Nasional & Internasional

Pemulihan Ekonomi AS Bisa Beri Efek Buruk pada Indonesia

  • Analis Kebijakan Muda Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Anggi Novianti mengatakan kebijakan moneter Amerika Serikat bisa...

JAKARTA – Analis Kebijakan Muda Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Anggi Novianti mengatakan kebijakan moneter Amerika Serikat bisa mengancam pemulihan ekonomi Indonesia.

“Ketika ekonomi Amerika Serikat (AS) ada peningkatan yang pesat, dia akan mulai menormalkan kembali kebijakan moneternya,” kata Anggi dalam acara Tinjauan Ekonomi, Keuangan, dan Fiskal: Menjaga Optimisme Pemulihan Ekonomi, Rabu 28 April 2021.

Menurut Anggi, perbaikan ekonomi Amerika Serikat berpotensi menarik investor dari negara berkembang untuk kembali ke negeri dengan ekonomi terbesar itu. Kondisi ini, kata Anggi, perlu diwaspadai untuk mencegah investor asing meninggalkan Indonesia agar nilai mata uang Rupiah tidak semakin tertekan.

Perbaikan ekonomi Negeri Paman Sam sudah nampak dari lonjakan angka inflasi yang terus bergerak naik. Inflasi Amerika Serikat pada Maret naik 0,6% month to month (mtm). Kenaikan inflasi ini melengkapi tren kenaikan 0,4% mtm pada Februari 2021.

Perbaikan ekonomi Amerika Serikat bakal memuncak bila tingkat pengangguran bisa kembali ke level sebelum pandemi, yakni 3.5%. Untuk diketahui, tingkat pengangguran di Amerika Serikat saat ini adalah 6%.

“Amerika Serikat itu melihat normalisasi biasanya ditinjau dari job market dan inflasi. Bila membaik, tidak menutup kemungkinan bisa merubah suku bunga acuannya,” terang Anggi.

Untuk diketahui, Bank sentral Amerika Serikat The Fed menyatakan bakal menahan suku bunga acuan hingga 2023. The Fed menjaga suku bunga acuan di angka 0,07%. Kendati demikian, Anggi mewaspadai kebijakan tersebut bisa berubah seiring adanya normalisasi ekonomi di Negeri Paman Sam.

“Walau pun The Fed bilang bakal tahan sampai 2023, tapi kalau ekonomi AS normalisasi pasar bisa membaca adanya potensi perubahan suku bunga. Hal itu tentunya tidak terlalu menguntungkan Indonesia, “ terang Anggi.

Manfaatkan China

Dalam meredam volatilitas tersebut, Anggi menegaskan Indonesia harus secepatnya mengendalikan laju penyebaran COVID-19. Hal tersebut lah yang menjadi kunci kebangkitan ekonomi Indonesia untuk tetap bergerak secara agresif pada tahun ini.

Selain itu, Anggi menyebut Indonesia harus memanfaatkan pertumbuhan ekonomi agresif dari China untuk mendongkrak industri. “Bila Indonesia berhasil mempersiapkan shock ekonominya dengan ekspansi ke China, saya rasa tidak akan terlalu berdampak,” kata Anggi.

Setali tiga uang, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut ekspansi ekonomi China membuat Baltic Dry Index pada April 2021 juga semakin terkerek naik dan menyentuh level tertinggi sejak September 2019.

Kondisi itu mengisyaratkan perdagangan global yang sudah kembali ramai sejak adanya pandemi COVID-19 pada tahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi China sebesar 18,3% pada kuartal I 2021 dapat mengerek ekspor Indonesia.

“Setiap kali ekonomi China naik, negara emerging market ikut tertarik manfaatnya,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KITA, Kamis 22 April 2021.

Hal ini nampak dari volume ekspor Indonesia ke China pada Maret 2021 yang menembus US$18,35 miliar. Capaian tersebut meningkat 20,31% jika dibandingkan Februari 2021 yang sebesar US$15,26 miliar.

Melonjaknya aktivitas perdagangan Indonesia ke China turut berkontribusi terhadap nilai ekspor Indonesia yang tumbuh 30,47% year on year (yoy) pada Maret 2021.

Adapun nilai Indonesia pada Maret 2021 melesat 20,31% month to month (mtm) dibandingkan Februari 2021.  Indonesia mencatatkan nilai ekspor sebesar US$18,35 miliar pada Maret 2021.