Dunia

Terbesar Selama Satu Abad Terakhir, Bank Sentral Swiss Merugi Rp2,23 Kuadriliun

  • Bank Central Swis atau Swiss National Bank (SNB) mengalami kerugian tahunan hingga US$143 miliar atau setara Rp2,23 kuadriliun (asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS).
SNB.jpg

ZURICH- Bank Sentral Swiss atau Swiss National Bank (SNB) mengalami kerugian tahunan hingga US$143 miliar atau setara Rp2,23 kuadriliun (asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS) pada tahun 2022.

Mengutip Reuters Senin,9 Januari 2022, kerugian yang tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah dalam 115 tahun terakhir disebabkan lantaran jatuhnya pasar saham dan pendapatan tetap. Alhasil, ini mempengaruhi nilai portofolio saham beserta obligasi.

Kerugian yang dialami Bank Sentral Swiss kali ini sangat berkebalikan dengan periode serupa pada tahun lalu. Pada akhir tahun 2021, SNB mencatat keuntungan sebesar 26 miliar franc Swiss atau kisaran Rp439 triliun (asumsi kurs Rp16.000 per franc Swiss).

Pada 2015, Bank Sentral Swiss pernah mencatatkan kerugian sebesar 23 miliar franc Swiss atau kisaran Rp388 triliun. Kala itu, angka ini hampir setara dengan PDB Maroko.

Seperti diketahui, tahun lalu krisis dan resesi membayangi dunia sehingga sejumlah Bank Sentral harus menaikkan suku bunga, termasuk SNB. Lantaran hal tersebut, pasar saham global ikut melemah serta terjadi penurunan terhadap harga obligasi.

Pada Juli tahun lalu, nilai tukar mata uang Swiss terhadap Euro ikut naik. Inilah yang kemudian membuat Bank Sentral Swiss semakin mengalami kerugian lantaran selisih nilai tukar.

Meski saham dan obligasi mengalami kerugian, pertumbuhan positif tampak pada kepemilikan emas Bank Sentral Swiss yang angkanya mencapai 1.040 ton. Atas kepemilikan tersebut, SNB memperoleh pendapatan kisaran 400 juta franc atau Rp6,7 triliun selama 2022.

Lantaran kerugian yang dialami SNB, tahun ini tampaknya Bank Sentral Swiss tak akan melakukan pembayaran seperti biasa kepada pemerintah pusat dan daerah Swiss. Padahal tahun sebelumnya, SNB membayar 6 miliar franc atau Rp101 triliun ke pemerintah pusat dan daerah setempat.

Walaupun SNB melaporkan kerugian, Ekonom dari Bank J. Safra Sarasinhal, Karsten Junius memastikan SNB tak akan mengubah kebijakannya.  Hal ini dapat dilihat dari aksi bank sentral yang menaikkan suku bunganya hingga tiga kali pada 2022 untuk membendung inflasi yang tinggi.

"Reputasi SNB yang tinggi membuatnya tidak perlu mengubah apa pun," kata Karsten.