Ancang-ancang China Lawan Amerika Lewat Perang Dagang
- Sebagai balasan, China menerapkan tarif 15% terhadap batu bara dan gas alam cair dari AS, 10% untuk produk seperti minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil bermesin besar. Hingga 15% terhadap produk pertanian AS seperti ayam, babi, kedelai, dan daging sapi.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA – Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas. Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan memberlakukan tarif tambahan hingga 50% terhadap seluruh produk impor asal China.
Langkah ini merupakan respons atas keputusan China yang sebelumnya menaikkan tarif balasan sebesar 34% terhadap produk-produk asal AS. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa ancaman tarif tambahan dari Trump semakin memperumit hubungan dagang kedua negara. Terlebih, Trump dikenal memiliki gaya politik yang sulit diprediksi dan kerap mengambil keputusan sepihak tanpa proses diplomasi yang panjang.
“Mengingat karakter Trump, hal ini memang memperumit keadaan. Namun, sebagai figur yang unpredictable, segala kemungkinan masih bisa terjadi,” ujar Lukman dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 8 April 2025.
Jika China tidak membatalkan kebijakan tarif balasannya, maka tarif tambahan dari AS akan mulai diberlakukan pada Rabu, 9 April 2025. Menurut Lukman, hal ini akan semakin memperkeruh situasi ekonomi global.
Sebelumnya, AS telah lebih dulu menerapkan sejumlah kebijakan tarif proteksionis, seperti tarif 25% untuk mobil impor, baja, dan aluminium, lalu, tarif 20% terhadap berbagai produk asal China. Dengan penambahan tarif baru, total tarif AS terhadap produk China kini mencapai 54%.
China Tak Tinggal Diam
Sebagai balasan, China menerapkan tarif 15% terhadap batu bara dan gas alam cair dari AS, 10% untuk produk seperti minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil bermesin besar. Hingga 15% terhadap produk pertanian AS seperti ayam, babi, kedelai, dan daging sapi.
Lukman menilai, China akan tetap melakukan perlawanan namun dengan pendekatan yang lebih strategis di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Respons Beijing tak hanya terbatas pada tarif, melainkan juga mencakup isu-isu global lain seperti TikTok dan ketegangan geopolitik di Taiwan.
“Trump masih bisa menggunakan TikTok dan mungkin Taiwan sebagai alat tawar untuk menyelamatkan dunia dari perang dagang antara dua ekonomi terbesar. Tapi tentu sekarang akan jauh lebih sulit, dan dampaknya bisa sangat besar,” kata Lukman.
Trump diduga kembali menggunakan narasi China sebagai “musuh bersama” demi meraih dukungan domestik, strategi yang juga digunakan saat masa kepresidenannya terdahulu.
Namun di sisi lain, China tetap merupakan mitra dagang utama bagi AS. Saat ini, China merupakan eksportir terbesar kedua ke AS setelah Meksiko, dengan nilai ekspor mencapai US$426,9 miliar. Sebaliknya, AS mengekspor barang senilai US$147,8 miliar ke China, menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai pasar ekspor ketiga terbesar setelah Kanada dan Meksiko.
Risiko Ekonomi Global
Lukman memperingatkan bahwa perang tarif ini bisa memicu efek domino yang luas. Ketegangan yang dibiarkan berlarut-larut akan mengganggu rantai pasok global, menekan perdagangan internasional, dan menghambat pemulihan ekonomi dunia pasca-pandemi.
Trump disebut masih mungkin memainkan isu TikTok dan Taiwan sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap China. Namun, Lukman menekankan bahwa konflik ini sudah jauh melampaui urusan dagang.
“Ini bukan lagi sekadar soal tarif. Ini bisa merambat menjadi isu politik dan keamanan global,” jelasnya.
Dengan gaya Trump yang keras kepala dan strategi China yang penuh perhitungan, ketegangan dagang ini bukan sekadar tarik-menarik ekonomi, melainkan bagian dari “permainan catur geopolitik” yang kompleks—dengan dampak yang bisa terasa hingga ke meja makan rumah tangga di berbagai belahan dunia.

Ananda Astridianka
Editor
