Nasional

Turun 1,5 Persen Secara Tahunan, ULN Februari Capai Rp5.975,8 Triliun

  • Secara keseluruhan, ULN Indonesia pada bulan Februari 2022 tetap terkendali, tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang relatif stabil di kisaran 34,2%, sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya yang sebesar 34,0%.
Turun 1,5 Persen Secara Tahunan, ULN Februari Capai Rp5.975,8 Triliun

JAKARTA -Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2022 mencapai US$416,3 miliar atau Rp5.975,8 triliun (kurs Rp14.354 per dolar AS). Angka ini melandai 1,5% (yoy) dan melanjutkan kontraksi pada bulan Januari yang sebesar 1,6% (yoy). 

Kepala Departemen Komunikasi dan Direktur Eksekutif BI Erwin Haryono menyatakan ULN Februari melandai karena kontraksi ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) dan sektor swasta. 

ULN Pemerintah pada akhir Februari 2022 mencapai US$201,1 miliar atau Rp2.886,1 triliun, terkontraksi 3,9% (yoy) dan lebih rendah dibandingkan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 5,4% (yoy), 

Ini disebabkan oleh penarikan neto pinjaman luar negeri yang digunakan untuk mendukung pembiayaan program dan proyek, antara lain berupa dukungan pembiayaan pembangunan dan peningkatan kapasitas infrastruktur serta program peningkatan daya saing, modernisasi industri, dan akselerasi perdagangan dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) dan Asian Development Bank (ADB)

"Penarikan ULN pada Februari 2022 masih diutamakan untuk mendukung belanja prioritas Pemerintah, termasuk upaya penanganan Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” kata Erwin dalam website resmi dikutip Kamis, 14 April 2022.

Ditambahkan,  dukungan ULN Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan belanja prioritas antara lain mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (24,6% dari total ULN Pemerintah), sektor jasa pendidikan (16,5%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,1%), sektor konstruksi (14,2%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (11,8%). 

“Posisi ULN Pemerintah relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,8% dari total ULN Pemerintah,” tambah Erwin.

Sementara ULN swasta pada akhir Februari mencapai US$206,3 miliar atau Rp2.960,4 triliun, terkontraksi 2% (yoy) dan lebih dalam dibandingkan kontraksi 0,8% pada periode sebelumnya. 

Hal ini disebabkan oleh kontraksi ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) sebesar 1,5% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 0,1% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan ULN lembaga keuangan (financial corporations) juga mengalami kontraksi 4,0% (yoy), meskipun lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada bulan sebelumnya yang sebesar 4,3% (yoy).

Berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi; sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin; sektor industri pengolahan; serta sektor pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 77,0% dari total ULN swasta. 

ULN swasta tetap didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,6% terhadap total ULN swasta. 

Secara keseluruhan, ULN Indonesia pada bulan Februari 2022 tetap terkendali, tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang relatif stabil di kisaran 34,2%, sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya yang sebesar 34,0%. 

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap sehat, ditunjukkan oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 87,8% dari total ULN. 

Tags: BI