Tren Ekbis

Warisan Michael Hartono: BCA Jadi Raja Laba Fortune Indonesia 2026

  • Beberapa bulan setelah Michael Bambang Hartono wafat, BCA memimpin Fortune Indonesia 100 2026 dengan laba bersih Rp57,54 triliun berkat fundamental yang kuat.
Menara BCA.jpeg
Menara BCA di Bundaran HI milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia yang sahamnya digenggam oleh keluarga konglomerat Michael-Robert Hartono / Bca.co.id (Bca.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Beberapa bulan setelah wafatnya Michael Bambang Hartono, salah satu tokoh yang membesarkan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia itu kembali menorehkan prestasi. 

Di tengah tekanan pasar saham, derasnya aksi jual investor asing, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, BCA justru mencatatkan laba bersih terbesar di Indonesia berdasarkan daftar Fortune Indonesia 100 tahun 2026.

Pencapaian tersebut menjadi simbol bahwa fondasi bisnis yang dibangun keluarga Hartono selama puluhan tahun tetap kokoh. 

Michael Bambang Hartono yang meninggal dunia pada 19 Maret 2026 meninggalkan warisan bukan hanya berupa kekayaan bernilai ratusan triliun rupiah, tetapi juga sebuah institusi keuangan yang terus menunjukkan konsistensi dalam menghasilkan keuntungan, menjaga kualitas aset, dan menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Bagi investor, capaian tersebut menarik karena terjadi pada saat harga saham BBCA justru mengalami koreksi tajam sepanjang 2026. Kondisi itu menunjukkan bahwa kinerja fundamental perusahaan tidak selalu bergerak sejalan dengan harga saham dalam jangka pendek. 

Ketika sentimen makro dan arus keluar dana asing menekan valuasi, BCA tetap mampu mempertahankan profitabilitas pada level tertinggi di Indonesia.

Baca juga : Menguat Tipis, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 14 Agustus 2026?

BCA Pimpin Fortune Indonesia 100 2026

Berdasarkan Fortune Indonesia 100 tahun 2026, yang menggunakan kinerja perusahaan sepanjang tahun fiskal 2025, BCA mencatat laba bersih Rp57,54 triliun, tertinggi di antara seluruh perusahaan di Indonesia.

Meski hanya menempati peringkat ke-10 berdasarkan pendapatan, BCA berhasil menjadi perusahaan dengan laba terbesar, mengungguli perusahaan-perusahaan raksasa yang memiliki pendapatan jauh lebih besar.

Berikut lima perusahaan dengan laba bersih terbesar dalam Fortune Indonesia 100 2026:

  • Bank Central Asia (BCA) – Rp57,54 triliun
  • Bank Rakyat Indonesia (BRI) – Rp56,65 triliun
  • Bank Mandiri – Rp56,29 triliun
  • Pertamina – Rp56,23 triliun
  • Astra International – Rp32,77 triliun

Prestasi ini sekaligus menjadi lompatan besar dibandingkan daftar Fortune Indonesia 100 tahun sebelumnya. BCA berhasil mengambil posisi teratas laba bersih yang sebelumnya didominasi Pertamina.

Sementara itu, ambang batas perusahaan untuk masuk ke dalam daftar Fortune Indonesia 100 juga meningkat menjadi Rp12,31 triliun, dibandingkan Rp11,42 triliun pada tahun sebelumnya. 

Secara keseluruhan, total pendapatan 100 perusahaan mencapai Rp6.224 triliun, setara sekitar 26,1% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: ISAT dan INCO Terbang, MAPI Tiarap

Apa Rahasia BCA Konsisten Menjadi yang Terbaik?

Di kalangan analis pasar modal, ada tiga faktor yang hampir selalu muncul ketika membahas keunggulan bisnis BCA. Ketiganya tidak hanya menjelaskan mengapa bank ini mampu mencetak laba jumbo, tetapi juga menjadi pelajaran bisnis yang relevan bagi investor maupun pelaku usaha.

1. Fee-Based Income yang Sangat Kuat

Berbeda dengan banyak bank yang sangat bergantung pada pendapatan bunga kredit, BCA memiliki sumber pendapatan nonbunga (fee-based income) yang besar.

Pendapatan tersebut berasal dari berbagai layanan transaksi seperti transfer, pembayaran digital, kartu debit dan kredit, mobile banking, internet banking, hingga layanan perbankan korporasi.

Karena tidak sepenuhnya bergantung pada margin bunga, laba BCA cenderung lebih stabil ketika suku bunga berubah atau pertumbuhan kredit melambat.

Model bisnis ini membuat pendapatan BCA lebih beragam dan tahan menghadapi berbagai siklus ekonomi.

2. CASA Tinggi, Biaya Dana Sangat Rendah

Keunggulan kedua adalah dominasi dana murah atau Current Account Savings Account (CASA). Sepanjang 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA mencapai Rp1.205 triliun, tumbuh sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 83,6% berasal dari giro dan tabungan atau CASA. Pada kuartal III 2025 bahkan mencapai sekitar Rp999 triliun, tumbuh 9,1% secara tahunan.

