Ketegangan Perdagangan AS-China Meningkat, Rupiah Ditutup Melemah 23 Poin
- Menurut data perdagangan Bloomberg, Rabu, 5 Juli 2023, nilai kurs rupiah ditutup melemah 23 poin di posisi Rp15.017 per-dolar AS.

Idham Nur Indrajaya
Author


Karyawan menghitung mata uang Rupiah di salah satu tempat penukaran uang atau Money Changer di kawasan Melawai, Jakarta, Senin, 9 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA - Nilai kurs rupiah ditutup melemah 23 poin pada perdagangan hari ini, Rabu, 5 Juli 2023, seiring dengan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali meningkat.
Menurut data perdagangan Bloomberg, Rabu, 5 Juli 2023, nilai kurs rupiah ditutup melemah 23 poin di posisi Rp15.017 per-dolar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa, 4 Juli 2023, nilai kurs rupiah ditutup menguat 35 poin di level Rp14.995 per-dolar AS.
- Menilik Pesatnya Perkembangan Fintech di Tanah Air
- Mengenal Ubur-Ubur Bluebottle yang Muncul di Parangtritis Saat Musim Liburan
- Freeport Akui Gudang Penyimpanan Sesak, Imbas Belum Keluarnya Izin Ekspor
Menurut analisis Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, menguatnya dolar AS terhadap rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh ketegangan perdagangan AS dan China yang meningkat.
Ketegangan tersebut terjadi setelah importir utama China memblokir ekspor beberapa produk galium dan germanium ke AS. Kedua produk tersebut adalah bahan utama dalam proses pembuatan chip.
"Langkah ini merupakan pembalasan atas tindakan AS untuk memblokir akses China ke teknologi pembuatan chip utama sehingga memicu kekhawatiran atas konflik perdagangan yang lebih besar antara negara dengan ekonomi terbesar di dunia," kata Ibrahim dikutip dari riset harian, Rabu, 5 Juli 2023.
Ibrahim menambahkan, secara khusus, pelaku pasar pun mengkhawatirkan lebih banyaknya gangguan pada rantai pasokan global karena China adalah pengekspor terbesar di dunia.
Selain itu, pelaku pasar pun kini tengah fokus kepada risalah pertemuan The Fed periode Juni 2023 untuk mencari lebih lanjut arah kebijakan suku bunga di AS.
Menurut data CME FedWatchTool, pasar melihat peluang 86,2% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 5,25%-5,5% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2023.
Faktor yang menahan penguatan rupiah pada perdagangan hari ini adalah perkembangan inflasi dan manufaktur dalam negeri yang cukup baik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,52% pada Juni 2023, turun dibandingkan dengan Mei 2023 yang tercatat 4% yoy.
Adapun inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni tercatat sebesar 0,14%. Tingkat inflasi tersebut lebih tinggi ketimbang Mei yang hanya 0,09%. Dikutip dari situs resmi BPS, Senin 3 Juli 2023, inflasi yoy terjadi karena adaya kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.
Sementara itu, purhasing manager index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2023 yang tercatat di level 52,5 (naik dari 50,3 pada bulan sebelumnya) mampu melampaui PMI Manufaktur ASEAN di tingkat 51, Malaysia 47,7, Myanmar ditingkat 50,4. Lalu, Filipina 50,9, Taiwan 44,8, Vietnam 46,2, Jepang 49,8, China 50,5, Korea Selatan 47,8, Inggris 46,2, dan Prancis 45,5.
Merujuk data United Union Statistics Economics, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara manufaktur teratas berdasarkan persentase kontribusi mereka terhadap output manufaktur global. Selain Indonesia, ada negara-negara maju lainnya seperti China, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, India, dan Korea Selatan.
Ibrahim mengatakan, dengan perkembangan inflasi yang cukup terjaga, Bank Indonesia (BI) tampaknya memiliki peluang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
"Namun, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini mempertimbangkan arah kebijakan The Fed yang berpotensi kembali menaikkan suku bunga," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, untuk perdagangan besok, Kamis, 6 Juli 2023, nilai kurs rupiah berpotensi melemah di rentang Rp15.000-Rp15.070 per-dolar AS.
- 6 Strategi Mengatur Keuangan Keluarga dengan Bijak
- Sapi Dianggap Hewan Suci, Lalu Bagaimana Perayaan Iduladha di India?
- Buaya Terbesar di Dunia Ini Diyakini Hidup Bahagia dan Masih Berumur Panjang
Pada perdagangan sebelumnya, kurs rupiah menguat karena didorong oleh PMI manufaktur AS yang melambat.
Data PMI manufaktur AS Juni yang baru saja drilis Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan penurunan dari 46,9 dari Mei menjadi 46 pada Juni 2023.
Level ini merupakan titik terendah dalam tiga tahun terakhir, dan angka yang berada di bawah 50 mengindikasikan kontraksi pada kinerja manufaktur di negeri Paman Sam.

Rizky C. Septania
Editor
