Bursa Saham

Ada Perang Dagang, Saham BBCA, TLKM, ASII hingga WIFI jadi Rekomendasi

  • Ketiga kategori tersebut dianggap memiliki karakteristik yang mampu menghadapi tekanan ekonomi makro dan volatilitas pasar, baik dari sisi stabilitas performa, imbal hasil dividen, maupun potensi capital gain.
IHSG Ditutup Melemah.jpg
Karyawan melintas di depan layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin, 9 Mei 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA — Di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang dagang, sejumlah saham unggulan seperti BBCA, TLKM, ASII, dan WIFI dinilai menjadi pilihan utama. Saham-saham ini termasuk dalam tiga kategori utama yang disorot oleh analis: saham defensif, saham dengan dividen tinggi, dan saham alpha.

Ketiga kategori tersebut dianggap memiliki karakteristik yang mampu menghadapi tekanan ekonomi makro dan volatilitas pasar, baik dari sisi stabilitas performa, imbal hasil dividen, maupun potensi capital gain.

Risiko Perang Dagang Tekan Proyeksi EPS IHSG 2025

Perang dagang global memberikan tekanan signifikan terhadap pasar saham domestik. Dampak yang muncul mencakup risiko penurunan pertumbuhan laba per saham (EPS) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

Lemahnya prospek permintaan akibat daya beli masyarakat yang lesu.

Menyempitnya margin laba karena kenaikan biaya input, khususnya yang berkaitan dengan penguatan dolar AS.

Suku bunga acuan yang tetap tinggi dan belum menunjukkan sinyal penurunan.

Meski demikian, terdapat beberapa perkembangan domestik yang turut meredakan tekanan tersebut. Di antaranya adalah pengumuman pembagian dividen yang lebih tinggi dari bank-bank BUMN pasca pembentukan holding Danantara, serta kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini mengizinkan aksi pembelian kembali saham (buyback) tanpa memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), terutama dalam kondisi pasar yang volatil.

Samuel Sekuritas Pangkas Target IHSG Menjadi 6.900

Dalam riset terbaru, Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menyampaikan bahwa pihaknya menurunkan target dasar IHSG tahun 2025 menjadi 6.900, dari sebelumnya 7.300.

“Meski demikian, kami menurunkan target dasar indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun ini menjadi 6.900 dari sebelumnya 7.300. Ini mencerminkan estimasi PE 2025 sebesar 12 kali atau masih di atas rata-rata regional yang sebesar 11,3 kali,” tulis Prasetya dan tim riset dalam laporan tersebut.

Ia menambahkan, revisi tersebut juga mencerminkan perubahan asumsi terhadap nilai tukar dan pertumbuhan laba.

“Analisis sensitivitas kami menunjukkan bahwa setiap depresiasi rupiah 1% dapat menurunkan earnings IHSG sebesar 1,3%,” ungkapnya.

Tiga Klaster Saham Pilihan: Defensif, Dividen Tinggi, dan Alpha

Samuel Sekuritas mengelompokkan saham-saham unggulan ke dalam tiga klaster utama, yaitu saham defensif, saham dengan dividen tinggi, dan saham alpha. Berikut rinciannya:

Saham Defensif:

Saham-saham dalam kategori ini dianggap stabil dan tahan terhadap tekanan eksternal.

BBCA (Buy, target harga Rp 11.500)

TLKM (Buy, target harga Rp 3.500)

ICBP (Buy, target harga Rp 14.000)

AMRT (Buy, target harga Rp 4.000)

JPFA (Buy, target harga Rp 2.400)

Saham dengan Dividen Tinggi:

Saham yang menawarkan imbal hasil dividen yang menarik.

ASII (Buy, target harga Rp 5.900)

HMSP (Not rated)

UNVR (Buy, target harga Rp 1.400)

PTBA (Buy, target harga Rp 3.200)

TAPG (Buy, target harga Rp 1.200)

Saham Alpha Pilihan:

Saham yang diperkirakan mampu memberikan imbal hasil di atas rata-rata pasar.

BRMS (Buy, target harga Rp 500)

SSMS (Buy, target harga Rp 2.500)

RAJA (Buy, target harga Rp 5.000)

WIFI (Buy, target harga Rp 5.200)

SSIA (Buy, target harga Rp 1.400)

“Saham alpha pilihan merujuk pada saham yang dianggap mampu memberikan return lebih tinggi dari pasar atau indeks acuan, setelah disesuaikan dengan risiko. Biasanya, saham alpha tidak harus defensif atau berdividen tinggi, tapi lebih ke saham dengan potensi capital gain tinggi, meski kadang disertai dengan risiko yang juga lebih tinggi,” tulis riset tersebut.

Di sisi lain, sejumlah saham dinilai berpotensi mencatatkan kinerja lemah pada kuartal pertama 2025. Emiten-emiten tersebut meliputi BBRI, JSMR, MEDC, INCO, AKRA