Kinerja Kurang Oke, Saham TINS Dilego Investor Hingga Auto Reject Bawah
- Emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Timah (Persero) Tbk mencatat kinerja yang kurang memuaskan selama tahun pandemi 2020. Hal tersebut sontak membuat...

Drean Muhyil Ihsan
Author
JAKARTA – Emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Timah (Persero) Tbk mencatat kinerja yang kurang memuaskan selama tahun pandemi 2020. Hal tersebut sontak membuat sejumlah investor beramai-ramai melego saham berkode TINS ini.
Melansir data RTI Business, saham emiten tambang pelat merah itu anjlok hingga 6,86% atau 140 poin ke level Rp1.900 per lembar pada akhir sesi perdagangan Senin, 15 Maret 2021. Saham TINS pun harus berakhir auto reject bawah (ARB) pada perdagangan kemarin.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis perseroan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), beban pokok pendapatan TINS turun 22,54% secara tahunan menjadi Rp14,1 triliun pada tahun lalu. Pada periode 2019, beban pokok pendapatan TINS mencapai Rp18,2 triliun.
- Siap IPO di AS, Bongkar Profil 4 Start Up Unicorn-Decacorn Asal Indonesia
- Beban Usaha Berhasil Ditekan, Wika Beton 2020 Raup Laba Bersih Rp128,05 Miliar
- Super Power OJK Terkait Delisting Emiten, Direksi BEI Angkat Suara
Perseroan juga sukses menurunkan beban penjualan hingga 55,24% year-on-year (yoy) menjadi Rp69,44 miliar sepanjang tahun 2020. Di tahun sebelumnya, beban penjualan TINS sebesar Rp155,13 miliar.
Dengan catatan itu, rugi bersih perseroan menipis 44,28% yoy menjadi hanya Rp340,6 miliar pada tahun lalu dari Rp611,28 miliar pada tahun sebelumnya.
Adapun rugi bersih per saham TINS pada akhir Desember 2020 sebesar Rp46 dari Rp82 pada tahun 2019. Sementara itu, pendapatan TINS anjlok 21,33% yoy dari Rp19,34 triliun menjadi Rp15,22 triliun.
Selama masa pandemi, jumlah liabilitas jangka pendek TINS berkurang dari Rp11,96 triliun menjadi Rp5,87 triliun pada tahun lalu. Sedangkan, jumlah liabilitas jangka panjang justru naik menjadi Rp3,71 triliun pada 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp3,14 triliun.
Adapun akumulasi liabilitas TINS sepanjang tahun 2020 sebesar Rp9,58 triliun atau turun 36,58% yoy dari tahun 2019 senilai Rp15,10 triliun. Di samping itu, total ekuitas anak perusahaan PT Inalum ini juga menciut 6,05% yoy menjadi Rp4,94 triliun dari Rp5,26 triliun.
Sayangnya, kas dan setara kas perseroan ikut terperosok 49,52% yoy dari Rp1,60 triliun pada 2019, menjadi Rp807,30 miliar pada 2020. Sejalan dengan hal tersebut, total aset TINS tergerus menjadi Rp14,52 triliun pada tahun lalu, dari Rp20,36 triliun pada periode tahun 2019. (SKO)
