Tren Leisure

Belajar Menikmati Hidup Lewat Film Perfect Days

  • Film Perfect Days memancarkan keindahan dalam keheningan, sebuah penghormatan terhadap pesona kehidupan sehari-hari yang kerap luput dari perhatian.
Film Perfect Days.
Film Perfect Days. (hollywoodreporter.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Sebuah film tentang seorang pria yang bekerja membersihkan toilet umum di Tokyo dan merasa sangat puas dengan hidupnya kembali dibicarakan publik belakangan ini. Nama filmnya Perfect Days, sebuah karya yang sempat dipuji di Festival Film Cannes 2023.

Dilansir dari The Straits Times, dipuji karena penggambaran yang menyentuh tentang bagaimana keindahan dan kebahagiaan dapat ditemukan dalam hal-hal sederhana, Perfect Days meraih penghargaan Aktor Terbaik untuk aktor Jepang Koji Yakusho, sekaligus masuk nominasi penghargaan tertinggi Palme d’Or.

Film yang dibintangi Koji Yakusho ini pertama kali diputar di Festival Film Cannes, Prancis, pada 25 Mei 2023, dan diusulkan untuk berlaga di ajang Piala Oscar 2024 dalam kategori Best International Feature.

Wim Wenders, sutradara asal Jerman di balik film Perfect Days, mengaku tak pernah membayangkan karyanya bisa melaju sejauh ini. Meski sejak lama bermimpi membuat film di Jepang dengan Koji Yakusho sebagai pemeran utama, mewakili Jepang di ajang Oscar sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.

Keistimewaan Perfect Days

Film Perfect Days. (variety.com)

Perfect Days merupakan film yang memancarkan keindahan dalam keheningan, sebuah penghormatan terhadap pesona kehidupan sehari-hari yang kerap luput dari perhatian, sekaligus pengingat lembut bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari pencapaian, kecepatan, atau kemegahan, melainkan dari kesederhanaan, ketenangan, dan rutinitas kecil yang bermakna.

Berlatar di jantung kota Tokyo, film ini mengisahkan Hirayama, seorang petugas kebersihan toilet umum paruh baya yang menjalani hidup dalam ritme yang tenang dan monoton. Meski disajikan dengan narasi minimalis, Perfect Days menghadirkan perenungan mendalam tentang kegembiraan, kesendirian, dan proses penyembuhan.

Inti dari eksplorasi ini adalah konsep Jepang tentang komorebi, interaksi halus antara cahaya dan dedaunan, yang menjadi motif visual sekaligus metafora untuk kedamaian emosional.

Menceritakan tentang Hirayama (Koji Yakusho) yang tinggal sendirian di sebuah apartemen sederhana di Tokyo. Hidupnya mengikuti rutinitas yang ketat mulai dari bangun pagi, menyirami tanaman potnya, membeli kopi dari mesin penjual otomatis, mengendarai mobil van kerjanya, dan dengan teliti membersihkan toilet umum Tokyo, yang banyak di antaranya merupakan keajaiban arsitektur.

Setelah bekerja, ia makan makanan sederhana, mendengarkan kaset, membaca novel bekas, dan memotret pohon hitam-putih dengan kamera film.

Gaya hidup yang berulang ini, jauh dari membosankan atau mekanis, digambarkan sebagai kaya akan kesadaran dan niat. Hirayama menemukan kegembiraan dalam setiap tugas kecil, dalam setiap pertemuan, dan dalam momen-momen yang dilewati orang lain dengan tergesa-gesa.

Hari-harinya mungkin sempurna bukan karena dipenuhi dengan peristiwa luar biasa, tetapi karena ia sepenuhnya hadir di dalamnya.

Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak seperti monoton. Tetapi dalam Perfect Days, tindakan berulang ini bukanlah hal yang membosankan, melainkan sesuatu yang sakral.

Film ini menggambarkan rutinitas bukan sebagai jebakan, melainkan sebagai ritme, seperti detak jantung yang menopang kehidupan yang damai dan tenang. Ini adalah pengingat bahwa ada keindahan dalam ritual, dalam melakukan hal yang sama dengan penuh niat, berulang kali.

Berbeda dengan budaya kita yang serba cepat dan selalu menuntut “lebih,” Hirayama justru memilih kata “cukup.” Sebuah pilihan yang sederhana, namun diam-diam bersifat radikal.

