Smartfren Bangun 6.000 BTS, Siapkan Duit Rp4,23 Triliun
Emiten telekomunikasi Grup Sinarmas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) menyediakan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$250 juta – US$300 juta untuk tahun 2021. Nilai ini setara dengan Rp3,53 triliun hingga Rp4,23 triliun.

Drean Muhyil Ihsan
Author


Emiten telekomunikasi dari Grup Sinarmas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) / Facebook @smartfren
(Istimewa)JAKARTA – Emiten telekomunikasi Grup Sinarmas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) menyediakan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$250 juta – US$300 juta untuk tahun 2021. Nilai ini setara dengan Rp3,53 triliun hingga Rp4,23 triliun.
Direktur Keuangan Smartfren Antony Susilo mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk menambah menara Base Transceiver Station (BTS) 4G lebih dari 6.000 unit. Sedangkan, kata dia, mayoritas sumber dana untuk capex tahun ini berasal dari pinjaman bank.
“Sumber dana capex tahun 2021 akan diambil dari dana internal maupun dari pihak bank. Mayoritasnya masih datang dari pihak bank,” ujarnya dilansir dari program News Screen Morning IDX Channel, Kamis 18 Maret 2021.
- Japfa Comfeed Rilis Sustainability-Linked Bond di Singapura Rp5 Triliun
- Kalbe Farma Lewat Enseval Raih Kontrak Kerja Sama Distribusi Vaksin Bio Farma
- Smartfren Bangun 6.000 BTS, Siapkan Duit Rp4,23 Triliun
Adapun alasan penambahan jumlah BTS ini untuk memperkuat jaringan layanan 4G. Terutama pada area potensial serta di area yang terdapat banyak pengguna layanan Smartfren.
Antony mengungkapkan, pihaknya telah menambah 10.000 BTS 4G sepanjang tahun 2020. Realisasi ini bahkan telah melebihi target awal yang telah ditetapkan oleh perseroan sebelumnya.
“Penambahan BTS 4G penting dilakukan demi memberikan layanan terbaik kepada pelanggan melalui internet yang lancar dan stabil,” tuturnya.
Melansir data RTI Business, saham FREN ambles hingga 5,68% menuju level harga Rp83 per lembar pada akhir sesi perdagangan Kamis, 18 Maret 2021.
Sepanjang tahun lalu, perseroan berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan usaha mencapai 34,62% secara tahunan menjadi Rp9,41 triliun dari tahun sebelumnya Rp3,99 triliun. (SKO)
