesar BBM subsidi dan tidak dominan dalam rantai distribusi kebutuhan pokok.
Argumen yang digunakan:
- Pengguna BBM nonsubsidi lebih sedikit dibanding subsidi
- Tidak dominan digunakan untuk logistik pangan
- Dampak inflasi diperkirakan hanya 0,02–0,15% per Rp1.000 kenaikan
Meski secara makro terlihat aman, pendekatan ini cenderung mengabaikan dampak langsung ke kelompok tertentu yang justru paling terdampak.
Kelas Menengah: Paling Rentan Tapi Tak Terlindungi
Kelas menengah menjadi kelompok yang paling terdampak karena berada di posisi “tanggung”. Mereka tidak mendapatkan subsidi, namun juga tidak memiliki daya tahan finansial sebesar kelompok atas.
Karakter kelas menengah:
- Tidak mendapat subsidi BBM
- Menggunakan BBM nonsubsidi karena kebutuhan teknis
- Sensitif terhadap kenaikan biaya hidup
Dampak langsung:
- Pengeluaran bulanan meningkat
- Ruang konsumsi menyempit
- Risiko penurunan daya beli
Kondisi ini membuat kelas menengah menjadi kelompok paling rentan dalam setiap penyesuaian harga energi.
Baca juga : Bukan Sekedar Tren, Side Hustle Kini Jadi Strategi Bertahan Hidup
Ancaman “Turun Kelas Energi”
Kenaikan harga yang terlalu tinggi berpotensi mendorong perubahan perilaku konsumsi energi masyarakat. Ini dikenal sebagai fenomena “turun kelas energi”.
Apa yang bisa terjadi:
- Peralihan ke BBM subsidi seperti Pertalite
- Lonjakan konsumsi BBM subsidi
- Risiko salah sasaran dalam distribusi subsidi
Jika fenomena ini terjadi secara masif, maka tekanan fiskal pemerintah justru bisa meningkat karena subsidi membengkak.
"Kondisi ini dapat memicu fenomena 'turun kelas energi', yaitu peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi," jelas Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto.
Dampak ke Sektor Riil: Efek Berantai yang Luas
BBM nonsubsidi, terutama diesel seperti Dexlite dan Pertamina Dex, digunakan di banyak sektor produktif. Kenaikan harga tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dunia usaha.
Pengguna utama:
- Alat berat (tambang dan perkebunan)
- Nelayan dan transportasi logistik
- Usaha kecil berbasis mesin diesel
Efek berantai:
- Biaya operasional naik
- Harga barang ikut terdorong
- Margin usaha tertekan
Dampak ini sering tidak langsung terlihat, tetapi perlahan menyebar ke seluruh rantai ekonomi.
Baca juga : Mengenal Shadow Economy, Pusaran Uang di Balik Hajat Hidup Rakyat
Kenapa Harga Naik Sekarang?
Kenaikan ini dipicu oleh faktor eksternal, terutama harga minyak global yang meningkat akibat tensi geopolitik. Pemerintah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi agar tidak membebani anggaran negara.
Faktor utama:
- Lonjakan harga minyak dunia
- Risiko beban subsidi membengkak
- Penyesuaian mengikuti mekanisme pasar
Secara makro, dampak kenaikan BBM nonsubsidi memang terlihat kecil. Namun pada level mikro, efeknya jauh lebih terasa, terutama bagi kelas menengah dan pelaku usaha kecil.

Muhammad Imam Hatami
Editor
