137 Juta Warga Masuk Kelompok "Menuju" Kelas Menengah
- Data BPS menunjukkan kelas menengah Indonesia hanya 17% populasi. Kelompok terbesar justru menuju kelas menengah yang mencapai 137,5 juta jiwa.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Banyak orang mengira sebagian besar masyarakat Indonesia termasuk dalam kategori kelas menengah. Namun, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenyataan yang berbeda. Secara resmi, jumlah kelas menengah Indonesia hanya sekitar 17% dari total populasi.
Lalu siapa kelompok yang sebenarnya mendominasi struktur ekonomi Indonesia?
Jawabannya adalah kelompok Menuju Kelas Menengah, yang jumlahnya hampir mencapai separuh penduduk Indonesia. Kelompok inilah yang sering menjadi biang persepsi bahwa Indonesia memiliki kelas menengah yang sangat besar.
Berapa Jumlah Kelas Menengah di Indonesia?
BPS mengelompokkan penduduk berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita per bulan. Metode ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan konsumsi dan daya beli masyarakat secara lebih akurat.
Berdasarkan data tahun 2024, komposisi kelas ekonomi Indonesia adalah sebagai berikut,
- Kelas Atas: 1,07 juta orang atau 0,38% populasi, dengan pengeluaran di atas Rp9,9 juta per kapita per bulan.
- Kelas Menengah: 47,85 juta orang atau 17,13% populasi, dengan pengeluaran Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta per kapita per bulan.
- Menuju Kelas Menengah: 137,5 juta orang atau 49,22% populasi, dengan pengeluaran Rp874 ribu hingga Rp2,04 juta per kapita per bulan.
- Rentan Miskin: 67,69 juta orang atau 24,23% populasi, dengan pengeluaran Rp582 ribu hingga Rp874 ribu per kapita per bulan.
- Miskin: 25,22 juta orang atau 9,03% populasi, dengan pengeluaran di bawah Rp582 ribu per kapita per bulan.
Data tersebut menunjukkan jika kelompok terbesar bukanlah kelas menengah, melainkan masyarakat yang berada satu tingkat di bawahnya, yaitu kelompok menuju kelas menengah. Dengan jumlah mencapai 137,5 juta jiwa, kelompok ini mewakili hampir separuh populasi Indonesia.
Secara sosial, kelompok menuju kelas menengah sering kali sulit dibedakan dari kelas menengah.
Mereka umumnya sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar, memiliki akses terhadap pendidikan, menggunakan layanan perbankan, memiliki kendaraan pribadi, hingga aktif berbelanja di pusat perbelanjaan maupun platform digital.
Karena karakteristik tersebut, banyak anggota kelompok ini merasa dirinya telah menjadi bagian dari kelas menengah. Padahal secara statistik, mereka masih berada pada kategori menuju kelas menengah dan memiliki tingkat kerentanan ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Kelompok Terbesar Sekaligus Paling Rentan
Meski jumlahnya besar, kelompok menuju kelas menengah memiliki kondisi ekonomi yang relatif rapuh.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, inflasi, biaya pendidikan, biaya kesehatan, hingga kehilangan pekerjaan dapat dengan cepat menurunkan status ekonomi mereka menjadi kelompok rentan miskin.
Inilah alasan mengapa banyak ekonom menyebut kelompok ini sebagai "sandwich class" atau kelompok yang berada di tengah tekanan.
Di satu sisi mereka tidak masuk kategori miskin dan sering kali tidak menerima bantuan sosial. Namun di sisi lain mereka belum memiliki aset maupun tabungan yang cukup kuat untuk menghadapi guncangan ekonomi besar.
Meskipun rentan, kelompok menuju kelas menengah dan kelas menengah merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Jika digabungkan, kedua kelompok tersebut mencapai sekitar 66,35% dari total penduduk Indonesia.
Lebih penting lagi, mereka menyumbang sekitar 81,49% dari total konsumsi rumah tangga nasional. Fakta ini menjelaskan mengapa pemerintah dan pelaku usaha selalu memberi perhatian besar terhadap daya beli kelompok menengah.
Ketika konsumsi kelompok ini meningkat, ekonomi nasional cenderung tumbuh lebih cepat. Sebaliknya, ketika daya beli mereka melemah, perlambatan ekonomi dapat terjadi di berbagai sektor mulai dari ritel, otomotif, properti, hingga perbankan.
Jumlah Kelas Menengah Terus Menyusut
Data BPS juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada 2019, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 57,33 juta jiwa atau sekitar 21,45% populasi.
Namun pada 2024 jumlahnya turun menjadi 47,85 juta jiwa atau hanya 17,13% populasi. Artinya, dalam lima tahun terakhir Indonesia kehilangan hampir 9,5 juta penduduk kelas menengah.
Penurunan tersebut terjadi di tengah berbagai tekanan ekonomi global dan domestik, mulai dari pandemi COVID-19, perlambatan ekonomi dunia, gejolak geopolitik, hingga tingginya inflasi yang sempat menekan daya beli masyarakat.
Sebagian besar masyarakat yang keluar dari kelompok kelas menengah justru bergeser ke kategori menuju kelas menengah atau bahkan rentan miskin.
Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah kelompok rentan miskin dari sekitar 54,97 juta orang pada 2019 menjadi 67,69 juta orang pada 2024.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mobilitas ekonomi di Indonesia saat ini lebih banyak bergerak ke bawah dibandingkan ke atas.
Faktor yang Menekan Kelas Menengah
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab menyusutnya kelompok kelas menengah. Pertama adalah dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan.
Kedua, perlambatan ekonomi global yang memengaruhi kinerja industri dan investasi. Ketiga, fenomena deindustrialisasi dini yang membuat penciptaan lapangan kerja formal berkualitas menjadi lebih lambat dibanding pertumbuhan angkatan kerja.
Selain itu, kenaikan biaya hidup, inflasi, serta berbagai kebijakan fiskal seperti peningkatan tarif pajak juga dinilai menambah tekanan terhadap daya beli rumah tangga.

Muhammad Imam Hatami
Editor