Semakin besar porsi CASA, semakin rendah biaya bunga yang harus dibayar bank kepada nasabah. Kondisi tersebut membuat BCA mampu mempertahankan Net Interest Margin (NIM) sebesar 9,42%, salah satu yang tertinggi di industri perbankan nasional.

3. Disiplin Manajemen Risiko

Pilar ketiga adalah disiplin dalam menjaga kualitas kredit. Sepanjang 2025, rasio kredit bermasalah bersih (Net NPL) BCA berada mendekati 0%, mencerminkan kualitas aset yang sangat baik.

Selain itu, rasio efisiensi BOPO sebesar 33,40% menunjukkan biaya operasional perusahaan tetap terjaga, sementara Return on Equity (ROE) mencapai 20,93%, menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari modal pemegang saham berada pada level yang sangat tinggi.

Kombinasi efisiensi, kualitas kredit, dan profitabilitas inilah yang membuat BCA mampu mempertahankan posisi sebagai bank paling menguntungkan di Indonesia.

Baca juga : Meneropong Nasib IHSG Usai Review MSCI Agustus 2026

Dividen Jumbo dan Buyback Saham

Kinerja tersebut turut memberikan ruang bagi BCA untuk meningkatkan imbal hasil kepada pemegang saham. Untuk tahun buku 2025, BCA membagikan dividen tunai Rp336 per saham dengan total nilai sekitar Rp41,3 triliun.

Dividend Payout Ratio (DPR) meningkat menjadi 72%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Dividen tersebut terdiri atas dividen interim sebesar Rp55 per saham yang telah dibayarkan pada Desember 2025 serta dividen final sebesar Rp281 per saham.

Dalam RUPS 2026, BCA juga menyetujui program pembelian kembali saham (buyback) hingga Rp5 triliun, sebagai bentuk keyakinan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan.

Tak hanya itu, BCA memperkenalkan kebijakan baru berupa pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam satu tahun buku, sebuah inovasi yang jarang dilakukan emiten di Indonesia.

Fundamental Kuat, Saham Tetap Ditekan Sentimen Pasar

Ironisnya, fundamental yang sangat solid belum mampu mengangkat harga saham BBCA sepanjang 2026. Harga saham sempat menyentuh Rp4.850 pada 8 Juni 2026, level terendah dalam sekitar satu tahun.

Secara tahunan, saham BBCA terkoreksi sekitar 47%, sedangkan secara year-to-date sempat turun lebih dari 20% sebelum akhirnya mengalami pemulihan menuju kisaran Rp6.325 pada akhir Juli.

Mayoritas analis menilai koreksi tersebut lebih dipengaruhi faktor eksternal seperti foreign outflow, meningkatnya risk premium Indonesia, dan sentimen makroekonomi global dibandingkan penurunan fundamental perusahaan.

Justru dalam kondisi seperti itulah banyak investor institusi asing kembali melakukan akumulasi saham BBCA karena menilai valuasinya semakin menarik dibandingkan kualitas bisnis yang dimiliki.

Di balik seluruh pencapaian tersebut, nama Michael Bambang Hartono tetap menjadi bagian penting dari perjalanan BCA. Bersama adiknya, Robert Budi Hartono, keluarga Hartono mengendalikan mayoritas saham BCA melalui PT Dwimuria Investama Andalan (DIA).

Sebelum wafat, Michael memiliki 49% kepemilikan di PT DIA, dengan nilai sekitar US$11,7 miliar atau sekitar Rp209 triliun.

Kepemilikan tersebut diwariskan kepada empat anaknya dengan estimasi nilai sekitar US$2,93 miliar atau sekitar Rp52,3 triliun untuk masing-masing ahli waris.

Meski terjadi estafet kepemilikan, arah bisnis BCA tidak berubah. Robert Budi Hartono tetap memimpin pengendalian keluarga, sementara generasi kedua melalui Armand Wahyudi Hartono tetap menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur BCA.

Pelajaran bagi Investor Muda

Di tengah volatilitas pasar, kisah BCA menunjukkan jika perusahaan terbaik tidak selalu diukur dari pergerakan harga saham jangka pendek.

Fundamental yang kuat, kemampuan menghasilkan laba secara konsisten, biaya dana yang rendah, serta disiplin dalam mengelola risiko menjadi faktor utama yang membuat BCA mampu bertahan dalam berbagai fase ekonomi.

Bagi investor muda, pelajaran terpenting dari BCA bukan hanya soal memilih saham berkualitas, tetapi juga memahami bagaimana sebuah bisnis dibangun. Perusahaan yang memiliki sumber pendapatan beragam, efisiensi tinggi, dan tata kelola risiko yang baik cenderung lebih mampu menciptakan nilai dalam jangka panjang.

Ketika kondisi pasar berubah dan sentimen datang silih berganti, karakteristik itulah yang membedakan perusahaan biasa dengan perusahaan yang mampu bertahan menjadi pemimpin industri selama puluhan tahun.