Perfect Days merupakan perenungan sinematik tentang bagaimana kesederhanaan dapat menjadi sumber kebahagiaan. Cara hidup Hirayama menjadi penolakan terhadap konsumerisme, ambisi berlebihan, serta hiruk-pikuk distraksi digital.

Dalam kesehariannya, tak ada internet, televisi, atau notifikasi yang terus berdenting, yang ada hanyalah kenikmatan analog berupa suara, aroma, dan sentuhan.

Film ini secara halus menggugat cara berpikir modern: mengapa kesuksesan kerap disamakan dengan kecepatan, kebahagiaan dengan kekayaan, dan makna hidup dengan produktivitas? Di dunia Hirayama, kepuasan datang dari melakukan satu hal dengan baik, membersihkan lantai, melipat handuk, atau menikmati sinar matahari.

Ada nuansa kesakralan dalam caranya memaknai pekerjaan, yang menggemakan ajaran mindfulness dalam Buddhisme: hadir sepenuhnya di saat ini, tanpa keterikatan maupun penilaian. Ini bukanlah kehidupan yang dijalani dengan pasrah, melainkan hidup yang dipenuhi ketenteraman dan kepuasan.

Sepanjang film, komorebi, istilah Jepang untuk sinar matahari yang menembus dedaunan, muncul kembali sebagai motif visual dan emosional. Hirayama sering berhenti untuk menatap pepohonan, wajahnya diterangi oleh cahaya yang berubah-ubah. Ia bahkan memotretnya dengan penuh perhatian, seolah-olah berusaha menangkap sepotong keabadian yang singkat.

Dalam budaya Jepang, komorebi mewakili lebih dari sekadar gambar yang indah, ia melambangkan ketidakabadian, keindahan yang halus, dan resonansi emosional alam. Dalam Perfect Days, komorebi menjadi bentuk terapi diam bagi karakter dan penonton.

Cahaya yang disaring berfungsi sebagai penyejuk alami yang lembut bagi kesendirian Hirayama. Tidak pernah dijelaskan mengapa ia hidup seperti ini, apakah karena pilihan, pelarian, atau kehilangan, tetapi adegan komorebi menunjukkan pembaruan emosional. Ketika ia berdiri di bawah pohon dan mendongak, seolah-olah ia menghirup kedamaian dan menghembuskan kesedihan.

Wenders mengabadikan adegan-adegan ini dengan penuh kasih sayang, menggunakan cahaya alami dan pengambilan gambar panjang untuk mengajak kita merasakan apa yang dirasakan Hirayama: rasa ketenangan abadi, hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Di dunia yang penuh kebisingan, komorebi adalah musik yang tenang untuk jiwa.

Di era yang ditandai dengan pergerakan konstan, gangguan digital, dan tuntutan untuk terus produktif, Perfect Days hadir layaknya hembusan udara segar di ruang tertutup. Film ini tidak bising, tidak sarat konflik, dan tidak berusaha memukau penonton. Sebaliknya, film ini hanya ada, dengan tenang, indah, dan dengan kehadiran yang jarang kita temui dalam penceritaan modern.

Lebih dari sekadar tontonan, Perfect Days menjadi renungan tentang kesederhanaan, rutinitas, dan kekayaan makna yang lahir dari pilihan untuk menjalani hidup secara perlahan dan penuh kesadaran.

Perfect Days bukan film yang berteriak. Ia berbisik, mengajak penonton untuk memperhatikan, mendengarkan, dan bernapas. Di dunia yang memuja kecepatan dan kemegahan, Wim Wenders justru menghadirkan karya yang terasa tidak mengikuti arus zaman, dan justru karena itulah film ini terasa begitu revolusioner.

Dengan mengikuti kehidupan seorang petugas kebersihan toilet yang sederhana, film ini mengangkat hal-hal biasa menjadi sesuatu yang sakral. Film ini memberi tahu kita bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dalam kaset, dalam segelas air, dalam seberkas cahaya di lantai.

Bahwa penyembuhan dapat datang bukan dari kebisingan, tetapi dari pepohonan. Dan mungkin, hanya mungkin, “hari yang sempurna” adalah hari di mana kamu benar-benar hadir.