Fintech

Pasar Kripto Tunjukkan Pelemahan, Tanda-tanda Konsolidasi Market?

  • Pada awal April 2022, pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah mengalami bull run selama seminggu ke belakang.
Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Pixabay.com (Pixabay.com)

JAKARTA – Pada awal April 2022, pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah mengalami bull run selama seminggu ke belakang. 

Berdasarkan pantauan Coin Market Cap, Senin, 4 April 2022 pukul 16.00 WIB, Bitcoin (BTC) sudah bergerak ke zona merah dalam sehari ke belakang dengan persentase 0,44%. Saat ini, BTC menyentuh level US$46.008 atau setara dengan Rp660,8 juta dalam asumsi kurs Rp14.364 perdollar AS. 

Selain Bitcoin, aset-aset kripto seperti Solana (SOL), Terra (LUNA), XRP, Avalanche (AVAX), Polygon (MATIC) dan sebagainya pun tampak mulai menunjukkan tanda pelemahan. Bahkan, yang saat ini masih berada di zona hijau seperti Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB), dan lain-lain pun mulai menurun sedikit demi sedikit. 

Menurut trader Tokocrypto Afid Sugiono mengatakan bahwa pasar kripto sedang berada di situasi konsolidasi setelah reli kencang selama dua minggu terakhir. Afid menambahkan, situasi ini sebenarnya bisa berarti positif karena dapat menjaga stabilitas pasar dalam beberapa waktu ke depan. 

“Konsolidasi tersebut sejatinya positif bagi pasar kripto karena bisa menjaga stabilitas market dan membangun dasar baru bagi investor untuk menemukan titik-titik harga baru ke depan untuk beberapa aset kripto,” kata Afid sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Senin, 4 April 2022. 

Tekanan pada harga-harga aset kripto pun didorong oleh angka inflasi yang semakin memburuk dan pemungutan suara Uni Eropa tentang undang-undang kripto yang dipandang tidak menguntungkan industri. 

Langkhah tersebut pun dianggap oleh komunitas kripto sebagai penghambat inovasi dan melanggar aspek privasi para pelaku dalam aktivitas transaksi kripto. 

“Olengnya pasar kripto juga pas terjadi setelah Biro Analisis Ekonomi Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data inflasi AS versi PCE pada Kamis kemarin. Beberapa trader kripto memang bereaksi keras terhadap data inflasi, karena terkadang melakukan aksi jual atau cut loss setelah indikator ekonomi dirilis,” papar Afid. 

Menurut Afid, adopsi aset kripto yang sudah mulai marak di beberapa institusi diharapkan bisa menjaga stabilitas pasar. Namun, untuk saat ini, adopsi-adopsi itu belum memberikan pengaruh yang besar. 

Tags: Kripto