Apakah Uang Benar-benar Membuat Bahagia? Ini Jawaban Ilmu Ekonomi
- Penelitian Daniel Kahneman, Harvard, dan ekonom perilaku menunjukkan hubungan antara pendapatan, rasa aman finansial, dan kebahagiaan lebih kompleks daripada yang selama ini diyakini.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID--Ada satu kalimat yang hampir pernah dipikirkan semua orang ketika pertama kali memasuki dunia kerja: kalau nanti gaji saya sudah dua digit, hidup pasti lebih tenang.
Harapan itu terdengar masuk akal. Pendapatan yang lebih besar semestinya memberi ruang untuk menabung, membeli rumah, membantu orang tua, sesekali berlibur, atau sekadar tidak lagi khawatir ketika dompet tiba-tiba kosong di akhir bulan.
Namun kenyataannya, setelah target itu tercapai, banyak orang justru menemukan kegelisahan baru. Gaji memang naik, tetapi pengeluaran ikut membesar. Tabungan bertambah, tetapi rasa aman tidak kunjung datang. Target finansial bergeser begitu cepat sehingga standar "cukup" terasa semakin jauh.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara, termasuk negara-negara maju yang tingkat pendapatannya jauh lebih tinggi, para ekonom dan psikolog justru menemukan paradoks yang menarik.
Kekayaan masyarakat meningkat selama puluhan tahun terakhir, tetapi kebahagiaan tidak selalu bergerak dalam arah yang sama. Pertanyaan klasik yang selama ini terdengar filosofis, "apakah uang benar-benar membuat manusia bahagia?" ternyata menjadi salah satu topik yang paling serius diteliti dalam ilmu ekonomi modern.
Ekonom peraih Nobel Daniel Kahneman bersama ekonom Angus Deaton menjadi salah satu peneliti yang mengubah cara dunia memandang hubungan antara uang dan kebahagiaan.
Dalam riset yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2010, keduanya menemukan bahwa peningkatan pendapatan memang berhubungan erat dengan meningkatnya kualitas hidup, terutama ketika seseorang berhasil keluar dari tekanan memenuhi kebutuhan dasar.
Mengakses Layanan
Pendapatan yang lebih tinggi membuat orang lebih mampu mengakses layanan kesehatan, pendidikan, makanan bergizi, hingga lingkungan tempat tinggal yang lebih baik. Namun, mereka juga menemukan sesuatu yang menarik.
Setelah kebutuhan dasar relatif terpenuhi, tambahan pendapatan tidak lagi meningkatkan kebahagiaan sehari-hari dengan laju yang sama. Seseorang mungkin merasa lebih puas ketika melihat pencapaian hidupnya secara keseluruhan, tetapi belum tentu merasa lebih bahagia saat menjalani kesehariannya.
Temuan tersebut sempat melahirkan keyakinan populer bahwa "uang hanya membeli kebahagiaan sampai batas tertentu." Lebih dari satu dekade kemudian, ekonom Harvard University Matthew Killingsworth melakukan penelitian menggunakan pendekatan berbeda.
Alih-alih meminta responden mengingat bagaimana perasaan mereka beberapa bulan sebelumnya, Killingsworth mengumpulkan jutaan data emosi secara real time melalui telepon genggam.
Hasilnya menunjukkan bahwa kebahagiaan rata-rata ternyata masih terus meningkat seiring bertambahnya pendapatan, bahkan pada kelompok berpenghasilan tinggi. Kahneman dan Killingsworth justru menerbitkan analisis bersama yang menyimpulkan bahwa kedua temuan tersebut saling melengkapi.
Pendapatan memang meningkatkan kebahagiaan bagi sebagian besar orang, tetapi efeknya jauh lebih kecil bagi mereka yang sejak awal mengalami tekanan psikologis berat. Dengan kata lain, uang dapat mengurangi sebagian penderitaan, tetapi tidak selalu mampu menyelesaikan sumber penderitaan itu sendiri.
