Tren Pasar

Anomali Pasar: Kenapa Rupiah Melemah Saat IHSG Cetak Rekor?

  • Ketimpangan pasokan dolar dan dominasi portofolio memicu depresiasi Rupiah di tengah gairah bursa saham. Investasi riil dinilai menjadi kunci stabilitas kurs.
Cash Pooling Mandiri .jpg
Karyawan memindahkan tumpukan uang rupiah di cash pooling Bank Mandiri, Jakarta, Jum'at, 21 Januari 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengukir sejarah baru di lantai bursa. Pada penutupatan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, indeks ditutup di level 9.074, naik 3,74% secara year to date. Posisi ini mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) baru di awal tahun.

Namun, kilau rekor saham ini tercederai oleh rapuhnya nilai tukar. Pantauan TrenAsia.id via Refinitiv, pada Jumat, 16 Januari 2026, Rupiah telah melemah 1,4% hingga 1,7% tahun ini. Kurs bergerak dari posisi Rp16.680 di awal tahun menjadi Rp16.955, yang artinya dolar naik Rp275, selama dua pekan terakhir.

Angka tersebut menunjukkan volatilitas yang sangat ekstrem di pasar uang. Meskipun di dunia saham 1,5% terlihat kecil, di dunia foreign exchange (forex) ini adalah gejolak besar. Lazimnya, mata uang yang stabil hanya bergerak tipis di kisaran 0,1% hingga 0,3% per minggunya.

Gejolak tinggi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan pelemahan lanjutan. Mata uang Garuda kini diprediksi bakal terus tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pekan depan, terimpit oleh sentimen eksternal yang beragam dan data ekonomi global.

Prediksi Tembus Rp17.000

Direktur Utama PT Forexindo Laba Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menyoroti fenomena gerak harga yang bertolak belakang ini. "Nilai tukar rupiah diperkirakan minggu depan bergerak dalam rentang Rp16.840 hingga tembus Rp17.000 per dolar AS. Semakin tinggi IHSG, semakin lemah rupiah," ujarnya dalam keterangannya pada Kamis, 15 Januari 2026.

Ibrahim menjelaskan, sentimen eksternal yang mereda justru menjadi pendorong penguatan Dolar AS. Meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran pasca indikasi Presiden Donald Trump, serta pembicaraan positif AS-Venezuela mengenai minyak, membuat mata uang Greenback kembali diburu oleh para investor global.

Selain itu, kepastian bahwa Trump tidak akan memecat Jerome Powell dari The Fed turut meredakan kecemasan pasar. Meskipun data Indeks Harga Produsen (PPI) AS menunjukkan inflasi masih di atas target, investor tetap yakin bank sentral AS akan memangkas suku bunga.

Konfirmasi Kelemahan Fundamental

Menanggapi proyeksi suram Rupiah di tengah rekor IHSG tersebut, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai kondisi ini mengonfirmasi adanya kelemahan fundamental ekonomi domestik. Kenaikan indeks tanpa topangan kurs kuat adalah sinyal rapuhnya pasar.

Menurutnya, hal ini terjadi karena ketimpangan pasokan dolar di dalam negeri. Ketika sentimen global membuat Dolar AS perkasa, Rupiah langsung terpuruk karena pasokan devisa stagnan. Padahal, permintaan terus melonjak tinggi untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

"Jika bicara stabilitas, kuncinya adalah pasokan dolar harus mencukupi untuk memenuhi permintaan. Jika permintaan naik namun pasokan terbatas, maka nilai Rupiah pasti terdepresiasi. Itu hukum pasar yang tidak bisa dihindari, terlepas dari rekor yang dicapai bursa saham," jelas Esther kepada TrenAsia.id pada Kamis, 15 Januari 2025.

Solusi: Investasi Sektor Riil

Lebih lanjut, Esther menekankan bahwa rekor IHSG di level 9.049 tidak bisa dijadikan tameng kekuatan ekonomi jika hanya didorong dana jangka pendek. Ia memperingatkan, jika Rupiah terus melemah ke Rp17.000, risiko arus modal keluar atau capital outflow akan semakin besar.

Untuk mencegah skenario tersebut, Esther menegaskan perlunya transformasi ke investasi sektor riil. "Untuk mencegah outflow saat global tidak pasti, harus ada investasi riil. Contohnya proyek transisi energi padat karya. Jika investasi tertanam di proyek fisik, arus modal tidak mudah keluar."

Selain itu, ia mendorong pemerintah agresif menggenjot ekspor jasa guna menambal kekurangan pasokan dolar. "Ekspor jasa ini krusial. Semakin banyak tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang menghasilkan devisa, itu akan menambah pasokan dolar hingga pelemahan Rupiah bisa diredam," pungkasnya.