Warisan Tenun Troso Bawa KAINRATU Tembus Pasar Global Berkat Rumah BUMN BRI
- KAINRATU, UMKM tenun asal Jepara, tembus pasar global berkat inovasi produk dan pendampingan Rumah BUMN BRI. Produk tenun Troso kini dipasarkan hingga Amerika Serikat dan Jepang.

Chrisna Chanis Cara
Author


JEPARA, TRENASIA.ID – Berangkat dari tradisi menenun yang diwariskan turun-temurun di Desa Troso, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, KAINRATU berhasil membuktikan bahwa produk berbasis budaya lokal mampu bersaing di pasar internasional.
Berkat inovasi produk, digitalisasi pemasaran, serta pendampingan melalui Rumah BUMN BRI, UMKM ini kini mengekspor produk tenun ke berbagai negara.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pemberdayaan UMKM tidak hanya memperkuat daya saing pelaku usaha, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kelestarian industri kreatif berbasis budaya Indonesia.
Co-Owner KAINRATU, Maria Leoni, mengatakan usaha yang dirintisnya berawal dari aktivitas sederhana membantu orang tua memasarkan hasil tenun ikat Troso melalui internet.
“Awal mula usaha kami berangkat dari latar belakang keluarga sebagai penenun. Orang tua kami merupakan perajin tenun ikat dan kami tinggal di Desa Troso, Jepara, yang dikenal sebagai sentra tenun ikat,” ujar Maria.
Awalnya pihaknya membantu memasarkan hasil tenun orang tua melalui website gardutroso.com. "Seiring berkembangnya usaha, pada 2019 kami membangun website sendiri melalui tokotenun.com dan kainratu.com hingga berkembang seperti sekarang," kata Maria.
Industri Tenun Troso Terus Berkembang
Desa Troso telah lama dikenal sebagai salah satu sentra tenun terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Jepara, ribuan tenaga kerja menggantungkan hidup pada industri tenun yang memproduksi berbagai motif khas Nusantara, mulai dari Jepara, Kalimantan, Sumba hingga Nusa Tenggara Timur.
Keberadaan industri ini tidak hanya menopang ekonomi lokal, tetapi juga menjadi bagian dari industri ekonomi kreatif nasional yang terus didorong pemerintah sebagai sumber pertumbuhan baru.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebelumnya mencatat subsektor fesyen, termasuk kriya dan tekstil tradisional, merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif Indonesia.
Melihat peluang tersebut, KAINRATU tidak hanya menjual kain tenun, tetapi juga mengembangkan berbagai produk bernilai tambah berupa busana siap pakai, kain premium, hingga layanan desain khusus bagi perusahaan, instansi pemerintah, maupun lembaga pendidikan.
Produk unggulannya antara lain Kain Tenun Double Ikat 3 Dimensi dan Tenun Endek CSM yang mengangkat motif khas berbagai daerah di Indonesia.
Saat ini produk KAINRATU telah dipasarkan ke berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Myanmar, Malaysia, Arab Saudi, Portugal, hingga Selandia Baru.
Selain itu, perusahaan juga membuka program pelatihan menenun serta kunjungan industri sebagai bagian dari edukasi sekaligus pelestarian budaya.
Rumah BUMN BRI Perkuat Kapasitas UMKM
Dalam perjalanan mengembangkan usaha, Maria mengaku mulai mengenal Rumah BUMN BRI setelah melihat aktivitas pembinaan yang dilakukan BRI di daerahnya.
Kesempatan tersebut membawanya mengikuti seleksi BRIncubator, program inkubasi bisnis BRI yang ditujukan bagi UMKM potensial.
"Rumah BUMN BRI telah memberikan banyak manfaat bagi pengembangan usaha kami melalui berbagai pelatihan yang dibawakan mentor berpengalaman. Materi yang diberikan sangat aplikatif dan membantu meningkatkan kapasitas usaha," katanya.
Pendampingan yang diterima mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengembangan produk, strategi branding, pengemasan, pemasaran digital hingga perluasan jaringan bisnis.
Selain memperoleh pelatihan, KAINRATU juga lolos proses kurasi untuk mengikuti BRI UMKM EXPO(RT), sehingga memperoleh kesempatan memperluas promosi sekaligus menjalin hubungan bisnis dengan calon pembeli dari dalam maupun luar negeri.
UMKM Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Peran UMKM dalam perekonomian Indonesia memang sangat strategis. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sektor UMKM menyumbang sekitar lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap sekitar 97% tenaga kerja di Indonesia.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi UMKM masih cukup besar, mulai dari keterbatasan akses pasar, digitalisasi, pembiayaan, hingga peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing secara global.
Karena itu, program pendampingan menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan daya saing pelaku usaha.
Hingga akhir Maret 2026, BRI telah membina 54 Rumah BUMN yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Melalui jaringan tersebut, perseroan telah menyelenggarakan lebih dari 18.000 pelatihan bagi pelaku UMKM sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas bisnis dan memperluas akses pasar.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menilai perjalanan KAINRATU menunjukkan bahwa warisan budaya mampu menjadi kekuatan ekonomi apabila dipadukan dengan inovasi dan pengembangan bisnis yang tepat.
“Perjalanan KAINRATU menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga potensi ekonomi yang mampu bersaing di pasar global,” ujar Akhmad.
Kemampuan memadukan kualitas produk, inovasi, dan pemanfaatan berbagai peluang pengembangan menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing UMKM. "BRI akan terus mendukung pelaku UMKM agar mampu memperluas pasar dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan," kata Akhmad.
Menurutnya, penguatan kapasitas pelaku usaha menjadi bagian penting dari strategi BRI dalam membangun ekosistem UMKM yang lebih tangguh, adaptif, dan berdaya saing di tengah meningkatnya persaingan global.
Melalui kombinasi pelestarian budaya, inovasi produk, serta pemanfaatan teknologi digital, kisah KAINRATU memperlihatkan bagaimana usaha yang berakar dari tradisi lokal mampu berkembang menjadi bisnis yang memiliki daya saing internasional.

Chrisna Chanis Cara
Editor