Ekonom perilaku sekaligus peraih Nobel Richard Thaler menjelaskan bahwa manusia hampir tidak pernah menilai uang secara absolut. Kita lebih sering membandingkan diri dengan lingkungan sekitar atau dengan versi diri kita di masa lalu.

Ketika gaji naik, standar hidup ikut naik. Rumah yang dulu terasa cukup mulai dianggap sempit. Telepon genggam yang baru dibeli tahun lalu terasa ketinggalan. Mobil yang dulu menjadi impian perlahan berubah menjadi kebutuhan biasa.
Psikologi menyebut kondisi ini sebagai hedonic adaptation, kemampuan manusia beradaptasi terhadap pencapaian baru sehingga rasa senang yang muncul perlahan memudar.
Semakin cepat seseorang menaikkan standar hidupnya, semakin cepat pula ia kembali merasa "biasa saja". Itulah sebabnya kenaikan pendapatan sering kali tidak diikuti kenaikan kebahagiaan dalam jangka panjang.
Fenomena tersebut terasa semakin relevan jika melihat kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan biaya hidup datang hampir bersamaan. Harga energi meningkat, nilai tukar rupiah melemah, biaya pendidikan terus naik.
Sementara berbagai layanan digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari penyimpanan cloud, aplikasi produktivitas, hingga layanan berbasis kecerdasan buatan, dibanderol dalam dolar Amerika Serikat. Bahkan bagi kelompok kelas menengah yang pendapatannya relatif stabil, rasa aman ekonomi justru mulai terkikis.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menggambarkan kondisi ini sebagai perubahan perilaku kelas menengah dari fase ekspansi menuju fase bertahan.
Menurutnya, persoalan terbesar saat ini bukan semata-mata menyusutnya jumlah kelas menengah, melainkan hilangnya rasa aman ekonomi. "Orang masih bekerja, masih memiliki penghasilan, tetapi merasa masa depannya semakin tidak pasti," ujar Yusuf.
Kualitas Hubungan Manusia
Temuan serupa sebenarnya sudah lama muncul dalam Harvard Study of Adult Development, salah satu penelitian longitudinal terpanjang di dunia yang mengikuti kehidupan ratusan orang selama lebih dari delapan dekade.
Direktur penelitian tersebut, psikiater Robert Waldinger, menyimpulkan bahwa faktor yang paling konsisten berkorelasi dengan kebahagiaan bukanlah tingkat kekayaan, melainkan kualitas hubungan antarmanusia. “Relasi yang baik lebih dapat menjaga kebahagiaan dan kesehatan,” ujar Waldinger dalam risetnya.
Hubungan yang sehat dengan keluarga, pasangan, teman, maupun komunitas terbukti lebih berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental dibanding tambahan pendapatan setelah kebutuhan dasar terpenuhi.
Perspektif itu sejalan dengan pemikiran ekonom pemenang Nobel Amartya Sen, yang menilai pembangunan seharusnya tidak diukur hanya dari besarnya pendapatan. Menurut Sen, kesejahteraan adalah kemampuan seseorang menjalani kehidupan yang ia anggap bernilai.
Baca Juga: Belajar Menikmati Hidup Lewat Film Perfect Days
Pendapatan hanyalah salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut, bukan tujuan itu sendiri. Dalam konteks itulah, pertanyaan "apakah uang membuat bahagia?" mungkin perlu diubah menjadi pertanyaan yang lebih relevan bagi kehidupan modern: apakah uang membuat kita merasa aman?
Sebab bagi sebagian orang, yang dicari bukanlah semata kemewahan, melainkan kebebasan untuk mengambil keputusan tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan finansial.
Kebebasan untuk memilih pekerjaan yang disukai, memiliki waktu bersama keluarga, membayar biaya kesehatan tanpa berutang, atau menghadapi masa depan tanpa rasa takut kehilangan semuanya sekaligus.

Chrisna Chanis Cara
Editor
