Korporasi

Menelisik Kinerja Keuangan PAM JAYA di Ambang IPO

  • PAM JAYA tengah mengkaji langkah IPO di Bursa Efek Indonesia. Dengan laba bersih yang melonjak pada 2023, seperti apa kesiapan keuangan perusahaan air milik Pemprov DKI Jakarta ini?
PAM-JAYA.jpg

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mengkaji rencana aksi korporasi Perusahaan Umum Daerah Air Minum Jaya (PAM JAYA) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia. Opsi pencatatan saham alias Initial Public Offering (IPO) dipertimbangkan sebagai sumber pendanaan jangka panjang, seiring agenda ekspansi layanan dan transformasi kelembagaan perusahaan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa keputusan terkait IPO tidak bisa diambil secara terburu-buru. Menurutnya, air merupakan kebutuhan dasar publik yang pengelolaannya tidak boleh semata-mata dikendalikan mekanisme pasar. 

Selain itu, Pemprov DKI juga membuka kemungkinan kemitraan strategis dengan pihak swasta sebagai alternatif pembiayaan. Sementara itu, manajemen PAM JAYA menyatakan kesiapan untuk melantai di bursa. Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menyebut IPO akan menjadi instrumen untuk memperkuat modal perusahaan, terutama guna mendanai proyek-proyek perpipaan di wilayah padat penduduk yang belum terlayani secara optimal.

Info saja, PAM JAYA saat ini melayani lebih dari 2,5 juta pelanggan dengan cakupan distribusi air mencapai 70% wilayah Jakarta. Bila pelepasan saham dilakukan sebesar 20%, perusahaan diproyeksikan dapat menghimpun dana segar sekitar Rp6 triliun hingga Rp8 triliun. Dana tersebut akan dialokasikan untuk perluasan jaringan serta peningkatan kapasitas produksi air bersih.

Kinerja keuangan PAM JAYA juga mencatat perbaikan signifikan sepanjang 2023. Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, laba bersih perusahaan melonjak 271% menjadi Rp1,25 triliun dari Rp335 miliar pada 2022. Pendapatan usaha naik menjadi Rp2,94 triliun, sementara beban usaha turun tajam dari Rp2,56 triliun menjadi Rp1,76 triliun.

Lonjakan laba terjadi seiring restrukturisasi model bisnis pasca-berakhirnya kerja sama dengan dua mitra swasta, Aetra dan Palyja. Sejak Februari 2023, PAM JAYA mengambil alih penuh pengelolaan layanan air minum di wilayah DKI Jakarta. Efisiensi operasional menjadi kunci perbaikan margin laba kotor yang melonjak hampir enam kali lipat menjadi Rp1,18 triliun.

Dari sisi neraca, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp4,82 triliun, naik dari Rp3,3 triliun pada akhir 2022. Kas dan setara kas meningkat signifikan menjadi Rp2,04 triliun, didukung oleh tambahan penyertaan modal dari Pemprov DKI sebesar Rp135 miliar. Struktur ekuitas diperkuat untuk mendukung agenda ekspansi jangka panjang.

Sejalan dengan langkah menuju IPO, PAM JAYA juga tengah memproses perubahan status badan hukum dari Perumda menjadi Perseroda. Langkah ini diperlukan untuk menyesuaikan tata kelola perusahaan dengan standar korporasi yang berlaku di pasar modal. Perseroda juga memungkinkan keterlibatan investor tanpa kehilangan kendali publik.

Perusahaan menargetkan cakupan air perpipaan mencapai 100% pada 2030 sesuai amanat Pergub No. 7 Tahun 2022. Dengan kinerja yang membaik dan struktur kelembagaan yang makin adaptif, PAM JAYA kian percaya diri menatap peluang pencatatan saham sebagai bagian dari transformasi menuju BUMD modern yang mandiri dan transparan.