Pandemi Melanda, Disney Genjot Pendapatan Lewat TV Streaming
- Raksasa hiburan dunia Walt Disney dikabarkan bakal menggenjot pendapatan utamanya melalui layanan TV streaming

Rizky C. Septania
Author
JAKARTA – Raksasa hiburan dunia Walt Disney dikabarkan bakal menggenjot pendapatan utamanya melalui layanan TV streaming.
Hal ini dilakukan lantaran sumber pendapatan terbesar Disney yakni taman hiburan Disneyland di sejumlah tempat berhenti beroperasi akibat dampak pandemi.
Selama pandemi, Disney berhasil menggaet pengguna baru dalam jumlah signifikan.
CEO Disney, Bob Chapek memgatakan pada awal Maret lalu, layanan streaming berbayar Disney+ telah mencapai 100 juta pelanggan di seluruh dunia.
Mengutip reuters pada Rabu,12 Mei 2021 analis MoffetNathanson, Michael Nathanson memperkirakan jumlah pengguna tersebut naik sekitar 10 juta pada akhir Maret.
Pesatnya peningkatan jumlah pengguna Disney+ menjadikan perusahaan rumah mickey mouse ini sebagai penantang paling tangguh bagi Netflix.
Perlu diketahui, Netflix merupakan perusahaan pelopor streaming film dan TV yang beesiri sejak 2007. Pada Maret, Netflix dilaporkan memiliki 207,6 juta pelanggan aktif.
Produk Franchise Superhero Dijadikan Daya Tarik
Dalam menggaet pelanggan baru, Disney+ menjadikan franchise superhero dan kartun Disney sebagai daya tarik utama.
Sejumlah superhero Marvel yang ada di bawah Disney dibuatkan serial sendiri dengan mengambil latar setelah Avenger:Endgame berakhir.
Sebut saja serial WandaVision yang dirilis awal Januari lalu. Serial menceritakan hubungan dua superhero yakni Scarlett Witch dan Vision yang berakhir tragis dalam film Avenger:Infinity War.
Kemudian pada akhir Maret, serial Marvel lainnya yakni The Falcon and Winter Soldier dirilis dan berhasil menarik penonton.
Selain franchise superhero produk film animasi sepertu Raya and The Last Dragon dirilis dengan menarik tarif US$30 atau setara Rp426.855 (asumsi kurs Rp14.2000 per dollar AS)
Untung Apa Buntung?
Dalam memggenjot dan mengalihkan pendapatan Disney lewat kanal streaming video, Divisi media streaming Disney, yang dikenal sebagai direct-to-consumer diharuskan membayar sejumlah biaya.
Biaya tersebut meliputi biaya , pemrograman, pemasaran, dan peluncuran baru di seluruh dunia. Biaya inilah yang kemudian membuat Disney diduga merugi.
Analis dari lembaga Refinitif memperkirakan kerugian kuartalan US$673 juta atau sekitar Rp9,5 triliun untuk unit tersebut. Meski begitu, secara keseluruhan, analis memproyeksikan Disney masih memperoleh laba per saham sebesar 28 sen untuk kuartal tersebut dan pendapatan sebesar US$15,9 miliar atau sekitar Rp22,6 triliun. (RCS)
