Asing Kabur dari Bursa, Tapi Kenapa Saham ANTM, TLKM, dan BBRI Justru Diserok Triliunan?
- Meski asing jual bersih Rp52,65 triliun di pasar saham Indonesia, lima saham BUMN justru jadi incaran utama karena fundamental kuat dan prospek cerah.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar saham Indonesia menyajikan sebuah paradoks yang sangat tajam sepanjang tahun ini. Di satu sisi, investor asing tercatat 'kabur' dengan melakukan aksi jual bersih (net sell) masif mencapai Rp52,65 triliun. Namun di sisi lain, mereka justru ramai-ramai 'menyerok' atau memborong segelintir saham BUMN pilihan.
Fenomena 'pilih kasih' ini menunjukkan bahwa di balik sentimen negatif secara umum, 'smart money' global sebenarnya sedang melakukan akumulasi secara senyap pada saham-saham yang dinilai memiliki fundamental kokoh dan prospek cerah.
Lantas, siapa saja 'anak emas' BUMN yang menjadi incaran utama asing, dan apa sebenarnya 'harta karun' yang mereka lihat di balik emiten-emiten ini? Mari kita bedah tuntas.
1. Para 'Anak Emas' Incaran Asing
Di tengah 'badai' outflow, ada lima saham BUMN yang justru kebanjiran dana asing. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)menjadi juara tak terbantahkan, dengan nilai beli bersih asing tertinggi mencapai Rp6,38 triliun sejak awal tahun.
Di posisi kedua, ada raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang juga diakumulasi asing senilai Rp4,66 triliun. Menyusul di belakangnya adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net buy Rp1,07 triliun.
Dua nama lain yang juga menjadi primadona adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) (net buy Rp1,59 triliun) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) (net buy Rp414,91 miliar).
2. 'Resep Rahasia' di Balik Aksi Borong
Aksi borong ini bukan tanpa alasan. Kalangan analis menilai, emiten-emiten ini memiliki fondasi bisnis yang sangat kuat, mendominasi pasarnya masing-masing, serta memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang solid.
ANTM, misalnya, dinilai diuntungkan oleh tren hilirisasi dan kenaikan harga emas secara global. Sementara itu, TLKMmasih menjadi raja di sektor telekomunikasi, dan BBRI memiliki kekuatan tak tertandingi di segmen mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi.
3. Konfirmasi dari Analis Global
Pandangan ini juga diamini oleh para analis dari sekuritas global. Tim Riset JP Morgan, misalnya, memberikan pandangan positif terhadap TLKM didorong oleh keunggulan kompetitif struktural, operasi yang terintegrasi, dan jaringan layanan yang komprehensif. “Meningkatnya penetrasi fixed broadband mendukung potensi pertumbuhan layanan fixed-line,” tulis Tim Riset JP Morgan.
Sementara itu, analis OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, juga menyoroti prospek cerah ANTM. Menurutnya, kinerja emiten ini akan terus ditopang oleh segmen emas dan bijih nikel yang didorong oleh harga jual rata-rata dan volume penjualan yang kuat. “Pandangan optimis kami didukung oleh segmen emas dan bijih nikel... yang menjadi tulang punggung pertumbuhannya,” ujar Devi dalam risetnya.
4. Apa Artinya Ini Bagi Investor?
Bagi investor, fenomena ini adalah 'contekan' atau petunjuk yang sangat berharga. Ini menunjukkan bahwa di tengah sentimen pasar yang negatif, 'smart money' global tidak benar-benar 'kabur', melainkan sedang sangat selektif.
Aksi borong yang terpusat pada saham-saham BUMN dengan fundamental kuat dan prospek cerah ini adalah sinyal kepercayaan jangka panjang. Ini adalah momen bagi investor ritel untuk tidak ikut panik, melainkan kembali fokus pada saham-saham berkualitas.
Kombinasi antara fundamental yang kokoh, dominasi pasar, dan katalis positif dari tren makroekonomi menjadi 'resep' utama yang membuat saham-saham ini tetap menjadi primadona, bahkan di saat pasar secara umum sedang bergejolak.

Alvin Bagaskara
Editor
