Simak Penjelasan Arcandra Tahar tentang Teknologi Hidrokarbon
JAKARTA – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan, penggunaan hidrogen (H2) dapat menjadi salah satu teknologi sumber energi terbarukan (EBT). Menurutnya, selama ini hidrogen kerap digunakan pada industri petrochemical, refinery, solar panel dan industri kaca. “Hidrogen juga digunakan sebagai alternatif sumber energi atau fuel cells untuk kendaraan listrik,” mengutip akun […]

Aprilia Ciptaning
Author


Arcandra Tahar
(Istimewa)JAKARTA – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan, penggunaan hidrogen (H2) dapat menjadi salah satu teknologi sumber energi terbarukan (EBT).
Menurutnya, selama ini hidrogen kerap digunakan pada industri petrochemical, refinery, solar panel dan industri kaca.
“Hidrogen juga digunakan sebagai alternatif sumber energi atau fuel cells untuk kendaraan listrik,” mengutip akun Instagram resmi @arcandra.tahar, Kamis, 27 Mei 2021.
- Satu Tahun Berizin OJK, DanaRupiah Layani 5,4 Juta Transaksi
- Pembelian Gas 3 Kg Bersubsidi Kini Pakai LPG Card
- Permintaan Meningkat, Industri Furnitur Tumbuh 8,04 Persen pada Kuartal I-2021
Meskipun demikian, apakah ia termasuk dalam energi yang ramah lingkungan? Arcandra pun menjelaskan beberapa aspek terkait hidrogen. Pertama, diketahui sebagian besar atau 99% dari hidrogen yang diproduksi sekarang ini, berasal dari hydrocarbons.
“Terdapat 71 persen dari hasil pengolahan natural gas menjadi CO2 dan H2,” jelasnya.
Adapun hidrogen yang berasal dari gas alam tersebut bernama Grey Hydrogen, sedangkan sisanya, diproduksi melalui olahan batu bara lewat teknologi gasifikasi. Proses ini disebut dengan Brown Hydrogen.
Arcandra menambahkan, ada pula sebagian kecil hidrogen yang diproduksi dari natural gas dan dikombinasikan dengan penginjeksian CO2. Hidrogen dengan proses ini dinamakan dengan Blue Hydrogen.
Maka, jika 99% dari hidrogen yang diproduksi saat ini berasal dari hidrokarbon dan ditambah dengan CO2 yang dihasilkan, Green Hydrogen menjadi pilihan teknologi yang ramah lingkungan.
Green hydrogen, terangnya, berasal dari pengolahan air lewat proses elektrolisis dengan menggunakan listrik EBT. Proses ini akan menghasilkan hidrogen yang murni dan zero carbon.
Tantangan Hidrokarbon
Meskipun demikian, teknologi ini masih memiliki sejumlah tantangan dari sisi biaya produksi yang sangat bergantung pada biaya listrik dan utilisasi dari plant yang dibangun.
Data dari Wood Mackenzie menunjukkan, Green Hydrogen bisa bersaing dengan Grey, Brown, dan Blue Hydrogen apabila biaya listriknya dibawah US$0.03/kWh. Selain itu, plant utilization rate juga mesti di atas 50%.
“Dua hal ini menjadi syarat yang berat untuk dipenuhi saat ini,” ungkap Arcandra. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk membuat tekonologi elektrolisis menjadi lebih efisien.
Selain itu, bisa dilakukan dengan menambah penetrasi EBT agar biaya listrik lebih murah. Terakhir, menaikkan carbon pricing bagi industri yang masih menggunakan sumber energi yang menghasilkan karbon.
Tak heran, untuk mengendalikan efek negatif perubahan iklim di dunia, banyak negara yang mencanangkan net-zero gas emission pada 2050.
“Jadi, untuk mencapai tujuan tersebut, banyak hal harus dilakukan, misalnya membuat kebijakan yang ramah lingkungan. Selain itu, mendorong investasi yang berbasis kepada energi terbarukan dan mengembangkan teknologi yang mampu menggantikan sumber energi fosil,” tuturnya.
