Nasional

Tutup Usia di Umur ke-99, Ini Profil dan Sepak Terjang Mantan Presiden OPEC Asal Solo Subroto

  • Ia bahkan mendapat julukan sebagai The Wise Minister atau menteri yang bijak lantaran kearifan serta visinya yang hati-hati dalam pengelolaan minyak di kalangan negara-negara OPEC
pak-subroto-resmi-01.jpg

JAKARTA - Indonesia kembali kehilangan tokoh penting. Kali ini, Mantan Menteri Pertambangan dan Energi sekaligus Sekjen OPEC, Prof Dr. Subroto tutup usia di umurnya yang ke-99 pada Selasa, 20 Desember 2022 pukul 16.25 WIB.

Kabar duka tersebut disampaikan oleh keluarga Besar Bimasena dan juga Masyarakat Pertambangan dan Energi Indonesia. Sebelumnya,  Subroto sempat dikabarkan mengalami penurunan kondisi kesehatan dan dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Jakarta.

Jenazah Subroto kabarnya akan disemayamkan pada Rabu 21 Desember 2022 di peristirahatan terakhir Taman Makam Pahlawan Kalibata pukul 15.30 WIB.

Semasa hidupnya, Sbroto dikenal sebagai tokoh penting dalam sepak terjang energi dan pertambangan di Indonesia. Saat menjabat sebagai menteri pertambangan dan energi pada era Soeharto, Ia bahkan mendapat julukan sebagai The Wise Minister atau menteri yang bijak lantaran kearifan serta visinya yang hati-hati dalam pengelolaan minyak di kalangan negara-negara OPEC.

Subroto lahir di Kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah pada 19 September 1923. Setelah lulus tingkat SD atau Hollandsch Inlandsche School (HIS) zaman Belanda, Subroto melanjutkan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Sekolah Menengah Tinggi (SMT).

Situasi pada saat itu memaksa Subroto mendaftarkan diri menjadi tentara di masa pendudukan Jepang. Namun Ia ditolak menjadi tentara PETA (Pembela Tanah Air) lantaran badannya terlalu kurus.

Namun, November 1945, ia diterima sebagai kadet (taruna) Militaire Academie (MA) dan malah meraih predikat terbaik kedua dari 197 orang yang lulus 1948 dengan pangkat Letnan Dua.

Setelah zaman perang usai, Subroto melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Ia lulus sarjana muda pada Maret 1955 dan melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri.

Setelah meraih gelar Master of Arts dari Universitas McGill Montreal, Kanada pada 1956, Ia kembali ke Indonesia untuk mengambil program doktor ekonomi di UI. Subroto meraih gelar doktor ekonomi dari UI pada 1958. Di waktu yang sama, Subroto juga ditugaskan sebagai dosen Seskoad di Bandung. Salah satu muridnya adalah Soeharto.

Setelah Soeharto menjadi Presiden RI, Subroto dan kelompoknya diangkat sebagai penasehat bagi pemerintahan yang baru tersebut.

Subroto mula-mula diangkat sebagai Menteri Transmigrasi dan Koperasi (11 September 1971 - 28 Maret 1973), selanjutnya sebagai Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi (28 Maret 1973 - 29 Maret 1978), dan Menteri Pertambangan dan Energi selama dua periode kabinet (29 Maret 1978 - 21 Maret 1988).

Pada periode 31 Oktober 1984–9 Desember 1985 ia terpilih menjadi Presiden Konferensi Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan pada 1988 menjadi Sekretaris Jenderal OPEC yang berkedudukan di Wina, Austria.

Setelah tak lagi menjabat di ranah politik, nama Subroto diabadikan sebagai nama penghargaan di bidang energi. Sebab, dari  pemikirannya beberapa hal strategis yang berskala nasional tetap dijalankan seperti lahirnya Kebijakan Energi Nasional (KEN), program Listrik Masuk Desa (LMD), pengupayaan sumber energi nonminyak (seperti tenaga air, panasbumi dan matahari), sampai gerakan hemat energi.

Selain sebagai tokoh yang berjasa dalam kemajuan pembangunan energi di Indonesia, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang ikut merancang blueprint pembangunan perekonomian Indonesia.

Bersama Prof Dr Widjojo Nitisastro, Prof Dr Emil Salim, Prof Dr Moh Sadli, dan Prof Dr Ali Wardhana, ia menjadi anggota Tim Ekonomi untuk pembangunan Indonesia di era awal Orde Baru. Pada tahun 1968 Tim Ekonomi melahirkan seri Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).

Tags: