Dunia

Akibat Pandemi, Sektor Jasa Jepang Menyusut 17 Bulan Berturut-Turut

  • TOKYO – Masyarakat Jepang mengurangi aktivitas jual beli dalam negeri sehingga sektor jasa tepantau menyusut selama 17 bulan berturut-turut selama pandemi COVID-19. Padahal sebelum pandemi melanda dunia, sektor jasa menjadi penopang ekonomi terbesar ketika bagi Jepang. Penurunan dalam industri jasa berdampak pada sektor swasta. Dalam dua bulan terakhir, sektor swasta terpantau mengalami kontraksi. Kontraksi ini […]

<p>Sekelompok wanita karir Jepang berjalan di distrik yang menjadi pusat bisnis di kota Tokyo<br />
Sumber; Reuters</p>

Sekelompok wanita karir Jepang berjalan di distrik yang menjadi pusat bisnis di kota Tokyo
Sumber; Reuters

(Istimewa)

TOKYO – Masyarakat Jepang mengurangi aktivitas jual beli dalam negeri sehingga sektor jasa tepantau menyusut selama 17 bulan berturut-turut selama pandemi COVID-19.

Padahal sebelum pandemi melanda dunia, sektor jasa menjadi penopang ekonomi terbesar ketika bagi Jepang.

Penurunan dalam industri jasa berdampak pada sektor swasta. Dalam dua bulan terakhir, sektor swasta terpantau mengalami kontraksi.

Kontraksi ini merupakan tanda ekonomi negara tersebut sedang dalam masa pemulihan setelah vaksin Corona mulai di suntikkan.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Jibun Bank Japan Services,Indeks Manajer Pembelian (PMI) terakhir Jepang berada pada penyesuaian musiman 48,0. Angka ini naik dari level akhir bulan sebelumnya di 46,5 dan pembacaan sekilas 47,2.

Artinya, saat ini aktivitas jasa berada di bawah ambang 50 dan memisahkan kontraksi dari ekspansi untuk bulan ke-17. Angka ini adalah rekor terpanjang sejak 27 bulan berjalan pada Maret 2010.

Survei PMI menunjukkan perusahaan melihat kontraksi yang lebih lambat dalam bisnis baru, termasuk dari luar negeri. Namun untuk proyeksi tahun depan tampak tumbuh lebih optimis.

“Bisnis di sektor jasa Jepang melaporkan bahwa aktivitas tetap tenang karena negara itu terus memerangi gelombang terbaru infeksi COVID-19,” kata Usamah Bhatti, ekonom di IHS Markit, yang menyusun survei tersebut.

Ia menambahkan bahwa saat ini perusahaan terus membangun kapasitas untuk mengantisipasi peningkatan permintaan. Meski negitu, laju penciptaan lapangan kerja saat ini menurun ke level terendah selama empat bulan. (RCS)